Diponegoro, Pangeran Santri Penegak Syariat


Pangeran Diponegoro lahir pada 1785 M. Ia adalah putra tertua Sultan Hamengkubuwono III (1811-1814). Ibunya, Raden Ayu Mangkarawati, adalah keturunan Kyai Agung Prampelan, seorang ulama yang sangat disegani di masa Panembahan Senapati, pendiri kerajaan Mataram. Bila ditarik lebih jauh lagi, silsilahnya sampai pada Sunan Ampel Denta, seorang walisanga dari Jawa Timur. 

Ilustrasi Penangkapan Diponegoro"Sebagai seorang yang berjiwa Islam, ia sangat rajin dan taqwa sekali hingga mendekati keterlaluan" (Louw dalam De Java Oorlog Van 1825 - 1830).

Pada bukunya: Dakwah Dinasti Mataram; Dalam Perang Diponegoro; Kyai Mojo dan Perang Sabil Sentot Ali Basah, Heru Basuki menyebutkan bahwa saat masih kanak-kanak, Diponegoro diramal oleh buyutnya, Sultan Hamengkubuwono I, bahwa ia akan menjadi pahlawan besar yang merusak orang kafir. Heru Basuki mengutip cerita itu dari Louw, P.J.F - S Hage - M nijhoff, Eerstee Deel Tweede deel 1897, Derde deel 1904, De Java Oorlog Van 1825 – 1830 door, hal. 89.

Suasana kraton yang penuh intrik dan kemerosotan moral akibat pengaruh Belanda, tidak kondusif untuk pendidikan dan akhlak Diponegoro kecil yang bernama Pangeran Ontowiryo. Karena itu, sang Ibu mengirimnya ke Tegalrejo untuk diasuh neneknya,  Ratu Ageng di lingkungan pesantren. Sejak kecil, Ontowiryo terbiasa bergaul dengan para petani di sekitarnya, menanam dan menuai padi. Selain itu ia juga kerap berkumpul dengan para santri di pesantren Tegalrejo, menyamar sebagai orang biasa dengan berpakaian wulung.

Bupati Cakranegara yang menulis Babad Purworejo bersama Pangeran Diponegoro pernah belajar kepada Kyai Taftayani, salah seorang keturunan dari keluarga asal Sumatera Barat, yang bermukim di dekat Tegalrejo. Menurut laporan residen Belanda pada tahun 1805, Taftayani mampu memberikan pengajaran dalam bahasa Jawa dan pernah mengirimkan anak-anaknya ke Surakarta, pusat pendidikan agama pada waktu itu. Di Surakarta, Taftayani menerjemahkan kitab fiqih Sirat Al Mustaqim karya Nuruddin Ar-Raniri ke dalam bahasa Jawa. Ini mengindikasikan, Diponegoro belajar Islam dengan serius. (Dr. Kareel A. Steenbrink, 1984, Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke 19, p. Bulan Bintang Jakarta, hal. 29).

Dalam Babad Cakranegara disebutkan, adalah Diponegoro sendiri yang menolak gelar putra mahkota dan merelakan untuk adiknya R.M Ambyah. Latar belakangnya, untuk menjadi Raja yang mengangkat adalah orang Belanda. Diponegoro  tidak ingin dimasukkan kepada golongan orang-orang murtad. Ini merupakan hasil tafakkurnya di Parangkusuma. Dikutip dalam buku Dakwah Dinasti Mataram: "Rakhmanudin dan kau Akhmad, jadilah saksi saya, kalau-kalau saya lupa, ingatkan padaku, bahwa saya bertekad tak mau dijadikan pangeran mahkota, walaupun seterusnya akan diangkat jadi raja, seperti ayah atau nenenda. Saya sendiri tidak ingin. Saya bertaubat kepada Tuhan Yang Maha Besar, berapa lamanya hidup di dunia, tak urung menanggung dosa" (Babad Diponegoro, jilid 1 hal. 39-40). 

Perang Besar

Dalam bukunya, Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke 19, Kareel A. Steenbrink, mencatat, sebagian besar sejarawan menurut Steenbrink meyepakati bahwa perang Diponegoro lebih bersifat perang anti kolonial. Beberapa sebab itu antara lain: 1. Wilayah kraton yang menyempit akibat diambil alih Belanda, 2. Pemberian kesempatan kepada orang Tionghoa untuk menarik pajak, 3. Kekurang adilan di masyarakat Jawa 4. Aneka intrik di istana, 5. Praktek sewa perkebunan secara besar-besaran kepada orang Belanda, yang menyebabkan pengaruh Belanda makin membesar, 6. Kerja paksa bukan hanya untuk kepentingan orang Yogyakarta saja tetapi juga untuk kepentingan Belanda.

Namun menurut Louw, sebab-sebab sosial ekonomis tadi dilandasi oleh alasan yang lebih filosofis yaitu jihad fi sabilillah. Hal ini diakui oleh Louw dalam De Java Oorlog Van 1825-1830, seperti dikutip Heru Basuki: "Tujuan utama dari pemberontakan tetap tak berubah, pembebasan negeri Yogyakarta dari kekuasaan Barat dan pembersihan agama daripada noda-noda yang disebabkan oleh pengaruh orang-orang Barat."

Hal ini tampak dari ucapan Pangeran Diponegoro kepada Jendral De Kock pada saat penangkapannya. "Namaningsun Kangjeng Sultan Ngabdulkamid. Wong Islam kang padha mukir arsa ingsun tata. Jumeneng ingsun Ratu Islam Tanah Jawi" (Nama saya adalah Kanjeng Sultan Ngabdulkhamid, yang bertugas untuk menata orang Islam yang tidak setia, sebab saya adalah Ratu Islam Tanah Jawa). (Lihat, P. Swantoro, Dari Buku ke Buku, Sambung Menyambung Menjadi Satu, (2002).

Kareel A Steenbrink menyebutkan, pemikiran dan kiprah Pangeran Diponegoro menarik para ulama, santri dan para penghulu merapat pada barisan perjuangannya.  Peter Carey dalam ceramahnya berjudul Kaum Santri dan Perang Jawa pada rombongan dosen IAIN pada tanggal 10 April 1979 di Universitas Oxford Inggris menyatakan keheranannya karena cukup banyak kyai dan santri yang menolong Diponegoro. Dalam naskah Jawa dan Belanda, Carey menemukan 108 kyai, 31 haji, 15 Syeikh, 12 penghulu Yogyakarta dan 4 kyai guru yang turut berperang bersama Diponegoro.

Bagi sebagian kalangan,  ini cukup mengherankan. Sebab, pasca pembunuhan massal ulama dan santri oleh Sunan Amangkurat I tahun 1647, hubungan santri dengan kraton digambarkan sangat tidak harmonis. Namun Pangeran Diponegoro yang merupakan keturunan bangsawan dan ulama sekaligus, berhasil menyatukan kembali dua kubu tersebut.

Paduan motivasi agama dan sosial ekonomi ini menyebabkan Perang Diponegoro menjadi perang yang sangat menyita keuangan pemerintah kolonial bahkan hampir membangkrutkan negeri Belanda. Korban perang Diponegoro: orang Eropa 8.000 jiwa, orang pribumi yang di pihak Belanda 7.000 jiwa. Biaya perang 20 juta gulden. Total orang jawa yang meninggal, baik rakyat jelata maupun pengikut Diponegoro 200.000 orang. Padahal total penduduk Hindia Belanda waktu itu baru tujuh juta orang, separuh penduduk Yogyakarta terbunuh.

Data ini menunjukkan dahsyatnya Perang Diponegoro dan besarnya dukungan rakyat terhadapnya. Oleh bangsa Indonesia, Pangeran Diponegoro yang dikenal dengan sorban dan jubahnya, kemudian diakui sebagai salah satu Pahlawan Nasional yang sangat besar jasanya bagi bangsa Indonesia. [Ir. Arif Wibowo - INSIST]

Jokowi: OKI Kutuk Tindakan Israel, Penjajahan di Palestina Harus Diakhiri!


Negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) sepakat bahwa sudah saatnya Palestina memperoleh kemerdekaannya secara utuh. OKI mengutuk keras penjajahan Israel atas Palestina dan meminta untuk segera diakhiri.


"Hari ini pemimpin dunia Islam telah menghasilkan kesepakatan dan rencana aksi kongkret bagi Palestina," kata Jokowi dalam jumpa pers usai penutupan Konferensi Tinggat Tinggi Luar Biasa (KTT LB) OKI di JCC, Senayan, Jakarta, Senin (7/3/2016).

Penjajahan harus diakhiri, solusi dua negara harus direalisasikan:

"Negara-negara OKI mengutuk tindakan Israel. Kami menyerukan pengakhiran penjajahan Israel dan pembentukan negara Palestina atas dasar two state solution," imbuhnya.


Palestina dan Israel:
Kebaikan dan Kejahatan
adalah Sunatullah, 
Keduanya Senantiasa Ada 
Jokowi menuturkan, Palestina merupakan satu-satunya negara anggota Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955 yang hingga kini belum benar-benar merdeka. Meski Palestina telah dinyatakan merdeka pada 1988, namun wilayah Palestina masih diduduki Israel dan belum menjadi anggota PBB.

"Ini adalah upaya bersama untuk meletakan isu Palestina dalam radar dunia. Menyerukan kembali pentingnya kemerdekaan Palestina. Mempersatukan OKI untuk terus mendukung Palestina mendorong peranan negara Islam dalam penyelesaian isu Palestina," tutur Jokowi.

"Palestina telah dideklarasikan kemerdekaannya pada 1988, namun wilayah Palestina masih dalam pendudukan Israel dan Palestina belum menjadi anggota PBB. Pada saat yang sama situasi mengkhawatirkan itu terjadi, ketegangan di Palestina dan al-Quds Al-Sharif, tindak kekerasan dan pelanggaran HAM rakyat Palestina serta pembatasan akses untuk masuk al-Quds," jelasnya. [detik.com].

Tutup KTT OKI, Jokowi: Dunia Islam Memiliki Utang Kemerdekaan Palestina


Hari Senin kemarin, Presiden Joko Widodo resmi menutup gelaran Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (KTT LB OKI) ke-5. Dia mengingatkan negara-negara Islam agar bersatu demi terwujudnya kemerdekaan Palestina. Dilansir dari detik.com, beliau mengatakan: 

"Kembali saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang mulia dan para hadirin sekalian atas kehadiran dan kontribusi aktif dalam KTT ini. Semoga kita dapat bertemu kembali pada KTT OKI di Istanbul bulan April mendatang," kata Jokowi dalam penutupan KTT LB OKI di JCC, Senayan, Jakarta, Senin (7/3/2016).

"Dengan ini, KTT Luar Biasa OKI ke-5 tentang Palestina dan Al-Quds Al-Sharif secara resmi saya nyatakan ditutup. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberkati langkah mulia kita semua," tuturnya.



Jokowi mengatakan, dunia Islam dianggap masih memiliki utang sampai Palestina benar-benar merdeka. Karena itu, kemerdekaan Palestina harus segera diwujudkan.

"Dunia Islam masih memiliki utang kemerdekaan kepada rakyat Palestina. Perjuangan rakyat Palestina adalah perjuangan kita semuanya. Insya Allah, kita dapat menyaksikan kemerdekaan Palestina dalam hidup kita," ujarnya.


Jokowi: Kuatkan Tekanan, Boikot Produk Israel
Dalam jumpa pers usai konferensi, Presiden Joko Widodo menyampaikan masyarakat Internasional hendaknya melalukan boikot terhadap produk Israel ke negara mereka.

"Penguatan tekanan kepada Israel, termasuk boikot terhadap produk Israel yang dihasilkan di wilayah pendudukan. Seluruh negara menyatakan kembali komitmen untuk melindungi al-Quds al-Sharif, antara lain dengan bantuan finansial bagi al-Quds," kata Jokowi dalam jumpa pers usai penutupan KTT LB OKI di JCC, Senayan, Jakarta, Senin (7/3/2016).

Jokowi menyampaikan, negara Islam peserta OKI juga memberikan dukungan untuk dilaksanakannya konferensi perdamaian internasional. Terkait hal ini, Prancis pernah menyatakan berinisiatif untuk mengadakan konferensi tersebut.

"Negara-negara OKI juga mendorong rekonsiliasi Palestina, kesepakatan-kesepakatan itu tercakup dalam dua dokumen Jakarta Declaration," ujar Jokowi.

"Pertama, inisiatif Indonesia yang memuat langkah konkret pimpinan dunia Islam. Kedua, resolusi yang menegaskan komitmen OKI untuk mendukung Palestina dan al-Quds al-Sharif," imbuhnya.

KTT yang berlangsung sejak hari Minggu (6/3) kemarin itu dihadiri oleh 605 delegasi dari 55 negara dan 2 organisasi internasional.


Baca juga: Jokowi: OKI Kutuk Tindakan Israel, Penjajahan di Palestina Harus Diakhiri!

"Kesaktian" Dr. Zakir Naik Membuat Tius Anthonius Masuk Islam


MasyaAllah.. betapa tinggi "kesaktian" Dr. Zakir Naik. Baru sebatas kabar kedatangan beliau ke Indonesia pun telah menjadi salah satu sebab datangnya hidayah Islam kepada saudara Tius-Anthonius.

Melalui sangpencerah.com, diberitakan: (dengan sedikit editing)

Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah, Keluarga Besar Mualaf Center Yogya, kembali bertambah. “Melalui ceramah Syaikh Zakir Naik, aku mengenal Islam”, tutur Tius Anthonius. Selepas shalat dzuhur siang ini (28/2), kembali bertambah keluarga besar Komunitas Mualaf Yogyakarta.




Dihadapan para saksi, team MCY dan Jamaah Masjid Gede Kauman Kraton Yogyakarta, seorang pemuda dengan ikhlas dan ridha tanpa paksaan mengikrarkan dua kalimah syahadat di bimbing oleh Ustadz Asman Latief.



Kabar kedatangan Syaikh Zakir Naik ke Indonesia membuat heboh masyarakat Indonesia dan tak terkecuali para netizen, dan itu membuat saudara baru kita Tius menjadi ingin mengetahui siapa itu Dr. Zakir Naik. Dari youtube info itu di dapat, dipelajari dan dimengerti tentang Islam melalui ceramah-ceramah Syaikh Zakir Naik, hingga membuat hidayah itupun menyapanya, dan siang ini ia pun mengikrarkan dua kalimah syahadat, Alhamdulillah.

Saudaraku Fillah, Mari kita doakan beliau semoga kelak menjadi muslim yang kafah dan istiqomah, Aamiin. (sp/ mualafcenter).

- - - - - - -


Kabar sangat baik lainnya juga datang dari majelis dzikir masjid Az Zikra Sentul Bogor, yang dipimpin KH. Muhammad Arifin Ilham, dimana pada hari ahad kemarin (6/3/16), telah bertambah tiga orang muslimah, bersyahadat memeluk agama Islam. Yaitu saudari Margaretha Melissa Oentoro (24) mahasiswi Universitas Pelita Harapan dengan nama Islam Fitria Zuhdah, saudari Wahyu Sulastri (47) dan Warni (50) dengan nama Islam Siti Latifah. 


Hanny  Kristianto, Fitria diapit papi-maminya, ustadz Arifin Ilham dan ustadz Huda

Allahu Akbar, ketiganya memperoleh hadiah umroh dari jamaah dzikir yang menyaksikan dengan rasa haru. Alhamdulillah kini bertambah lagi saudara saudari muallaf kita menjadi 626 muallaf, insyaAllah terus dan terus Allah gembirakan kita dengan banyaknya muallaf, tulis ustadz Arifin Ilham di akhir posting-nya.

Video Bagus Pekan Ini



Dua buah video yang mengesankan di akhir pekan :)


Qari Fatih Seferagic menjadi Imam Shalat Isya di Masjid Nueces,
Austin Texas, ketika berkunjung ke Universitas MSA Texas


Fatih Seferagic hafizh 30 Juz Al-Quran. Dirinya berkebangsaan Bosnia, lahir di Stuttgart, Jerman dan sekarang menetap di Texas, Amerika Serikat. 

Pada umur 4 tahun ia bersama keluarganya pindah ke Amerika Serikat, di Arizona selama 3-4 tahun sebelum akhirnya menetap di Baltimore, Maryland selama 7 tahun dimana ia memulai dan menuntaskan hafalan Al-Qur'an.

Tinggal di negara yang mayoritas penduduknya adalah kafir tidak membuat Fatih Seferagic menjadi sebagaimana anak muda kebanyakan yang ada di negara adidaya tersebut. Di lingkungan yang penuh kemaksiatan seperti di Amerika Serikat, dirinya mampu menjadi sosok penghafal Al-Qur'an dan menjadi guru untuk hal itu. 


x
x
x


xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


Wanita Muallaf Inggris Ini Langsung Masuk Surga!


Umur tak dapat diduga, akhir kehidupan siapa tahu. Demikian pula seorang ibu, Virginia Duffy (73) di Inggris ini, tanpa disangka ia meninggal dunia sekitar 10 jam setelah memeluk agama Islam. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.

Diantara duka cita, namun sebenarnya ia sangat beruntung.
Sangat beruntung karena ia sudah 73 tahun (1942 - 2016), menikmati kehidupan dunia. Sangat beruntung karena komunitas Islam di Inggris begitu perhatian. Dalam sekejap, masyarakat Muslim di London merespon pesan media sosial dari kedua anaknya yang juga baru saja memeluk Islam. Mereka berbondong-bondong hingga sekitar 700-800 orang menghadiri pemakamannya, di Ilford London, meski sebelumnya mereka tidak saling kenal sedikit pun. Subhanallah, ini patut menjadi teladan.


Suasana Pemakaman Muallaf Virginia Duffy. (ilmfeed.com)

Sangat beruntung karena insyaAllah ia pada saatnya nanti akan langsung masuk surga, karena ia baru saja "born again" dalam Islam (sehingga dosanya nol), dan semua kebaikan sebelum Islam tetap ia dapatkan.

Sesungguhnya Islam itu menghapus dosa-dosa sebelumnya”.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu anhu (ketika ia akan masuk Islam dengan meminta syarat agar diampuni seluruh dosa-dosanya), “Apakah engkau belum tahu bahwa sesungguhnya Islam itu menghapus dosa-dosa yang dilakukan sebelumnya, hijrah itu menghapus dosa-dosa sebelumnya, dan haji itu menghapus dosa-dosa sebelumnya?” [HR. Muslim: Kitabul Iman (no. 121) dari ‘Amr bin al- ‘Ash radhiyallahu anhu].

Juga firman Allah Subhanahu Ta'ala: “Katakanlah kepada orang-orang kafir itu, (Abu Sufyan dan kawan-kawannya saat itu), ‘Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang telah lalu; dan jika mereka kembali lagi (memerangi Nabi), sungguh akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang terdahulu (dibinasakan).” [Al-Anfaal: 38].

Demikian juga disebutkan dalam sebuah hadits bahwa bila jenazah dishalatkan oleh 40 orang muwahhid (yang mengesakan Allah, tak berbuat syirik), maka doanya akan dikabulkan: Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhu bahwa beliau mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang muslim meninggal dunia lantas dishalatkan (shalat jenazah) oleh 40 orang yang tidak berbuat syirik kepada Allah sedikit pun melainkan Allah akan memperkenankan syafa’at (do’a) mereka untuknya.” (HR. Muslim no. 948).

“Islam itu menghimpun semua amal kebaikan yang pernah dilakukan seseorang ketika ia belum masuk Islam.


Dari Hakim bin Hizam radhiyallahu anhu, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau memandang perbuatan-perbuatan baik yang aku lakukan sewaktu masa Jahiliyyah seperti shadaqah, membebaskan budak atau silaturahmi tetap mendapat pahala?” Maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Engkau telah masuk Islam beserta semua kebaikanmu yang dahulu.” [HR. Al-Bukhari, Kitab Zakat (no. 1436, 2220, 2538, 5992) dan Muslim dalam Kitabul Iman (no. 123), dari Shahabat Hakim bin Hizam radhiyallahu anhu].

> "Born Again" dalam Islam

Lima Pimpinan Gereja (pendeta) Ini Intoleran!


Belum reda rasa sakit akibat penyerangan dan pembakaran masjid di Papua pada hari yang semestinya penuh kegembiraan (Hari Raya Idul Fitri, Jumat/17/7/15), kali ini oknum lima pendeta mengatasnamakan Pimpinan Persekutuan Gereja-gereja Jayawijaya (PGGJ) menunjukkan sikap intoleran dengan modus operandi mirip dengan oknum pendeta GIDI. 

Kelima pendeta ini adalah: 1). Pdt. Abraham Ungirwalu, STh; 2). Pdt. Timotius Alex; 3). Pdt. Alberth Yappo; 4). Pdt. Matius Gombo, dan 5). Pdt. Zakarias Kogoya.

Mereka membuat pernyataan sikap melalui surat resmi bertanggal 25 Februari 2016, yang berisi 9 pernyataan sikap intoleran mereka, sebagai berikut:
  1. Seluruh denominasi gereja di kabupaten Jayawijaya meminta Pemda Jayawijaya mencabut/ membatalkan ijin mendirikan masjid Agung Baiturahman Wamena.
  2. Panitia pembangunan masjid Agung harus menghentikan pekerjaan pembangunan. 
  3. Menutup mushola/ masjid yang tidak memiliki ijin bangunan. 
  4. Dilarang pembangunan mushola atau masjid baru di Kabupaten Jayawijaya. 
  5. Dilarang menggunakan toa/ pengeras suara saat sholat, karena sangat mengganggu ketenangan dan kenyamanan masyarakat. 
  6. Dilarang menggunakan busana ibadah, jubah dan jilbab di tempat umum. 
  7. Hentikan upaya menyekolahkan anak-anak Kristen Papua di Pesantren. 
  8. Hentikan mendatangkan guru guru kontrak non Kristen. 
  9. Demi keharmonisan kenyamanan, dan keamanan agar dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab.


Melalui cakrawarta.com, diketahui kronologisnya sebagai berikut:

Pemerintah Serius Tangani Kasus Pelarangan Pembangunan Masjid di Jayawijaya Papua

SURABAYA - Sepekan ini, netizen dihebohkan dengan beredarnya foto dan surat pelarangan pembangunan Masjid Baiturrahman Wamena oleh sekelompok masyarakat yang mengatasnamakan pimpinan persekutuan gereja-gereja Jayawijaya setempat.


Tentu saja hal sensitif seperti ini memunculkan spekulasi hingga tuduhan hoax (kabar burung) dengan tujuan mengadu domba antar elemen umat beragama.


Ternyata hasil penelusuran tim cakrawarta.com kabar tersebut bukanlah kabar burung melainkan fakta. Berdasarkan data yang redaksi kumpulkan dari pihak Kementerian Agama RI di Jakarta hingga daerah di Papua ada beberapa fakta yang bisa disajikan.


Hasil komunikasi dengan Kanwil Kementerian Agama dan Kepala Sub Kerukunan Umat Beragama, pernyataan itu benar. Positifnya adalah, saat ini telah dilakukan langkah-langkah penyelesaian melalui pertemuan. Menurut rencana, Senin (29/2/2016), pihak Kanwil Kementerian Agama setempat akan menerima pihak pembuat surat pernyataan PGGJ (Persekutuan Gereja-Gereja Jayawijaya).


Berikut kronologis munculnya pernyataan sikap PGGJ Jayawijaya untuk diketahui publik luas sehingga bisa menjadi bahan pegangan informasi:

Pada Minggu (21/2/2016) seluruh Gereja di wilayah Wamena (kecuali Katolik) mengumumkan bahwa pada tanggal 25 Februari 2016 akan dilaksanakan aksi demonstrasi besar-besaran di Kantor DPRD dan Kantor Bupati, dalam rangka menolak pembangunan atau rehabilitasi Masjid Baiturrahman Yapis Wamena.


Pada 22 Februari 2016 pkl 09.00 WIT di Kantor Bupati, dilaksanakan Rapat Forkopimda dipimpin Wakil Bupati Jayawijaya untuk merumuskan langkah-langkah guna mencegah aksi demonstrasi.


Pada 22 Februari 2016 pkl 15.00 WIT, pihak Dandim dan Kapolres memanggil perwakilan Pimpinan Gereja ke Mapolres, agar pihak Gereja membatalkan rencana demonstrasi karena akan berdampak negatif terhadap situasi nasional.

Pada 23 Februari 2016 di Gedung Ukuimierekasso, dilaksanakan pertemuan Persatuan Gereja-Gereja Jayawijaya (PGGJ) dan disepakati rencana demonstrasi dibatalkan dan dialihkan dengan penyampaian aspirasi dan pernyataan sikap kepada Forkopimda pada 25 Februari 2016.

Pada 25 Februari 2016 pkl 12.00 WIT di Gedung Ukuimierekasso, dilaksanakan penyampaian aspirasi dan pernyataan sikap oleh PGGJ meliputi 9 poin tuntutan. Bupati Jayawijaya menjawab bahwa aspirasi tersebut diterima dan akan dijawab 1 minggu kemudian setelah dilaksanakan rapat khusus oleh Forkopimda.


Pada 25 Februari 2016 pkl 14.00 WIT di ruang rapat Bupati dilaksanakan rapat Forkopimda dan diambil keputusan bahwa tuntutan poin 1 dan 2 untuk mencabut IMB Masjid serta permintaan Panitia untuk menghentikan aktfitas pembangunan dianggap tidak mendasar, sehingga pembangunan tetap dilanjutkan. Keputusan akan diumumkan secara resmi 1 minggu kemudian. Sedangkan poin 3 sampai dengan 9 tidak dibahas karena sudah diatur dalam UU dan Peraturan Negara.


Akhirnya, Kabinda Papua melaksanakan Rapat Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di Kanwil Kementerian Agama Papua, yang intinya menolak adanya pernyataan sikap PGGJ karena mengandung unsur provokatif dan berpotensi memicu konflik sosial di masyarakat dan meminta Bupati Jayawijaya segera menemukan solusi damai atas permasalahan dimaksud.


Pihak Binda Papua bersama jajaran Kominda terus melaksanakan deteksi dini dan antisipasi adanya upaya provokatif oleh kepentingan yang memanfaatkan sikap PGGJ Jayawijaya, untuk memicu konflik sosial (SARA) di masyarakat dan instabilitas wilayah Papua khususnya di Kabupaten Jayawijaya.


Binda Papua juga mendorong Pemda Jayawijaya agar memfasilitasi pertemuan dengan para tokoh di Jayawijaya agar solusi damai atas masalah ini segera ditemukan. (ibd/bti) 


Dr. Zakir Naik akan Datang ke Indonesia


Dr. Zakir Naik, pembicara dan ilmuwan Islam ternama dunia, insyaAllah akan akan datang ke Indonesia. Beliau akan menjadi pembicara dalam sebuah talkshow atau seminar yang diadakan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Dr. Zakir Naik diagendakan akan mengisi talkshow "Comparative Religion" April mendatang. Talkshow ini merupakan rangkaian dari suatu acara di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang bertemakan "Shining Beyond Borders" atau Bersinar Menembus Batas. Dari laman www.umy.ac.id, talkshow ini akan diselenggarakan pada tanggal (2/4/2016), di UMY dan terbuka untuk masyarakat umum.


Dr Zakir Naik yang dinantikan (gambar: mahasiswanews.com)

Rencana kedatangan ulama kelahiran Mumbai, India (18 Oktober 1965), ini tentu saja sangat menarik perhatian banyak orang yang kagum akan sosok yang selama ini telah banyak dikenal melalui berbagai videonya di Youtube. Selain ceramahnya yang memukau, daya tarik utama Dr. Zakir Naik terletak pada kemampuan da’i ahli perbandingan agama ini dalam menjawab berbagai pertanyaan dari non-muslim. Mulai dari pertanyaan orang yang sedang mencari kebenaran, mengujinya, maupun mendebatnya.


Lima Fakta tentang Dr. Zakir Naik

Pertama, secara profesi, ia adalah seorang dokter medis, memperoleh gelar Bachelor of Medicine and Surgery (MBBS) dari Maharashtra, tapi sejak 1991 ia telah menjadi seorang ulama yang berkecimpung dalam dakwah Islam dan perbandingan agama. Ia menyatakan bahwa tujuannya ialah membangkitkan kembali dasar-dasar penting Islam yang kebanyakan remaja Muslim tidak menyadarinya atau sedikit memahaminya dalam konteks modernitas.

Kedua, Dr. Zakir Naik memiliki kemampuan hafalan yang sangat kuat. Beliau seorang yang hafidzh atau hafal Al-Qur’an, Hadits Shahih Bukhari dan Muslim, dan juga menguasai kitab Weda, Tripitaka, Bhagavad Gita, dan tentu saja Alkitab/ Bibel.

Dengan penguasaan ilmu yang sangat luas ini, maka berbagai acara talkshow-nya, selalu dihadiri oleh ribuan orang yang tidak hanya beragama Islam, tetapi juga Hindu, Budha, Kristen, dan bahkan Ateis. Siapapun dan apapun pertanyaannya akan dia jawab dengan sempurna. Ketika diberi pertanyaan, ia selalu mengawali jawabannya dengan memuji pertanyaan yang dilontarkan penanya, lalu menjawab dengan sistematik.

Dr. Zakir Naik menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara mendasar, kemudian diikuti dengan pengandaian-pengandaian yang mudah ditangkap akal sehat, dan tak lupa disertai dengan dalil-dalil yang lebih meyakinkan para penanya. Seringkali dalam berbagai talkshow, ia tanpa ragu-ragu mengoreksi lawan bicaranya bila mereka salah dalam mengutip ayat-ayat dari kitab mereka sendiri. Beliau telah menggerakkan hati ribuan penganut Hindu di India, maupun lainnya menjadi pemeluk Islam.


Ceramah dari Dr Zakir Naik yang selalu dipadati peserta

Ketiga, Dr. Zakir Naik yang merupakan pendiri dan presiden dari Yayasan Riset Islam, Islamic Research Foundation (IRF) ini, pada 2015 lalu menerima penghargaan dari pemerintah Arab Saudi dalam ajang Hadiah Internasional Raja Faisal (KFIP). Tak hanya mendapatkan sertifikat dan medali emas, beliau juga berhasil mendapatkan uang sebesar 200 ribu dolar AS atau setara dengan Rp 2,6 miliar. Seluruh uang tersebut ia sumbangkan untuk mengembangkan Peace TV yang ia dirikan.

Keempat, Dr. Zakir Naik mempunyai tokoh yang menjadi inspirator dirinya, yakni Ahmed Deedat. Namun, Dr. Zakir Naik tidak memiliki banyak agenda Debat Terbuka layaknya Ahmed Deedat karena hampir semua tantangan debat yang dilayangkan oleh Dr. Zakir Naik tidak mendapat respon dari gereja-gereja, bahkan sampai sekarang belum ada berita apakah ada pendeta yang berani berhadapan langsung dengan beliau atau tidak. Oleh karena itu, Dr. Zakir Naik dijuluki “Ahmed Deedat Plus” karena telah membuat para pastur dan pendeta merasa ngeri berhadapan dengan beliau yang argumentasinya belum pernah terpatahkan.


Dr Zakir Naik dan Fariq Naik

Kelima, Dr. Zakir Naik sudah menyiapkan Naik Junior, yaitu Fariq Naik, anaknya. Umurnya baru 21 tahun, telah menyelesaikan levelnya (CIE, UK), di Islamic International School Junior College, Mumbai, India. Sudah hafidzh Al-Qur’an sejak berumur 13 tahun. Dan sejak umur 8 tahun, dia sudah terbiasa dengan perjalanan dakwah ayahnya. Fariq juga mulai memberikan ceramah singkat dalam bahasa Inggris dan Arab di depan ribuan orang di Chennai, Pune, Dubai, Italia, Trinidad dan kota-kota lain di dunia. Pada tahun 2003 di usia 9 tahun, dia telah menangani audiens yang jumlahnya lebih dari 50.000 orang di Srinagar dan audiens yang lebih besar di Hyderabad pada tahun 2006 pada usia 12 tahun.

Sumber:
http://www.mahasiswanews.com/2016/02/april-2016-dr-zakir-naik-akan-talkshow.html
https://www.nahimunkar.com/siapa-dr-zakir-naik-sebenarnya/
http://www.arrahmah.com/news/2016/01/09/mengenal-fariq-naik-pendakwah-muda-berprestasi-putra-dr-zakir-naik.html

Kumpulan Ceramah Dr Zakir Naik (bahasa Indonesia) bisa didapatkan di: 

Ta'ashub (Fanatik Buta) Sumber Kehancuran!


Dari ‘Amr bin Dinar rahimahullah dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu 'anhu, ia berkata:


كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فِى غَزَاةٍ فَكَسَعَ رَجُلٌ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ رَجُلاً مِنَ الأَنْصَارِ فَقَالَ الأَنْصَارِىُّ يَا لَلأَنْصَارِ وَقَالَ الْمُهَاجِرِىُّ يَا لَلْمُهَاجِرِينَ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا بَالُ دَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَسَعَ رَجُلٌ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ رَجُلاً مِنَ الأَنْصَارِ. فَقَالَ « دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ » 

”Dahulu kami pernah bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di Gaza, Lalu ada seorang laki-laki dari kaum Muhajirin yang memukul pantat seorang lelaki dari kaum Anshar. Maka orang Anshar tadi pun berteriak: ‘Wahai orang Anshar (tolong aku).’ Orang Muhajirin tersebut pun berteriak: ‘Wahai orang muhajirin (tolong aku).’ Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: ‘Seruan Jahiliyyah macam apa ini?!.’ Mereka berkata: ‘Wahai Rasulullah, seorang muhajirin telah memukul pantat seorang dari kaum Anshar.’ Beliau bersabda: ‘Tinggalkan hal itu, karena hal itu adalah buruk.’” (HR. Al-Bukhari dan yang lainnya)

Hadits di atas adalah salah satu dalil tentang terlarangnya Ta’ashub terhadap kelompok, dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengkategorikannya sebagai seruan Jahiliyah. Lalu apa makna Ta’ashub, macam-macamnya, bahaya dan sikap Islam terhadapnya? Mari kita simak pembahasan berikut.


Definisi Ta’ashub (Fanatik Buta)


Secara bahasa, kata Ta’ashub memiliki banyak makna, di antaranya, keras, mengikat, berkumpul mengelilingi sesuatu dan menolongnya. Dari makna inilah kita mengenal kata ‘Ashobah (dalam ilmu waris), yaitu kerabat dari jalur bapak. Orang-orang Arab menamakan kerabat seseorang sebagai ‘Ashobah karena ia mengelilinginya dan menolong serta membelanya. Ta’ashub berasal dari ‘Ashobiyyah, dan ‘Ashobiyyah adalah seseorang membela/ menolong kerabatnya dan bergabung bersama mereka menghadapi orang yang memusuhi mereka, baik kerabat tersebut zhalim ataupun terzhalimi. Dan ‘Ashobiy adalah orang marah karena ‘Ashobahnya (kerabat) dan membela mereka.

Secara istilah, kata Ta’ashub dalam makna secara istilah tidak keluar dari makna secara bahasa. Maka Ta’ashub adalah sikap keras dan mengambil sesuatu dengan keras, dan kasar dan tidak mau menerima pendapat orang yang berbeda pendapat dengannya dan menolaknya serta enggan mengikutinya sekalipun benar. Demikian juga Ta’ashub berarti membela kaumnya, kelompoknya atau orang yang satu keyakinan dengannya, tidak peduli apakah orang yang dibela tersebut benar atau salah, dan apakah yang dibela itu zhalim atau terzhalimi.


Bentuk-Bentuk Ta’ashub:


Ta’ashub Hizbi (Fanatik Golongan)

Yaitu sikap fanatik terhadap kelompok, atau golongan, atau perkumpulan yang seseorang berafiliasi (menisbatkan diri) kepadanya, dan membelanya baik kelompok tersebut benar atau salah. Demikian juga dengan mensifati kelompok atau golongannya tersebut dengan kesempurnaan, kesakralan dan terjaga dari kesalahan, serta menyebutkan kelebihan-kelebihannya dan menyerang selain golongannya dengan menyebutkan cacat dan keburukan mereka. Dan juga dengan mengagungkan kelompoknya dan merendahkan selainnya.

Ta’ashub Qaumi (Fanatik Suku)
Yaitu membela suku yang ia menisbatkan diri kepadanya dan ia berasal darinya, hanya karena kesukuan semata, sebagaimana yang terjadi pada bangsa Turki di akhir-akhir Khalifah Utsmaniyah, dan seperti yang terjadi di sebagian kabilah-kabilah Arab. Dan terkadang hal tersebut menyebabkan peperangan antar suku atau antar negara, dan bahkan kerap terjadi peperangan (tawuran) antar suku di dalam satu negara.

Ta’ashub Madzhabi (Fanatik Madzhab)

Fanatisme ini yang telah memecah belah kaum Muslimin, dan menjadikan mereka memiliki empat mimbar di Mekah (Masjidil Haram), di sekitar Ka’bah di masa lalu (di zaman keterpurukan fikih). Saat itu seorang yang bermadzhab Syafi’i melarang seseorang shalat di belakang imam yang bermadzhab Hanbali, orang yang bermadzhab Hanbali melarang seseorang shalat di belakang imam yang bermadzhab Maliki dan seterusnya. Dan fanatisme tersebut telah menjadikan pintu ijtihad tertutup. Dan tidak jarang terjadi permusuhan dan perkelahian yang disebabkan oleh perbedaan madzhab antara dua orang teman, anak dan orang tua dan bahkan antara suami dan isteri.

Tamyiz ‘Unshuri (Membeda-bedakan Keturunan/Asal-usul)
Hal itu bisa disebabkan karena jenis kelamin, seperti mengistimewakan golongan laki-laki di atas perempuan dalam hal-hal yang tidak ada dalilnya dalam syari’at, atau karena warna kulit, seperti mengistimewakan warna kulit putih di atas kulit hitam, atau karena negeri tertentu atau penduduk tertentu seperti membeda-bedakan antara imigran dengan penduduk asli, antara penduduk asli dan pendatang dan seterusnya, atau mengistimewakan kabilah tertentu dan merendahkan yang lain.

Ta’ashub Fikri (Fanatik Pemikiran)

Yaitu menolak pemikiran yang lain, tidak menerima dan mendengarkannya, serta enggan bersikap netral dan pertengahan dalam menghukumi pemikiran tersebut. Demikian juga bersikap keras dalam berinteraksi dengannya, mengkritiknya dengan sangat pedas. Dan membuatkan rupa dan bentuk tertentu untuk pemikiran yang berseberangan dengan gambaran yang telah bercampur dengan banyak kesalahan dan kekeliruan, karena hal itu dibangun di atas pondasi fanatisme.

Dan masih banyak lagi bentuk-bentuk Ta’ashub yang ada di masyarakat, ada yang fanatik terhadap kyainya, ustadnya, pondoknya dan lain-lain. Dan bahkan akhir-akhir ini kita melihat para pelajar yang saking fanatiknya terhadap sekolahnya, mereka rela “mempertahankan” sekolahnya dengan “mengorbankan” harta dan nyawa mereka. Seandainya saja fanatik dan kebanggaan mereka terhadap sekolah mereka diwujudkan dengan kegiatan-kegiatan positif yang menjadikan sekolah mereka dikenal dengan prestasinya tentu hal itu lebih baik dan itulah yang diharapkan oleh orang tua, sekolah, masyarakat dan negara.


Sebab-sebab Ta’ashub


1. Percaya Diri yang Berlebihan
Seperti perkataan Fir’aun (yang diabadikan dalam al-Qur’an):


…. مَآأُرِيكُمْ إِلاَّ مَآأَرَى وَمَآأَهْدِيكُمْ إِلاَّ سَبِيلَ الرَّشَادِ {29}

… Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukan kepadamu selain jalan yang benar. (QS. Ghafir/ al-Mu’min: 29)

Perasaan seperti ini terkadang dimiliki oleh pribadi, atau kelompok atau bangsa.

2. Kebodohan dan Keterbelakangan Wawasan
Ketidaktahuan (bodoh) terhadap sesuatu yang ada pada orang lain dan sempitnya wawasan untuk mengetahui dan mengenalinya secara mendalam menjadikan seseorang bersikap fanatik dalam melawan dan menolaknya. Dan cukuplah kita mengatakan: ”Sesungguhnya permusuhan terhadap Islam pada hari ini, dan serangan terhadapnya yang dilakukan oleh sebagian bangsa Barat, adalah disebabkan karena bodohnya mereka dengan dasar-dasar (prinsip-prinsip) Islam, dan ketidaktahuan mereka tentang hakekat Islam yang sebenarnya. Dan ini ditambah dengan perusakan citra Islam, dan pelemparan syubhat-syubhat yang dilakukan oleh sebagian media komunikasi, baik secara sengaja maupun tidak disengaja.”

3. Pengkultusan Individu dan Sikap Ghuluw (Ekstrim) Terhadapnya

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

اِتَّخَذُوْا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُوْنِ اللهِ … {31}

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah, … (QS. At-Taubah: 31).

Sikap pengkultusan dan ghuluw ini terkadang sampai kepada batas memberikan sifat ma’shum (terjaga dari dosa) dan kesucian kepada seseorang. Suatu hak yang menyebabkan sikap Ta’ashub (fanatik) terhadap syaikh Anu, ustadz Anu, kyai Fulan, jama’ah Anu dan lain-lain.

4. Tertutup dan Wawasan yang Sempit

Kita dapati kebanyakan kelompok dan perkumpulan bersifat tertutup, tidak meyebarkan sesuatu kecuali untuk anggotanya saja, dan melarang pengikutnya untuk mendengar dari kelompok lain. Dan kebanyakan pemikiran yang menyimpang dan fanatik tumbuh dalam pemikiran-pemikiran yang bersifat rahasia (sir), bawah tanah, dan lingkungan yang tertutup serta menganggap salah terhadap kelompok selain mereka. Dan tidak jarang mereka mengkafirkan kelompok lain, ini jika fanatik tersebut kepada kelompok keagamaan.

5. Pendidikan Keluarga yang Salah

Tumbuh di keluarga yang membeda-bedakan warna kulit, atau bangsa, atau suku, atau kelompok, atau pemikiran dan pemberian semangat fanatisme dan sikap ekstrim akan menghasilkan manusia-manusia yang fanatik, tertutup, dan ekstrim. Keluarga adalah benih masyarakat, dan dampak pendidikan keluarga pasti nampak terlihat di masyarakat tersebut, dan terkadang dampak pendidikan yang salah tersebut mendominasi perilaku masyarakat, yang akhirnya muncullah masyarakat yang fanatik dengan kelompoknya dan tertutup dari masyarakat lain.

6. Pemahaman Agama yang Salah

Tidak diragukan lagi bahwa penyimpangan/kesalahan dalam memahami agama merupakan salah satu sebab yang inti. Maka dari itu, fanatisme Nashrani dalam memusuhi Islam juga disebabkan karena pemahaman yang salah terhadap dasar-dasar agama Nashrani itu sendiri. Demikian juga fanatik Madzhab yang berakibat pada penolakan terhadap madzhab lain di dalam Islam merupakan hasil dari pemahaman yang salah di dalam mengikuti/meneladani para Ulama.

7. Hilangnya Akhlak dalam Berinteraksi dengan Orang yang Berbeda Pendapat dengan Kita.

Seperti (hilangnya) sikap adil, pertengahan, netral, dalam hidup berdampingan dengan orang lain yang berbeda pendapat, yang semestinya memujinya jika “lawan” kita benar, membelanya jika ada orang menzhaliminya atau menganiayanya tanpa hak dan sikap-sikap lain yang termasuk akhlak dalam berbeda pendapat yang akan kita sebutkan insya Allah pada point tentang sikap Islam dalam memandang Ta’ashub.


Dampak Ta’ashub


Semua yang telah kami sebutkan pada pembahasan yang lalu, yaitu tentang fenomena-fenomena Ta’ashub yang tercela adalah di antara dampaknya. Maka Ta’ashub adalah sebab inti dari perpecahan umat ini, bercerai berainya mereka, dan tidak bersatunya mereka. Dan Ta’ashub juga termasuk sumbu fitnah dan permusuhan di antara kelompok, golongan atau suku dalam satu negara dan satu ummat, yaitu umat Islam. Demikian juga Ta’ashub adalah sebab penolakan terhadap orang atau kelompok lain, penolakan untuk hidup rukun dan berdampingan dengan mereka.


Sikap Islam Terhadap Ta’ashub

Islam datang untuk memerangi semua bentuk Ta’ashub. Hal itu nampak dari hal-hal berikut:

1. Dalam Islam, bani Adam (manusia) adalah makhluk yang dimuliakan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِى ءَادَمَ …{70}

”Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, ...” (QS. Al-Isro': 70)


Dan Allah berfirman:

يَآأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لتعارفوا … {13}

”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal...” (QS. Al-Hujuraat: 13).

Maka tak ada kelebihan/ keunggulan orang Arab di atas orang ‘Ajam (non Arab), tidak pula orang berkulit merah di atas kulit hitam, kecuali dengan ketakwaan sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada kita.

2. Islam memerintahkan kita berlaku adil dan bersikap pertengahan, Dia berfirman:


إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ {90} 

”Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. an-Nahl: 90).


3. Setiap tolong-menolong dalam perbuatan dosa diharamkan di dalam Islam. Dia berfirman:

… وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَتَعَاوَنُوا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ … {2}

”… Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. …” (QS. Al-Maa’idah: 2).

4. Islam mensyari’atkan dan memerintahkan saling membela antar orang-orang yang beriman di dalam al-Haq (kebenaran) dan dalam menolak kezhaliman. Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ … {71}

”Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, ...” (QS. At-Taubah: 71).


Dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:


انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْصُرُهُ إذا كان مَظْلُومًا فَكَيْفَ أَنْصُرُهُ إن كان ظَالِمًا؟ فقال تحجره أو تمنعه من الظلم فإن ذلك نصره

”Tolonglah saudaramu baik dia dalam keadaan berbuat zhalim (aniaya) atau dizhalimi.” Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, aku menolongnya jika ia dalam keadaan dizhalimi, lalu jika ia berbuat zhalim bagaimana aku harus menolongnya? Beliau bersabda: ”Halangilah atau cegahlah dia dari berbuat zhalim, itulah bentuk pertolongannya.” (HR. Muslim).

Dan beliau shallallahu 'alaihi wasallam juga bersabda:


."من نصر قومه على غير الحق فهو كالبعير الذي ردى فهو ينزع بذنبه "

”Barang siapa yang menolong/ membela kaumnya tidak di atas kebenaran, maka ia seperti onta yang terjatuh ke sumur dan diangkat dengan menarik ekornya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

5. Di dalam Islam landasan atau dasar dalam mengunggulkan seseorang di atas orang lain adalah ketakwaan dan amal shalih. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


َ… إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ {13}

”… Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu...” (QS. Al-Hujuraat: 13).

Dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:


لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ يَفْتَخِرُونَ بِآبَائِهِمْ الَّذِينَ مَاتُوا إِنَّمَا هُمْ فَحْمُ جَهَنَّمَ أَوْ لَيَكُونُنَّ أَهْوَنَ عَلَى اللَّهِ مِنْ الْجُعَلِ الَّذِي يُدَهْدِهُ الْخِرَاءَ بِأَنْفِهِ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَفَخْرَهَا بِالْآبَاءِ إِنَّمَا هُوَ مُؤْمِنٌ تَقِيٌّ وَفَاجِرٌ شَقِيٌّ النَّاسُ كُلُّهُمْ بَنُو آدَمَ وَآدَمُ خُلِقَ مِنْ تُرَابٍ وَفِي

”Hendaklah kaum-kaum yang membangga-banggakan nenek moyang mereka yang telah mati berhenti dari perbuatannya. Sesungguhnya mereka (nenek moyang tersebut) hanya arang neraka Jahannam. Atau (kalau mereka (kaum-kaum itu) tidak berhenti) mereka akan menjadi lebih hina di sisi Allah dari seekor kelabang hitam yang mengendus kotoran manusia dengan hidungnya, Sesungguhnya Allah telah menghapus dari kalian seruan Jahiliyyah dan berbangga-bangga dengan nenek moyang. (Yang ada) hanyalah orang mukmin yang bertakwa dan orang fajir (pendosa) yang celaka. Manusia semuanya adalah anak Adam, dan Adam diciptakan dari tanah.” (HR. Imam at-Tirmidzi).

6. Islam melarang kezahliman dan perbuatan melampui batas sekalipun terhadap orang yang berselisih pendapat dengan orang tersebut. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
اتَّقُوا الظُّلْمَ، فَإنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

”Takutlah terhadap perbuatan zhalim, sebab kezhaliman adalah kegelapan di atas kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Al-Bukhari).

Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

… وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى …

”…Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adil-lah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. …(QS. Al-Maidah: 8).

7. Islam memerangi pengkultusan terhadap manusia dan melarang menempatkan manusia di atas kedudukannya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلاَّ رَسُولُُ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَن يَنقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ اللهَ شَيْئًا … {144}

”Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad). Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; …” (QS. Ali Imraan: 144).

8. Islam agama kasih sayang dan saling menghargai terhadap orang yang berselisih pendapat. Dia Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَمَآ أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّرَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ {107}

”Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiyaa’: 107).



Yang Perlu Diketahui

Ikhtilaf (perbedaan) pasti terjadi di antara kita dan tidak mungkin dihindari, karena kita manusia, yang bisa salah dan benar, kita bukan malaikat. Maka kita tidak bisa menghilangkan perbedaan pendapat itu dan menghapuskannya. Akan tetapi yang kita mampu adalah mempersempit dan memperkecil perbedaan, bersikap dan berinteraksi yang baik dengan perbedaan tersebut. Dan yang terpenting dan wajib adalah beradab dengan adab-adab Islami dalam bergaul dan bermuamalah dengan orang-orang yang berbeda pendapat dengan kita.

Bukan termasuk Ta’ashub, yaitu bila merasa bangga dengan tokoh-tokoh Islam, dan menjelaskan kebesaran agama ini, dan bahwasanya agama ini datang untuk mengeluarkan manusia dari peribadatan kepada sesama hamba menuju peribadatan kepada Pencipta hamba tersebut (yaitu Allah). Dan bahwasanya Islam adalah agama penutup yang telah diridhai oleh Allah untuk seluruh manusia. Dan pribadi muslim yang seperti ini menolak untuk mengekor dan tunduk di hadapan musuh-musuhnya yang menyebabkan ia dituduh dan digelari sebagai orang yang fanatik, sebagaimana yang terjadi sekarang ini, di mana orang-orang yang berusaha mengamalkan agamanya dan berpegang teguh dengannya dianggap sebagai orang yang fanatik dan tidak toleran.

Demikian juga tidak termasuk sebagai Ta’ashub bila berdiskusi, berdialog, dan berdebat ilmiah dengan orang yang berbeda pendapat dengan kita. Demikian juga membantah orang tersebut dengan bantahan ilmiah, menyingkap kekeliruannya, dan menjelaskan jenis kesalahannya jika itu sebuah kekafiran/ kekufuran, atau kebid’ahan, atau kemaksiatan dengan tetap menjaga adab dalam melakukan kritik ilmiah, adab berinteraksi dengan orang yang berbeda pendapat dan tidak menjulukinya dengan julukan fanatik hanya karena penyelisihannya terhadap Anda tersebut.

[Sumber: Diterjemahkan dengan sedikit gubahan dari

" مظاهره – أسبابه – نتائجه -البعد الشرعي  التعصب " 
karya Dr. ‘Adil ad-Dakhmi. Diterjemahkan oleh Abu Yusuf Sujono, 
via: https://www.alsofwah.or.id].