Eksklusif: Video Penyerangan oleh Budhis Rakhine, Myanmar


"Saya bukan omong kosong, tapi ada bukti nyata. Etnis Rakhine kini merajalela menyerang dan membunuh lebih dari 1.000 (seribu) orang Islam Rohingya di Arakan, tetapi sayangnya hal ini tidak diketahui masyarakat luar karena otoritas yang berwenang/ rezim Myanmar menyembunyikan informasi yang sebenarnya.

"Bahkan, anggota tim keamanan turut membantu kelompok Rakhine menindas penduduk Rohingya. Hal ini bukan lagi rahasia karena semua orang Islam di Myanmar tahu, namun kami dihalangi untuk memberi bantuan," kata aktivis Islam yang hanya mau disebut sebagai Ahmad (32th). 

Inilah video yang diserahkan kepada Harian Metro, Malaysia, oleh Ahmad selepas ia memperolehnya dari penduduk di Aung Mingalar, ketika diserang oleh kelompok budhis etnis Rakhine 14 Juni 2012 lalu.



Ahmad yang orang tua dan adik-adiknya masih di Arakan berkata, dia selalu memantau perkembangan di negeri kelahirannya itu selain berhubungan dengan beberapa individu di sana untuk mendapat informasi terakhir.

Ia mengklaim bahwa saat ini ada sekitar 115,000 orang Muslim Rohingya tinggal di lima tenda pemukiman sementara di beberapa daerah yaitu di Thet Khapyin yang menempatkan 40.000 orang, Da Bai Thaecheung (25.000), Bumay (10.000), Budu Pa (20.000) dan Sampya Barat (20.000) [metro].

 
Sementara itu, dalam video lainnya, seorang perempuan Rohingya yang sempat melarikan diri ke Bangladesh dan disembunyikan penduduk yang bersimpati kepadanya mengatakan bahwa mereka mengalami penderitaan yang sangat luar biasa.

"Saudara perempuanku, saudara laki-lakiku, dan saudara lainnya telah dibakar hidup-hidup," ujar wanita bernama Shahara.

"Kami tak bisa menanggung beban ini lagi, sehingga kami datang ke Bangladesh," ujarnya.

Shahara juga mengatakan bahwa ia bersama rombongan harus terapung di atas laut selama empat hari hingga berhasil menyelinap masuk ke Bangladesh.

"Anak kami meninggal di Burma (Myanmar). Dua lainnya meninggal di atas kapal dalam perjalan kemari, ujarnya sambil menghapus airmatanya.

Pengungsi lain menjelaskan, bagaimana militer Myanmar bertindak tidak adil. Polisi dan militer bahkan ikut berpartisipasi menyerang pengungsi Muslim. Ia menyaksikan sendiri, bagaimana sebuah helikopter menyerang perahu yang penuh dengan pengungsi.

"Ada tiga kapal bersama ketika kami pergi, dan tiga lainnya mengikuti kami. Tiga kapal di belakang kami diserang helikopter dan terbakar," ujarnya.



Heli itu berputar-putar di atas perahu. Kemudian, terlihat ada sesuatu dilempar ke kapal. Tak lama, benda itu meledak dan membakar kapal, ujar Muhammad. Dia memperkirakan, ada sekitar 50 orang tewas di perahu tersebut.

Seorang bernama Abdur mengatakan, bagaimana etnis Rohingya dipandang para tetangga Myanmar dengan penuh kebencian dan haus darah.

"Mereka menggorok anak-anak kami. Mereka taruh pedang tajam di tanah. Mereka letakkan balita di atas pedang dan membiarkan balita tersebut sampai meninggal bersimbah darah."

 

Muslim Rohingya Dibantai, Karena Menolak Jadi Budhis


LAHORE - Syed Munawar Hasan mengungkapkan keprihatinan yang mendalam atas derita yang dialami Muslim Rohingya di Myanmar.

Pimpinan partai Islam utama di Pakistan, Jamaat Islami (JI) ini, mengatakan, ratusan ribu Muslim Rohingya dibunuh dan disiksa karena menolak untuk meninggalkan agama mereka. 

"Komunitas dunia, terutama pemimpin-peminpin Muslim, harusnya melakukan tekanan diplomatik terhadap pemerintah Myanmar untuk menghentikan kekejaman mereka terhadap populasi Muslim dan melindungi hak-hak asasi mereka," kata dia seperti dilansir The News International, Kamis (26/7).

Pernyataan tersebut ia sampaikan ketika menemui delegasi Muslim Myanmar di Mansoora. Dalam kesempatan itu, para delegasi mengungkapkan segala penderitaan yang dialami warga Muslim Rohingya. Pimpinan delegasi, Noor Husain Arakani mengatakan, warga Muslim Myanmar dipaksa untuk berpindah agama ke Budha. Jika menolak, maka mereka akan mendapat tindakan brutal.

"Mereka dipaksa untuk memakan daging babi dan minum minuman keras. Kasus pemerkosaan oleh gerombolan gang meningkat. Di beberapa tempat, orang-orang Muslim dibakar hidup-hidup. Mereka bahkan tidak diperbolehkan untuk menggunakan telepon seluler. Faktanya, pemerintah Myanmar ingin membersihkan Myanmar dari populasi Muslim," tandasnya.

Sementara itu di Indonesia Ketua Komisi I DPR, Mahfudz Siddiq, menilai, tindakan kekerasan yang dilakukan pemerintah Myanmar terhadap muslim Rohingya sudah mengarah ke pembersihan etnis. Tindakan ini diperkirakannya akan terus berlanjut, kecuali pemerintah Myanmar mau membuka kebijakan politik.

''(Kebijakan politiknya) yaitu untuk menerima mereka sebagai bagian dari warga muslim Arakan dan bagian dari warga negara Myanmar. Lalu segala bentuk diskriminasi dihentikan,'' kata Mahfudz kepada wartawan, Kamis (26/7).

Jika hal ini dilakukan, lanjutnya, maka Myanmar akan mencatat capaian besar dalam proses demokratisasi yang tengah dijalankan. Myanmar juga bakal menjadi pijakan sangat penting dalam mengelola pluralisme secara demokratis di Myanmar.

Selama ini, Mahfudz menilai, pemerintah Myanmar telah melakukan pengabaian terhadap nilai-nilai demokrasi dan kemanusiaan. ''Itu artinya, semua unsur di Myanmar bertanggung jawab terhadap ethnic cleansing yang sedang dan terus terjadi,'' papar Wasekjen Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut. [RE/PUBLIKA].


Biksu Budha Blokir Bantuan Kemanusiaan ke Rohingya


Citra kasih sayang dan damai ajaran Budha telah tercoreng; atau memang palsu belaka? Sikap mereka yang brutal terhadap kaum muslim Rohingya yang tertindas menunjukkan wajah asli mereka yang penuh kebencian terhadap umat Islam.

Sebagaimana dilaporkan The Independent (25/7/2012), para pendeta budha dilaporkan telah mencoba memblokir bantuan kemanusiaan sampai ke muslim Rohingya. 

Para bhikkhu yang memainkan peran penting dalam perjuangan terakhir Birma untuk demokrasi telah dituduh memicu ketegangan etnis di Birma dengan mengimbau orang untuk menghindari komunitas Muslim yang telah menderita puluhan tahun akibat penindasan.

Banyak pengamat yang terkejut dengan sikap beberapa organisasi biarawan yang   telah mengeluarkan pamflet memberitahu orang-orang untuk tidak bergaul dengan masyarakat Rohingya. Mereka juga memblokir bantuan kemanusiaan. Salah satu selebaran menggambarkan Rohingya sebagai "manusia yang kejam secara alami (by nature)" dan digambarkan telah "berencana membasmi" kelompok etnis lain.

Meningkatnya serangan terhadap Rohingnya yang digambarkan sebagai kelompok yang paling tertindas di dunia terjadi beberapa minggu setelah kekerasan etnis di Rakhine State. Dikabarkan lebih dari 80 orang terbunuh lebih dari 100 ribu muslim Rohingya hidup dalam kondisi putus asa.

"Dalam beberapa hari terakhir, para bhikkhu telah muncul dalam peran utama pada penolakan bantuan kemanusiaan kepada umat Islam, untuk mendukung pernyataan kebijakan politisi," kata Chris Lewa, Direktur proyek Arakan, sebuah LSM daerah. 

"Seorang anggota badan kemanusiaan di Sittwe mengatakan kepada saya bahwa beberapa biarawan yang ditempatkan dekat kamp pengungsian Muslim, memeriksa dan berpaling dari orang yang mereka curigai akan berkunjung  untuk memberikan bantuan."

Sementara Suu Kyi penerima hadiah nobel perdamaian cendrung diam dalam masalah ini. Sikap yang banyak dipertanyakan. Amal de Chickera yang berbasis di London, mengatakan: "Anda memiliki figure moral, yang suaranya memang penting, Ini sangat mengecewakan dan pada akhirnya bisa sangat merusak."

Rohingya telah tinggal di Burma selama berabad-abad, tetapi pada tahun 1982, rezim penguasa militer Ne Win melucuti kewarganegaraan mereka. Ribuan orang melarikan diri ke Bangladesh di mana mereka tinggal di kamp-kamp yang menyedihkan. Akses Media asing masih ditolak untuk menjangkau wilayah konflik, di mana keadaan darurat diumumkan bulan lalu, dan sepuluh pekerja bantuan ditahan tanpa penjelasan. 


Arakan Negeri Islam Sejak Khilafah Harun Al Rasyid

Tudingan bahwa Muslim Rohingya merupakan imigran asing merupakan tuduhan palsu yang dicari-cari. Muslim Rohingya yang merupakan 20 persen dari 55 juta penduduk Burma merupakan penduduk asli di provinsi Arakan dan menjadi warga mayoritas di sana.

Provinsi Arakan adalah negeri Islam. Islam telah masuk ke provinsi itu  pada masa Khalifah Harun Al-Rasyid, abad ke-7 Masehi. Dan dari provinsi Arakan inilah Islam menyebar ke seluruh penjuru Burma. Kaum Muslim telah memerintah wilayah ini selama lebih dari tiga setengah abad, yaitu antara (834 – 1198 H atau 1430 – 1784 M).

Raja Burma yang beragama Budha kemudian menduduki wilayah Arakan. Mulailah terjadi pembunuhan atas kaum Muslim, penghancuran harta bendanya, dan mengirim Muslim Rohingya ke penjara-penjara. Akibatnya tidak sedikit dari mereka yang meninggal dan mengungsi. Pada tahun 1824, kaum kolonialis Inggris datang dan menduduki negeri itu, kemudian memasukkannya ke pemerintah kolonial Inggris di India.

Pada tahun 1937 Inggris menduduki provinsi Arakan dengan kekerasan dan menggabungkannya ke Burma (yang saat itu merupakan koloni Inggris yang terpisah dari pemerintah Inggris di India). Untuk menundukkan kaum Muslim, agar bisa dikuasai dan dijajah, Inggris mempersenjatai umat Budha. Mulailah terjadi terjadi penyerangan terhadap umat Islam pada tahun 1942.

Mereka membantai kaum Muslim dengan brutal hingga lebih dari 100 ribu kaum Muslim meninggal, yang sebagian besar perempuan, orang tua dan anak-anak. Serangan umat Budha yang kejam dengan dukungan Inggris telah membuat ratusan ribu kaum Muslim mengungsi ke luar negeri. Kemudian, umat Muslim mengalami pembantaian baru menyusul kudeta militer tahun 1962, dengan kekuasaan bercorak komunis yang didukung Cina dan Rusia.

Rezim yang baru ini sangat berambisi menghabisi Islam di Burma. Mereka mengusir lebih dari 300 ribu kaum Muslim ke Bangladesh. Pada tahun 1978 lebih dari setengah juta kaum Muslim diusir dari Burma. Pada tahun 1982, ada operasi penghapusan kebangsaan kaum Muslim karena dinilainya sebagai warga negara bukan asli Burma. Pada tahun 1988 lebih dari 150 ribu kaum Muslim mengungsi. Pada tahun 1991 lebih dari setengah juta kaum Muslim juga mengungsi.

Meskipun demikian umat Islam Rohingya masih berpegang teguh dengan agama mereka. Penganiayaan, penyiksaan dan ketidakadilan menimpa mereka di semua tingkatan, bahkan pembunuhan dan pembantaian tak menggerus keimanan mereka. Umat Islam termasuk Muslim Rohingya tidak punya pilihan lain kecuali kembali menegakkan Khilafah yang akan melindungi umat Islam termasuk Muslim Rohingya. Seperti di masa Khalifah Harun ar Rasyid. Saat gemilang ketika Muslim Rohingya mendapatkan ketentraman, keadilan, dan keamanan sejati. [FW/HTI].

Budha Yang Tak Berbudaya !!

Biksu Budha memblokir bantuan kemanusiaan ke Rohingya, sementara Suu Kyi cenderung diam


Citra kasih sayang dan damai ajaran Budha telah tercoreng; atau memang palsu belaka? Sikap mereka yang brutal terhadap kaum muslim Rohingya yang tertindas menunjukkan wajah asli mereka yang penuh kebencian terhadap umat Islam.

Sebagaimana dilaporkan The Independent (25/7/2012), para pendeta budha dilaporkan telah mencoba memblokir bantuan kemanusiaan sampai ke muslim Rohingya.

Para bhikkhu yang memainkan peran penting dalam perjuangan terakhir Birma untuk demokrasi telah dituduh memicu ketegangan etnis di Birma dengan mengimbau orang untuk menghindari komunitas Muslim yang telah menderita puluhan tahun akibat penindasan.

Banyak pengamat yang terkejut dengan sikap beberapa organisasi biarawan yang   telah mengeluarkan pamflet memberitahu orang-orang untuk tidak bergaul dengan masyarakat Rohingya. Mereka juga memblokir bantuan kemanusiaan. Salah satu selebaran menggambarka Rohingya sebagai "manusia yang kejam secara alami (by nature)" dan digambarkan telah "berencana membasmi" kelompok etnis lain.

Meningkatnya serangan terhadap Rohingya yang digambarkan sebagai kelompok yang paling tertindas di dunia terjadi beberapa minggu setelah kekerasan etnis di Rakhine State. Dikabarkan lebih dari 80 orang terbunuh lebih dari 100 ribu muslim Rohingya hidup dalam kondisi putus asa.

"Dalam beberapa hari terakhir, para bhikkhu telah muncul dalam peran utama pada penolakan bantuan kemanusiaan kepada umat Islam, untuk mendukung pernyataan kebijakan politisi," kata Chris Lewa, Direktur proyek Arakan, sebuah LSM daerah. 

"Seorang anggota badan kemanusiaan di Sittwe mengatakan kepada saya bahwa beberapa biarawan yang ditempatkan dekat kamp pengungsian Muslim, memeriksa dan berpaling dari orang yang mereka curigai akan berkunjung  untuk memberikan bantuan."

Sementara Suu Kyi penerima hadiah nobel perdamaian cendrung diam dalam masalah ini. Sikap yang banyak dipertanyakan. Amal de Chickera yang berbasis di London, mengatakan: "Anda memiliki figure moral, yang suaranya memang penting, Ini sangat mengecewakan dan pada akhirnya bisa sangat merusak."

Rohingya telah tinggal di Burma selama berabad-abad, tetapi pada tahun 1982, rezim penguasa militer Ne Win melucuti kewarganegaraan mereka. Ribuan orang melarikan diri ke Bangladesh di mana mereka tinggal di kamp-kamp yang menyedihkan. Akses Media asing masih ditolak untuk menjangkau wilayah konflik, di mana keadaan darurat diumumkan bulan lalu, dan sepuluh pekerja bantuan ditahan tanpa penjelasan. 


Arakan Negeri Islam Sejak Khilafah Harun Al Rasyid

Tudingan bahwa Muslim Rohingya merupakan imigran asing merupakan tuduhan palsu yang dicari-cari. Muslim Rohingya yang merupakan 20 persen dari 55 juta penduduk Burma merupakan penduduk asli di provinsi Arakan dan menjadi warga mayoritas di sana.

Provinsi Arakan adalah negeri Islam. Islam telah masuk ke provinsi itu  pada masa Khalifah Harun Al-Rasyid, abad ke-7 Masehi. Dan dari provinsi Arakan inilah Islam menyebar ke seluruh penjuru Burma. Kaum Muslim telah memerintah wilayah ini selama lebih dari tiga setengah abad, yaitu antara (834 – 1198 H atau 1430 – 1784 M).

Raja Burma yang beragama Budha kemudian menduduki wilayah Arakan. Mulailah terjadi pembunuhan atas kaum Muslim, penghancuran harta bendanya, dan mengirim Muslim Rohingya ke penjara-penjara. Akibatnya tidak sedikit dari mereka yang meninggal dan mengungsi. Pada tahun 1824, kaum kolonialis Inggris datang dan menduduki negeri itu, kemudian memasukkannya ke pemerintah kolonial Inggris di India.

Pada tahun 1937 Inggris menduduki provinsi Arakan dengan kekerasan dan menggabungkannya ke Burma (yang saat itu merupakan koloni Inggris yang terpisah dari pemerintah Inggris di India). Untuk menundukkan kaum Muslim, agar bisa dikuasai dan dijajah, Inggris mempersenjatai umat Budha. Mulailah terjadi terjadi penyerangan terhadap umat Islam pada tahun 1942.

Mereka membantai kaum Muslim dengan brutal hingga lebih dari 100 ribu kaum Muslim meninggal, yang sebagian besar perempuan, orang tua dan anak-anak. Serangan umat Budha yang kejam dengan dukungan Inggris telah membuat ratusan ribu kaum Muslim mengungsi ke luar negeri. Kemudian, umat Muslim mengalami pembantaian baru menyusul kudeta militer tahun 1962, dengan kekuasaan bercorak komunis yang didukung Cina dan Rusia.

Rezim yang baru ini sangat berambisi menghabisi Islam di Burma. Mereka mengusir lebih dari 300 ribu kaum Muslim ke Bangladesh. Pada tahun 1978 lebih dari setengah juta kaum Muslim diusir dari Burma. Pada tahun 1982, ada operasi penghapusan kebangsaan kaum Muslim karena dinilainya sebagai warga negara bukan asli Burma. Pada tahun 1988 lebih dari 150 ribu kaum Muslim mengungsi. Pada tahun 1991 lebih dari setengah juta kaum Muslim juga mengungsi.

Meskipun demikian umat Islam Rohingya masih berpegang teguh dengan agama mereka. Penganiayaan, penyiksaan dan ketidakadilan menimpa mereka di semua tingkatan, bahkan pembunuhan dan pembantaian tak menggerus keimanan mereka. Umat Islam termasuk Muslim Rohingya tidak punya pilihan lain kecuali kembali menegakkan Khilafah yang akan melindungi umat Islam termasuk Muslim Rohingya. Seperti di masa Khalifah Harun ar Rasyid. Saat gemilang ketika Muslim Rohingya mendapatkan ketentraman, keadilan, dan keamanan sejati. [FW/HTI].

Bercanda dengan Hitler di Surga Kristen


Dunia kekristenan sangat ingin menjauhkan diri dari Hitler. Maklum, tetapi sebanyak yang mereka ingin menulis ulang sejarah seperti yang mereka lakukan dalam kasus pelecehan anak, fakta menyatakan bahwa Hitler pada masa kekuasaannya adalah seorang Kristen taat, senang mengunjungi Paus. 

Setelah kekuasaannya mulai menurun, ia berkali-kali menulis dalam "Alkitab Nazi" (Mein Kampf) tentang iman Kristen dan bagaimana ia bersimpati dengan perjuangan Yesus 'melawan racun Yahudi'. Dengan kekristenannya bahkan menyebabkan ia menempatkan "Gott Mit Uns" pada setiap gesper sabuk tentara Nazi, yang bila diterjemahkan ke bahasa Indonesia berbunyi "Tuhan bersama Kami".

Bila anda memiliki salinan Mein Kampf, bacalah kutipannya:
"Saya percaya hari ini bahwa perilaku saya ini sesuai dengan kehendak Pencipta yang mahakuasa." (hal.46).

Hitler leaves the marine Church   
in Wilhelmshaven   




"Pendiri agama Kristen memang tidak merahasiakan estimasi tentang orang-orang Yahudi. Ketika Dia (Yesus) merasa perlu, Dia mengusir musuh-musuh umat manusia keluar dari Bait Allah." (hal.174).
 

Melalui pidato tanggal 12 April tahun 1922, Hitler menyatakan: "Perasaan saya sebagai seorang Kristen menunjuk saya sebagai seorang pejuang untuk Tuhan dan Juruselamat saya. Ini pandangan saya tentang seorang laki-laki yang pernah dalam kesepian, dikelilingi hanya oleh sedikit pengikut, diakui oleh orang-orang Yahudi untuk apa mereka dan memanggil orang untuk memerangi mereka." (Norman H. Baynes, The Speeches of Adolf Hitler).

Masih banyak pernyataan Hitler tentang kekristenan dirinya, tetapi pernyataan dia di atas sudah cukup untuk membuktikan bahwa ia seorang Kristen.

Karena menurut pernyataan Pendeta Budi Asali: Kami orang Kristen tidak berkata: "Insya Allah kami masuk surga"! Kami juga tidak mengatakan "moga-moga kami masuk surga"! Kami yakin kapanpun kami mati, kami PASTI masuk surga! Bukan karena kami baik, tetapi karena dosa kami sudah dibereskan oleh Yesus Kristus!

Maka orang Kristen akan hidup bersama, bercanda ria dengan Hitler dalam surga khayalan mereka. Hmm...

Note: pernyataan Pendeta Budi Asali ada di: tulisan ini

Prof. Robert Shedinger: Yesus Seorang Muslim


Profesor Robert F. Shedinger, kepala departemen studi agama di Luther College, Iowa, baru-baru ini berpendapat bahwa Yesus Kristus adalah seorang Muslim.

"Apakah Yesus seorang Muslim?" tanya Prof. F. Shedinger dalam pengantar buku yang diterbitkan tahun ini
yang berjudul "Was Jesus a Muslim?" 
"Saya akan menjawab ya, dan itu sangat memenuhi syarat ilmiah," tulisnya.

Dalam sebuah wawancara, Shedinger juga membela tesis kontroversial yang menjelaskan bahwa seorang sarjana Muslim telah membuat dirinya berada dalam pengembaraan akademik yang memuncak dengan dia bertanya pada dirinya sendiri "Apakah Yesus seorang Muslim?" 

Shedinger mengatakan bahwa pertanyaan itu memotivasi dirinya untuk berpikir ulang mengenai konsep Islam "Saya harus memikirkan kembali apakah Islam itu. Saya sampai pada kesimpulan bahwa itu adalah gerakan keadilan sosial; dan saya pikir siapa Yesus itu pada abad pertama, sehingga saya menyimpulkan bahwa Yesus lebih seperti seorang Muslim," katanya.

Shedinger, yang adalah kepala departemen studi agama di Luther College di Iowa, berpendapat bahwa Islam adalah lebih cocok bagi Yesus karena bukan agama tetapi sebuah "gerakan keadilan sosial."
 
Buku Shedinger juga membahas hubungan antara Kristen dan Islam dan bagaimana mereka dapat "bekerja sama untuk mempromosikan keadilan sosial di dunia," tukasnya.

Memang, orang Kristen banyak yang bingung, karena ajarannya tidak rasional penuh dengan teka-teki "tiga satu, satu tiga." Kristen agama teka-teki, agama kemusyrikan, dan para penganut pagan ini pasti akan menghadapi jalan buntu, atau menjadi murtad dari agamanya karena Kristen tak dapat memberikan jawaban bagi kehidupan modern.

Tidak heran di Barat, Eropa dan Amerika, mereka cenderung semakin ateis, dan masuk dalam kelompok-kelompok "cult" (pemujaan), dan beralih menjadi gerakan sosial. Mereka lebih melihat Islam, sebagai nilai-nilai yang lebih cocok dengan pemikiran mereka. [v/t].

Subhanallah... Togo's Amazing !



Orang-orang di Republik Togo, Afrika Barat. Mereka baru saja masuk Islam, kemudian membangun masjid Ala Kadarnya dari sabut kelapa.
@mkh1384 - Dr. Muhammad al Khudairi, Dosen Ulumul Quran di King Saud University (KSU) Saudi Arabia. [twitulama]


Republik Togo adalah sebuah negara di Afrika Barat, berbatasan dengan Ghana di barat, Benin di timur dan Burkina Faso di utara. Di sebelah selatan, Togo mempunyai pesisir Teluk Guinea yang kecil, di mana ibu kota negara Togo, Lomé berada. 

