Ismael menurut Bibel dan Tradisi para Rabbi


(Ini adalah tulisan kedua dari rangkaian tulisan Kenapa Nama Yakub menjadi Israel. Mohon dibaca dari yang pertama)

Nama Ismael dalam Bibel PL sepintas memang terlihat kurang menonjol. Hal ini bisa dimaklumi karena banyaknya tokoh yang diceritakan terkait dengan garis besar ‘perjalanan’ dari apa yang diklaim sebagai satu-satunya “childrens of covenant” sebagai satu-satunya “chosen people.” 

Adapun dalam Bibel PB, yang terlihat adalah begitu besarnya usaha dari pendiri Kristen dalam mengkaitkan narasi dalam Kejadian 16 dan 21, yaitu hubungan unik dari istri Abraham (Sarah dan Hagar), untuk membangun doktrin “grace no law” yang ia bangun seiring pertentangan ajarannya dengan ajaran “grace & law” kelompok Yakobus.

“Grace no Law,” sebuah doktrin “keselamatan” (masuk surga) hanya karena anugerah. Bukan masuk surga karena anugerah dan berbuat baik/ beribadah berdasarkan hukum-hukum Allah. Bahkan dalam doktrin “grace no law” ini, Paulus tidak memandang adanya kesatuan antara “grace dan law.”  Bila tidak “grace no law” dianggap pasti “law” saja. Pihak yang berseberangan dengannya dalam pandangan-salahnya ini dianggap hanya mengandalkan “law” saja, yaitu harus mengumpulkan pahala sebanyak mungkin melalui perbuatan baik/ beribadah menuruti hukum-hukum Allah supaya selamat, tanpa mempercayai adanya “grace” sedikitpun. (*Dalam konteks kekristenan, kata “grace” berarti bahwa seseorang bisa mengimani (percayai) doktrin soteriologi salib plus mau menuhankan manusia Yesus bagi Trinitarian; adapun “law” adalah hukum Taurat. Karena itu “grace no law” juga disebut sebagai “faith only,” masuk surga hanya karena iman, yaitu “iman” dengan pengertian seperti tersebut). 

Dalam membangun doktrin ini (Galatia 4), Paulus mengkiaskan Hagar dan Sarah (Kejadian 16 dan 21), untuk kemudian dikontraskan sedemikian rupa dalam gema besar perbedaan, antara budak versus orang merdeka, pelayan versus tuan, manusia daging versus manusia roh dan bahwa keturunan Hagar mestilah sebagai pelayan sedangkan keturunan Sarah adalah majikan... dst, dengan pesan utama kepada para pengikutnya untuk menghalusinasi diri sendiri sebagai anak terjanji, anak Allah, pasti masuk surga tanpa perlu lagi mematuhi hukum-hukum Allah. Grace no Law.

Dengan interpretasi alegori tipologi/ kias dan kontras yang menggema tersebut, tentu akan meniadakan tempat bagi nama baik dan kemuliaan Hagar dan Ismael dalam Bibel. Kemuliaan Hagar dan Ismael menjadi terpendam begitu dalam! [1]


Btw, don’t worry! 

Bagaimanapun juga...  intan yang yang terpendam bahkan jadi buruan, sangat berharga.

Dan bila diteliti lebih dalam, maka sungguh: 
Hagar adalah Wanita sangat Mulia & Ismael adalah ‘Berlian!



Adanya tokoh Hagar dalam Bibel, diawali dengan kisah perjalanan Abraham bersama Sarah ke Mesir karena terjadi bencana kelaparan di daerah tempat tinggalnya (Kejadian 12). Mereka menemui raja Mesir, Pharaoh dimana sebelumnya Abraham bersepakat dengan Sarah untuk mengaku bahwa mereka bukan sebagai pasangan suami istri, tetapi sebagai kakak dan adik. 

Akibat “kebohongan” Abraham dan Sarah inilah, maka terjadi kesalahan sikap raja Mesir terhadap Sarah (di istana para harem). Menurut tradisi diceritakan bahwa saat Sarah kemudian berterus terang bahwa ia adalah istri Abraham, saat itu pula muncul ‘keajaiban’ adanya intervensi Allah melalui malaikat-Nya, sehingga raja Mesir, Pharaoh, tidak berbuat lebih jauh. Ia menyadari betapa hebat Tuhannya Abraham. 