Di bagian utara, tanahnya kebanyakan merupakan sabana, berbeda dari bagian tengah Togo yang berbukit-bukit. Sebelah selatan Togo sebagian besar adalah hamparan besar yang mencapai bagian pesisir yang terdiri dari laguna dan rawa-rawa. Togo meliputi wilayah sekitar 57.000 kilometer persegi (22.000 mil persegi) dengan penduduk sekitar 6,7 juta. Togo beriklim tropis, bangsa sub-Sahara, sangat tergantung pada pertanian, dengan iklim yang memberikan musim tumbuh yang baik. Bahasa resmi adalah Perancis, dengan banyak bahasa lain digunakan di Togo, terutama oleh mereka dari keluarga Gbe, yang disebut sebagai bahasa Gbe.

Marhaban ya Ramadhan


Alhamdulillah, setahun penuh kita merindukan bulan ini, bulan penuh berkah, Ramadhan Mubarak!

Marhaban ya Ramadhan, Syahrul Mubarak, Syahrul Qur'an.

"Kami mencintaimu. Semoga engkau juga mencintai kami."

Amin ya Rabbul 'Alamiin.


Mari Mengamalkan Sunnah Puasa 


Berikut penjelasan mengenai berbagai hal sunnah ketika puasa:

1. Mengakhirkan Sahur

Disunnahkan bagi orang yang hendak berpuasa untuk makan sahur. Al Khottobi mengatakan bahwa makan sahur merupakan tanda bahwa agama Islam selalu mendatangkan kemudahan dan tidak mempersulit.[1] Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَصُومَ فَلْيَتَسَحَّرْ بِشَىْءٍ

"Barangsiapa ingin berpuasa, maka hendaklah dia bersahur."[2]

Nabi kita shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan demikian karena di dalam sahur terdapat keberkahan. Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السَّحُورِ بَرَكَةً

"Makan sahurlah karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat berkah."[3] An Nawawi rahimahullah mengatakan, "Karena dengan makan sahur akan semakin kuat melaksanakan puasa."[4]

Makan sahur juga merupakan pembeda antara puasa kaum muslimin dengan puasa Yahudi-Nashrani (ahlul kitab). Dari Amr bin 'Ash radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ

"Perbedaan antara puasa kita (umat Islam) dan puasa ahlul kitab terletak pada makan sahur."[5] At Turbasyti mengatakan, "Perbedaan makan sahur kaum muslimin dengan ahlul kitab adalah Allah Ta'ala membolehkan pada umat Islam untuk makan sahur hingga shubuh, yang sebelumnya hal ini dilarang pula di awal-awal Islam. Bagi ahli kitab dan di masa awal Islam, jika telah tertidur, (ketika bangun) tidak diperkenankan lagi untuk makan sahur. Perbedaan puasa umat Islam (saat ini) yang menyelisihi ahli kitab patut disyukuri karena sungguh ini adalah suatu nikmat."[6]

Sahur ini hendaknya tidak ditinggalkan walaupun hanya dengan seteguk air sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,

السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى المُتَسَحِّرِينَ

"Sahur adalah makanan yang penuh berkah. Oleh karena itu, janganlah kalian meninggalkannya sekalipun hanya dengan minum seteguk air. Karena sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur."[7]

Disunnahkan untuk mengakhirkan waktu sahur hingga menjelang fajar. Hal ini dapat dilihat dalam hadits berikut. Dari Anas, dari Zaid bin Tsabit, ia berkata,

تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قُمْنَا إِلَى الصَّلاَةِ. قُلْتُ كَمْ كَانَ قَدْرُ مَا بَيْنَهُمَا قَالَ خَمْسِينَ آيَةً.

"Kami pernah makan sahur bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Kemudian kami pun berdiri untuk menunaikan shalat. Kemudian Anas bertanya pada Zaid, ”Berapa lama jarak antara adzan Shubuh[8] dan sahur kalian?" Zaid menjawab, "Sekitar membaca 50 ayat."[9] Dalam riwayat Bukhari dikatakan, "Sekitar membaca 50 atau 60 ayat."

Ibnu Hajar mengatakan, "Maksud sekitar membaca 50 ayat artinya waktu makan sahur tersebut tidak terlalu lama dan tidak pula terlalu cepat." Al Qurthubi mengatakan, "Hadits ini adalah dalil bahwa batas makan sahur adalah sebelum terbit fajar."

Di antara faedah mengakhirkan waktu sahur sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar yaitu akan semakin menguatkan orang yang berpuasa. Ibnu Abi Jamroh berkata, "Seandainya makan sahur diperintahkan di tengah malam, tentu akan berat karena ketika itu masih ada yang tertidur lelap, atau barangkali nantinya akan meninggalkan shalat shubuh atau malah akan begadang di malam hari."[10]

Bolehkah Makan Sahur Setelah Waktu Imsak (10 Menit Sebelum Adzan Shubuh)?

Syaikh 'Abdul Aziz bin 'Abdillah bin Baz –pernah menjabat sebagai ketua Al Lajnah Ad Da-imah (Komisi fatwa Saudi Arabia)- pernah ditanya, "Beberapa organisasi dan yayasan membagi-bagikan Jadwal Imsakiyah di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Jadwal ini khusus berisi waktu-waktu shalat. Namun dalam jadwal tersebut ditetapkan bahwa waktu imsak (menahan diri dari makan dan minum, -pen) adalah 15 menit sebelum adzan shubuh. Apakah seperti ini memiliki dasar dalam ajaran Islam?"