Pharaoh jadi merasa bersalah dan menebus kesalahan dengan memberikan beragam hadiah yang sangat banyak. Dan putrinya, yaitu Hagar jadi beriman pada Tuhannya Abraham, sehingga diikutkan kepada keluarga Abraham, menetap di Kanaan. Raja Mesir mengatakan: “Adalah lebih baik bagi putriku untuk melayani Sarah, daripada menjadi nyonya di istana Mesir.” 

Dalam Bibel juga disebutkan bahwa Sarah sempat menjadi istri/ harem Pharaoh (Kejadian 12:19), dan Abraham mendapat beragam hadiah, dari berbagai jenis ternak bahkan budak-budak dan hamba-hamba perempuan (Kejadian 12:16). Juga dengan Abimelekh (Kejadian 20:3).  

Sampai di Kanaan, keluarga Abraham menetap terpisah dengan keluarga Lot. Hidup berkelimpahan, banyak sekali yang bekerja untuknya, termasuk Eliezer dari Damsyik (lihat Kejadian 14:14, 15:2). Namun seiring berjalan waktu selama 10 tahun sejak tinggal di Kanaan, istrinya, Sarah tak kunjung mempunyai anak, sehingga Sarah menikahkan Hagar dengan Abraham (Kejadian 16:3).   

Tak lama setelah menjadi istri Abraham, Hagar mengandung, dan sayangnya kemudian terjadi perselisihan, keretakan hubungan diantara Sarah dan Hagar. Muncul kecemburuan, jadi merasa inferior, dan adanya berbagai pikiran negatif lainnya dari Sarah yang berujung pada kemarahan, penganiayaan verbal (mungkin juga secara fisik) kepada Hagar, yang sampai membuat Hagar terpaksa lari dari rumah Abraham ke arah Shur.  

Saat dalam pelarian inilah terjadi hal yang sangat istimewa karena secara khusus Hagar ditemui oleh para malaikat Allah. Bukan hanya satu malaikat, tetapi  4 atau 5 malaikat yang menemuinya di dekat mata air tepi padang gurun ke arah Shur. 

Melalui para malaikat inilah, seperti disebutkan dalam Kejadian 16:11-12, bahwa ia memperoleh nama Ismael (Allah mendengarnya), yang dalam konteks ini berarti Allah mengabulkan doanya, menghiburnya, melepaskan derita yang dialaminya, memberkatinya.

Kemudian diberitahukan juga bahwa Ismael akan tumbuh menjadi seorang manusia yang mencintai kebebasan, kemerdekaan, benci pada penindasan. Dan mengingat kemuliaan asal dari nama Ismael, serta arti nama Ismael itu sendiri (Allah mendengarnya), maka ia akan selalu ingat pada Allah, dan Allah akan selalu mendengarnya, menyertainya, membimbingnya, baik melalui Abraham, Hagar atau bahkan melalui para malaikat Allah.

Hagar menamakan mata air di tepi gurun tersebut sebagai El-Roi (Allah Mahamelihat), dan bahwa ditempat itu ia telah melihat Allah (malaikat-Nya atau ‘punggung’ Allah? seperti kisah Musa dalam Keluaran 33:23), dan bahwa Allah peduli terhadap orang yang mau merendahkan diri atas penghinaan yang dialami, bahwa Allah mengawasi untuk melindungi hamba-hamba yang disayangi. 

Dengan datangnya para malaikat secara khusus kepada Hagar ini menunjukkan bahwa spiritualitas Hagar sangat tinggi. Sebuah kemuliaan yang jarang sekali dimiliki orang. 
Selanjutnya, para malaikat yang diutus Allah juga menasehati Hagar supaya kembali dan bersabar atas penganiayaan yang terjadi pada dirinya. Singkat cerita, beberapa bulan kemudian lahirlah Ismael. Saat itu Abraham berusia 86 tahun (Kejadian 16:16). 


Ismael & Perjanjian Keselamatan

Saat berusia 13 tahun, Ismael disunat bersama Abraham (99th) dan juga para pekerja/ orang-orang yang tinggal bersamanya, segera setelah turun suatu Perjanjian Keselamatan dari Tuhannya Abraham. Sunat/ khitan ini sebagai suatu kewajiban yang mengikat dari perjanjian ini. 