Syaikh rahimahullah menjawab:
Saya tidak mengetahui adanya dalil tentang penetapan waktu imsak 15 menit sebelum adzan shubuh. Bahkan yang sesuai dengan dalil Al Qur'an dan As Sunnah, imsak (yaitu menahan diri dari makan dan minum, -pen) adalah mulai terbitnya fajar (masuknya waktu shubuh). Dasarnya firman Allah Ta'ala,

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

"Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar." (QS. Al Baqarah: 187)

Juga dasarnya adalah sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,

الفَجْرُ فَجْرَانِ ، فَجْرٌ يُحْرَمُ الطَّعَامُ وَتَحِلُّ فِيْهِ الصَّلاَةُ ، وَفَجْرٌ تُحْرَمُ فِيْهِ الصَّلاَةُ (أَيْ صَلاَةُ الصُّبْحِ) وَيَحِلُّ فِيْهِ الطَّعَامُ

"Fajar ada dua macam: [Pertama] fajar diharamkan untuk makan dan dihalalkan untuk shalat (yaitu fajar shodiq, fajar masuknya waktu shubuh, -pen) dan [Kedua] fajar yang diharamkan untuk shalat shubuh dan dihalalkan untuk makan (yaitu fajar kadzib, fajar yang muncul sebelum fajar shodiq, -pen)." (Diriwayatakan oleh Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro no. 8024 dalam "Puasa", Bab "Waktu yang diharamkan untuk makan bagi orang yang berpuasa" dan Ad Daruquthni dalam "Puasa", Bab "Waktu makan sahur" no. 2154. Ibnu Khuzaimah dan Al Hakim mengeluarkan hadits ini dan keduanya menshahihkannya sebagaimana terdapat dalam Bulughul Marom)

Dasarnya lagi adalah sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,

إِنَّ بِلاَلاً يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ

"Bilal biasa mengumandangkan adzan di malam hari. Makan dan minumlah sampai kalian mendengar adzan Ibnu Ummi Maktum." (HR. Bukhari no. 623 dalam Adzan, Bab "Adzan sebelum shubuh" dan Muslim no. 1092, dalam "Puasa", Bab "Penjelasan bahwa mulainya berpuasa adalah mulai dari terbitnya fajar"). Seorang periwayat hadits ini mengatakan bahwa Ibnu Ummi Maktum adalah seorang yang buta dan beliau tidaklah mengumandangkan adzan sampai ada yang memberitahukan padanya "Waktu shubuh telah tiba, waktu shubuh telah tiba."[11]

2. Menyegerakan berbuka

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

"Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka."[12]

Dalam hadits yang lain disebutkan,

لَا تَزَالُ أُمَّتِى عَلَى سُنَّتِى مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُجُوْمَ

"Umatku akan senantiasa berada di atas sunnahku (ajaranku) selama tidak menunggu munculnya bintang untuk berbuka puasa."[13] Dan inilah yang ditiru oleh Rafidhah (Syi'ah), mereka meniru Yahudi dan Nashrani dalam berbuka puasa. Mereka baru berbuka ketika munculnya bintang. Semoga Allah melindungi kita dari kesesatan mereka.[14]

Nabi kita shallallahu 'alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum menunaikan shalat maghrib dan bukanlah menunggu hingga shalat maghrib selesai dikerjakan. Inilah contoh dan akhlaq dari suri tauladan kita shallallahu 'alaihi wa sallam. Sebagaimana Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan rothb (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada rothb, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air."[15] 

3. Berbuka dengan kurma jika mudah diperoleh atau dengan air. 

Dalilnya adalah hadits yang disebutkan di atas dari Anas. Hadits tersebut menunjukkan bahwa ketika berbuka disunnahkan pula untuk berbuka dengan kurma atau dengan air. Jika tidak mendapati kurma, bisa digantikan dengan makan yang manis-manis. Di antara ulama ada yang menjelaskan bahwa dengan makan yang manis-manis (semacam kurma) ketika berbuka itu akan memulihkan kekuatan, sedangkan meminum air akan menyucikan.[16]
 
4. Berdo'a ketika berbuka

Perlu diketahui bersama bahwa ketika berbuka puasa adalah salah satu waktu terkabulnya do'a. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

"Ada tiga orang yang do'anya tidak ditolak: (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terdzolimi."[17] Ketika berbuka adalah waktu terkabulnya do'a karena ketika itu orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri.[18]

Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika berbuka beliau membaca do'a berikut ini,

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

"Dzahabazh zhoma'u wabtallatil 'uruqu wa tsabatal ajru insya Allah (artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)"[19]

Adapun do'a berbuka,

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

"Allahumma laka shumtu wa 'ala rizqika afthortu (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku berbuka)"[20] Do'a ini berasal dari hadits dho'if (lemah).

Begitu pula do'a berbuka,

اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

"Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa 'ala rizqika afthortu" (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku beriman, dan dengan rizki-Mu aku berbuka), Mula 'Ali Al Qori mengatakan, "Tambahan "wa bika aamantu" adalah tambahan yang tidak diketahui sanadnya, walaupun makna do'a tersebut shahih.[21] Sehingga cukup do'a shahih yang kami sebutkan di atas (dzahabazh zhoma'u …) yang hendaknya jadi pegangan dalam amalan.

5. Memberi makan pada orang yang berbuka.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

"Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga."[22]

6. Lebih banyak berderma dan beribadah di bulan Ramadhan

Dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّصلى الله عليه وسلمأَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُعَلَيْهِ السَّلاَمُيَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِى رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ ، يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِىُّصلى الله عليه وسلمالْقُرْآنَ ، فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُعَلَيْهِ السَّلاَمُكَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar melakukan kebaikan. Kedermawanan (kebaikan) yang beliau lakukan lebih lagi di bulan Ramadhan yaitu ketika Jibril 'alaihis salam menemui beliau. Jibril 'alaihis salam datang menemui beliau pada setiap malam di bulan Ramadhan (untuk membacakan Al Qur'an) hingga Al Qur'an selesai dibacakan untuk Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Apabila Jibril 'alaihi salam datang menemuinya, beliau adalah orang yang lebih cepat dalam kebaikan dari angin yang berhembus."[23]

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lebih banyak lagi melakukan kebaikan di bulan Ramadhan. Beliau memperbanyak sedekah, berbuat baik, membaca Al Qur'an, shalat, dzikir dan i'tikaf."[24]

Dengan banyak berderma melalui memberi makan berbuka dan sedekah sunnah dibarengi dengan berpuasa itulah jalan menuju surga.[25] Dari 'Ali, ia berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

« إِنَّ فِى الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا ». فَقَامَ أَعْرَابِىٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ »

"Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya." Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, "Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?" Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan shalat pada malam hari diwaktu manusia pada tidur."[26]

Semoga sajian ini bermanfaat.


[1] 'Aunul Ma'bud, 6/336.
[2] HR. Ahmad 3/367. Syaikh Syu'aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini derajatnya hasan dilihat dari jalur lainnya, yaitu hasan lighoirihi.
[3] HR. Bukhari no. 1923 dan Muslim no. 1095.
[4] Al Majmu' 6/359.
[5] HR. Muslim no. 1096.
[6] 'Aunul Ma'bud, 6/336.
[7] HR. Ahmad 3/12, dari Abu Sa'id Al Khudri. Syaikh Syu'aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lainnya.
[8] Yang dimaksudkan dengan adzan di sini adalah adzan kedua yang dilakukan oleh Ibnu Ummi Maktum, sebagai tanda masuk waktu shubuh atau terbit fajar (shodiq). (Lihat Fathul Bari, 2/54)
[9] HR. Bukhari no. 575 dan Muslim no. 1097.
[10] Lihat Fathul Bari, 4/138.
[11] Majmu' Fatawa Ibnu Baz, 15/281-282.
[12] HR. Bukhari no. 1957 dan Muslim no. 1098, dari Sahl bin Sa'ad.
[13] HR. Ibnu Hibban 8/277 dan Ibnu Khuzaimah 3/275. Syaikh Syu'aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.
[14] Lihat Shifat Shoum Nabi, hal. 63.
[15] HR. Abu Daud no. 2356 dan Ahmad 3/164. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.
[16] Lihat Kifayatul Akhyar, hal. 289.
[17] HR. Tirmidzi no. 2526 dan Ibnu Hibban 16/396. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[18] Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 7/194.
[19] HR. Abu Daud no. 2357. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.
[20] HR. Abu Daud no. 2358, dari Mu'adz bin Zuhroh. Mu'adz adalah seorang tabi'in. Sehingga hadits ini mursal (di atas tabi'in terputus). Hadits mursal merupakan hadits dho'if karena sebab sanad yang terputus. Syaikh Al Albani pun berpendapat bahwasanya hadits ini dho'if. (Lihat Irwaul Gholil, 4/38)
Hadits semacam ini juga dikeluarkan oleh Ath Thobroni dari Anas bin Malik. Namun sanadnya terdapat perowi dho'if yaitu Daud bin Az Zibriqon, di adalah seorang perowi matruk (yang dituduh berdusta). Berarti dari riwayat ini juga dho'if. Syaikh Al Albani pun mengatakan riwayat ini dho'if. (Lihat Irwaul Gholil, 4/37-38)
Di antara ulama yang mendho'ifkan hadits semacam ini adalah Ibnu Qoyyim Al Jauziyah. (Lihat Zaadul Ma'ad, 2/45)
[21] Mirqotul Mafatih, 6/304.
[22] HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5/192, dari Zaid bin Kholid Al Juhani. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[23] HR. Bukhari no. 1902 dan Muslim no. 2308.
[24] Zaadul Ma'ad, 2/25.
[25] Lihat Lathoif Al Ma'arif, 298.
[26] HR. Tirmidzi no. 1984. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa ini hasan.