Pada saat ini pula, Allah melalui malaikat kepada Abraham, menyatakan memberkati Ismael, bahwa Ismael akan menurunkan 12 raja, menjadi bangsa yang besar (Kejadian 17:20). Demikian juga Allah menjanjikan kelahiran Ishak melalui Sarah pada tahun berikutnya. 

Pada saat itu, nama Abraham juga baru disebutkan dari yang sebelumnya hanya Abram (imigran). Demikian juga Sarah sebagai nama baru dari yang sebelumnya adalah Sarai, dimana ini lebih terkait ke ‘bonus’ dari ‘Perjanjian Keselamatan.’ 

‘AVRAM telah menjadi ‘AVRAHAM; yaitu menjadi ‘AV HAMON GOYIM

Perubahan nama Abram menjadi Abraham ini sebagai ‘proklamasi’ dari Allah bahwa ia akan menjadi Bapak dari banyak bangsa (Kejadian 17: 4-6). Ini berarti pula bahwa Abraham tidak boleh diklaim sebagai satu-satunya bapak dari suatu bangsa tertentu, atau suatu bangsa tertentu mengklaim sebagai satu-satunya keturunannya, sebagai satu-satunya anak-anak  perjanjian/ “childrens of covenant.”

Perjajian Keselamatan, yaitu bahwa setiap orang bisa memperoleh keselamatan bila beriman kepada Tuhannya Abraham. Sebagai tanda bahwa seseorang itu benar-benar beriman kepada Tuhannya Abraham, maka ia harus berkhitan. Bagi orang yang tidak berkhitan, meskipun sepanjang hidupnya mengklaim sebagai penyembah Tuhannya Abraham, menganggap dirinya sebagai seorang yang beriman, ia tetap tidak diakui oleh Tuhannya Abraham, tetap dianggap sebagai orang kafir (Kejadian 17: 7-14). 

Adapun untuk memasuki ikatan Perjanjian Keselamatan ini bisa melalui jalur Ismael maupun Ishak, keduanya dan keturunannya adalah sama-sama sebagai “childrens of covenant”, sama-sama telah menurunkan para nabi, sama-sama ada “the-chosen people” didalamnya. Tetapi sesudah berakhirnya periode turunnya para nabi, maka harus memilih mana yang paling sesuai dengan kehendak Tuhannya Abraham.

Pada saat dibuat Perjanjian Keselamatan ini, ada suatu bonus untuk keturunan Abraham melalui jalur Ishak, dimana ditambahkan janji mendapatkan tanah Kanaan-dengan syarat & ketentuan yang berlaku, seperti dalam Yosua 23:15-16; 1Raja 9:6-9; II Tawarikh 7:19-22; Yehezkiel 33:23-29; Yeremia 34: 12-22, dll.

Dan bonus ini sudah dipenuhi dimulai dari saat Yosua membaginya pada 12 suku bani Israel, dimana puncak kepenuhannya ada pada zaman raja Saul-Daud-Solomon-dan mestinya juga pada masa Yesus, namun Yesus telah ditolak sebagai nabi maupun mesias nasional oleh bani Israel. Oleh sebab itu, dan juga  berbagai banyak sebab sebelumnya seperti disebut dalam Bibel PL, maka Tuhannya Abraham telah mencabut hak istimewa bonus ini. Bahkan YHWH sendiri telah ‘menceraikan Israel. Sudah tidak akan ada lagi mesias yang hanya bersifat lokal-nasional bagi bani Israel. Yang akan turun adalah Mesias Internasional, Yesus second coming. Akan turun untuk menyelamatkan dunia melawan Dajjal/ Anti Kristus dan Gog-Magog dll. 
  

[1] Kias dan kontras ini kemudian diinterpretasikan lebih jauh mulai dari Tertullian, Origen, Ambrosius, Augustin dll, yang bahkan akhirnya menjadi pengajaran pokok gereja untuk beragam kepentingan dengan akibat yang telah menjadi catatan kelam sejarah yang bahkan terus berlanjut hingga kini. cek di: lectio

Tulisan berikutnya: Ismael menjadi Nabi saat usia 17 tahun

Tidak ada komentar: