Takut Sunat?

Mengapa Orang Kristen Takut Sunat?
                                            

Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah (1Korintus 7:19)
Jadi menurut Paulus berdasar ayat di atas:
1.    Sunat tidak penting bahkan dianggap bukan bagian dari hukum-hukum Allah
2.    Penting untuk mentaati hukum-hukum Allah


Benarkah sunat tidak penting dan bukan bagian dari hukum-hukum Allah?
(7) Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau (Abraham) serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu.

(10) Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; (11) haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu. (13) Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal. (14) Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku." (Kejadian 17).

Ternyata sunat adalah sangat penting dan merupakan bagian dari hukum-hukum Allah!
Sunat berlaku bagi semua keturunan Abraham dan semestinya bagi siapapun yang merasa sepenuh hati, serius (bukan sekedar ikut-ikutan) menyembah Allah, Eloah, Elohim, YHWH atau dalam nama apapun yang jelas Tuhan yang disembah oleh Abraham dan juga Tuhan yang disembah oleh Yesus.
Bagi yang tidak sunat berarti:
1.    Allah tidak mengakui keimanannya, karena itu jangan sok mengenal atau dikenal Allah, mengaku sebagai anak-anak Allah, berkhayal pasti masuk surga.
2.    Kecuali ateis, maka harus dilenyapkan sebab telah mengingkari perjanjian yang kekal dengan Allah.
Karena sunat sangat penting dan terbukti merupakan bagian dari hukum-hukum Allah, sedangkan Paulus pada 1Korintus 7:19 di atas menyatakan penting untuk mentaati hukum-hukum Allah, maka bila orang Kristen masih mengaku menyembah Tuhannya Abraham, semestinya wajib bersunat!    


Benarkah orang Kristen wajib bersunat?
(2) Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu. (3) Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat. 4) Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia. (Galatia 5)

Jadi menurut Paulus, berdasar ayat di atas orang Kristen bahkan wajib tidak bersunat dan wajib tidak mengikuti hukum Taurat!  Tetapi penting (sesuai 1Korintus 7:19) untuk mentaati hukum-hukum Allah!  Hmm… cukup membingungkan! 
Hal ini ada dua kemungkinan:
1.    Bisa jadi Allah yang disembah Paulus bukanlah Allah yang disembah Abraham dan bukan pula Allah yang menurunkan kitab Taurat.
2.    Bisa pula yang dimaksud adalah hukum-hukum yang dibuat oleh Paulus sendiri tetapi mengatasnamakan/ dikatakan sebagai hukum-hukum dari Allah.


Pilih yang mana?
Berdasar surat-surat yang ditulis oleh Paulus dan dibundel dalam Bible, poin kedua lebih besar peluangnya. Apalagi dalam Galatia 5:12 disebutkan: Baiklah mereka yang menghasut kamu itu mengebirikan saja dirinya! Dan Galatia (6:12): Mereka yang secara lahiriah suka menonjolkan diri, merekalah yang berusaha memaksa kamu untuk bersunat, hanya dengan maksud, supaya mereka tidak dianiaya karena salib Kristus. (13) Sebab mereka yang menyunatkan dirinyapun, tidak memelihara hukum Taurat. Tetapi mereka menghendaki, supaya kamu menyunatkan diri, agar mereka dapat bermegah atas keadaanmu yang lahiriah. Serta umpatan Paulus yang sangat kasar dalam Filipi (3:2): Berhati-hatilah terhadap orang-orang yang melakukan hal-hal yang jahat, orang-orang yang pantas disebut 'anjing'. Mereka mendesak supaya orang-orang disunat.




Siapakah mereka? 
Mereka adalah murid-murid Yesus (Yakobus, Petrus dan Barnabas; lihat juga Galatia 2:11-14). 
Kenapa Paulus begitu marah pada mereka hingga dalam "tulisan sucinya" menyebutkan mereka adalah penghasut yang pantas disebut 'anjing' dan untuk mengebirikan saja dirinya?
Karena mereka sangat menekankan perintah untuk bersunat sesuai kitab Kejadian 17, supaya mentaati hukum Taurat yang telah diperbaiki/ digenapi/ dinasakh mansukh dengan Injil oleh Yeshua Hamasiah Isa al-Masih.

Dapat disimpulkan bahwa perintah wajib tidak bersunat dan wajib tidak mengikuti hukum Taurat  hanyalah ajaran Paulus dalam rangka memperoleh pengikut sebanyak-banyaknya terutama dari kalangan non-Yahudi yang tak bernyali, takut menghadapi gunting sunat (lihat pula Kisah 21:21). Untuk memuluskan aksi dan ajarannya, Paulus bertindak sebagai Tuhan dengan menyingkirkan kitab Kejadian 17 maupun hukum Taurat secara umum (padahal sebenarnya sudah dipermudah melalui kitab Injil yang diturunkan kepada Yesus) dan membuat hukum baru yang berlabel Sunat Hati ataupun Sunat Kristus dalam berbagai fraselogi neoplatonisme sekaligus mengesankan seolah-olah hukum Taurat sangat berat untuk diikuti:

(2) Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu. (3) Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat (Galatia 5); (11) Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa (Kolose 2). (3) karena kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah, dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah (Filipi 3:3)  (15) sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera (Efesus 2)

Adapun istilah Sunat Hati itu sendiri sebenarnya telah ada dalam Perjanjian Lama yang diaplikasikan secara simultan dengan Sunat Daging (Kejadian 17), dalam ayat-ayat seperti berikut:
Sunatlah dirimu bagi TUHAN, dan jauhkanlah kulit khatan hatimu, hai orang Yehuda dan penduduk Yerusalem, supaya jangan murka-Ku mengamuk seperti api, dan menyala-nyala dengan tidak ada yang memadamkan, oleh karena perbuatan-perbuatanmu yang jahat!" (Yeremia 4:16). Sebab itu sunatlah hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk (Ulangan 10:16).


Jadi, masihkah takut untuk bersunat? Tidak sakit loh..!
Atau masih kukuh mengikuti ajaran Paulus (ayat-ayat di atas) yang ditulis dalam kondisi sedang marah, sehingga sangat mungkin bukan berdasar ilham dari Roh Kudus. Terbukti ajarannya sangat jelas bertentangan dengan kitab Kejadian 17. 
Hmm… pikirkanlah, karena resikonya sangat besar yakni Allah tidak akan mengakui imanmu, Allah tidak sudi menjadi Tuhanmu. 

Dan bukankah selama ini orang Kristen sangat suka mengadakan berbagai pesta perayaan seperti Natal, Paskah, Jumat Agung, pesta Mingguan/ Sabtuan dll. yang sangat jelas bertentangan dengan ajaran Paulus; (10) Kamu dengan teliti memelihara hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa yang tetap dan tahun-tahun. (11) Aku kuatir kalau-kalau susah payahku untuk kamu telah sia-sia (Galatia 4). Kenapa?  kenapa masih pilah-pilih ajaran Paulus?  Kenapa tidak lupakan saja semua ajaran Paulus dan kembali ke ajaran Yesus!? - sebagai bukti kesetiaan kepada Allah, sehingga Allah tetap mengakui keimananmu … supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu (Kejadian 17:7). 
Atau…???


Link mengenal sunat-khitan:

Elena Pouliasi

Elena Pouliasi: sempat salah duga tentang kehidupan Muslimah

ATHENA - Melihat penampilannya sekarang, tak ada yang menyangka gadis yang tumbuh di lingkungan kelas menengah Yunani ini belum pernah bersinggungan dengan Islam sampai ia menginjak usia 20-an tahun.Elena Pouliasi, kini anggun dalam balutan busana Muslimah. Ia bersyahadat setahun lalu dengan mengambil risiko yang sangat besar, pecahnya hubungan dengan keluarga besarnya. "Setidaknya, orang tua saya tahu saya 'jatuh' ke arah kebenaran, bukan ke jurang narkoba," ia tersenyum menuturkannya.

Elena mengenal Islam jauh dari negerinya, yakni di Inggris. Ia terbang ke negara itu untuk melanjutkan pendidikan, tiga tahun lalu.  Di negara ini, populasi Muslim cukup banyak. Ia kerap bersinggungan dengan mereka baik di kampus atau di sekitar tempat ia tinggal di London.

"Seperti kebanyakan orang Yunani, aku tumbuh dengan mentalitas bahwa Muslim adalah orang-orang yang ketat dan tertindas. Aku melihat wanita dengan jilbab dan aku prihatin. Mereka sungguh tak punya kehidupan," ia menceritakan apa yang ada dalam pikirannya saat sebelum berislam.

Namun makin dekat dengan mereka, Elena menemukan kondisi yang berbeda. Dua sahabatnya di London berasal dari Arab Saudi - ia menggambarkan mereka sebagai sangat cerdas dan berbakat - dan apa yang dibayangkannya tentang ketertindasan sangat jauh dari kenyataan. "Mereka secara alami mengenakan jilbab. Tapi mereka sungguh independen," katanya.

Elena mulai mencari tahu tentang Islam. Ia juga kerap membaca Al-Quran dalam terjemahan bahasa Yunaninya. "Aku mulai menyadari bahwa aku keliru selama ini. Aku melihat, sebagai contoh, cinta dan menghormati wanita dan ibu adalah utama dalam Islam," katanya.

Ia makin larut belajar Islam. "Hampir tidak sadar aku berhenti minum dan makan daging babi," katanya.

Proses ini berlangsung sekitar delapan bulan. "Aku merasa aku mulai hidup sebagai seorang Muslim. Aku berhati-hati saat aku pergi, aku lebih berhati-hati dengan pakaian yang kupakai, aku berhenti bersumpah serapah, dan menjadi lebih murah hati dan sopan," katanya.

Pada 15 Mei tahun lalu, ia resmi menjadi seorang Muslim. Jilbab sempat menjadi hal yang dikhawatirkannya. Pada awalnya, ia mengenakan jilbab ketika ia di keluar kantor, tapi begitu masuk halaman kantornya, ia buru-buru melepaskan dan menyimpannya di dashboard mobilnya. Namun, kini ia konsisten mengenakannya, apapun risiko yang dihadapi. Elena kini memiliki kantor sendiri, sebuah biro penerjemah resmi  (Sumber: kathimerini.gr by REPUBLIKA.CO.ID)





Kabar Duka Cita:

KABAR DUKA CITA BAGI UMAT KATOLIK (di seluruh dunia)

Saya rasa judul di atas sangat tepat untuk artikel ini.
Meskipun penulis hanya meyakini suatu keimanan yang dibangun berdasarkan ilmu, bukan suatu keimanan buta yang hanya berdasarkan "kesaksian", tetapi karena "kesaksian" merupakan bagian integral dari keimanan mereka, baik dari Katolik maupun Protestan, oleh karena itu artikel ini menjadi sangat penting bagi mereka.

Ya, artikel ini sangat penting bagi mereka justru karena artikel ini berdasarkan "kesaksian". Bukankah hampir di setiap kegiatan gereja ada acara yang dikemas dalam berbagai model yang pada intinya adalah ungkapan kesaksian...?  Baik kesaksian dari mereka yang merasa telah "diberkati" kesaksian dari mereka yang merasa telah disembuhkan, kesaksian dari mereka yang merasa telah bertemu "sosok kudus" dan lain-lain yang intinya adalah ungkapan "kesaksian".  

Tidak hanya itu, mereka juga senang sekali show off: "pamer kesaksian" dalam berbagai media, baik media cetak maupun elektronik, karena itu ada acara "kesaksian" di televisi yang dikemas dalam merek acara "solusi" (*yang tidak memecahkan masalah) ataupun acara “obat malam: 24 jam” (*yang tidak manjur).

Lantas mengapa kesaksian ini sangat penting sekaligus kabar duka bagi umat Katolik di seluruh dunia…?  

Ya, karena kesaksian ini mengenai orang yang begitu penting bagi umat Katolik. Orang yang telah dinobatkan sebagai Beato (yang berbahagia: telah berada di surga dan dapat mendoakan orang lain) melalui proses beatifikasi yang dihadiri secara langsung oleh 1,5 juta orang di lapangan Santo Petrus, yang bahkan kelak dalam tahap kanonisasi keempat/ terakhir akan mendapat gelar Santo (orang kudus: yang telah sempurna menyatu dengan Tuhan, dan sebagai subjek kultus/ perantara yang secara resmi dinyatakan "manjur"). 

Kepada para santo/santa, beata/beato inilah umat Katolik biasanya melakukan devosi (kebaktian, penyerahan diri, perantaraan kepada Tuhan). Suatu kebiasaan yang seringkali ditiru oleh muslim 'jenis' kuburiyyun, yakni dengan melakukan tawasul kepada para wali (tawasul bid’ah bahkan sering bercampur dengan kesyirikan).

Dan inilah kabar dukanya. Kabar duka berupa kesaksian dari Angelica Zambrano (18), seorang anak perempuan Ekuador yang merasa telah diperlihatkan Neraka. Menjadi kabar duka karena kesaksiannya berlawanan 180 derajat dengan keyakinan umat Katolik bahwa Paus Yohanes II telah berada di Surga sehingga memberikan gelar Beato kepadanya.  

Ya, Angelica Zambrano memberikan kesaksian bahwa Paus Yohanes II berada di Neraka...…aaahhh!!!

Di Neraka, orang-orang akan tersiksa dengan ingatan-ingatan yg mereka lakukan di Bumi. Para setan akan memperolok mereka dan mengatakan, ”Sembah dan pujilah karena inilah kerajaanmu!" dan orang-orang tersebut akan menjerit mengingat bahwa mereka mengenal Tuhan, karena mereka mengenal FirmanNya. Mereka yang mengenal Tuhan tersiksa dua kali lipat.
Tuhan berkata, "Tidak ada kesempatan lagi [bagi mereka yang di sini]; masih ada kesempatan bagi mereka yang hidup." Aku bertanya kepadaNya, "Tuhan, mengapa nenek buyutku ada di sini? Aku tidak tahu bahwa ia pernah mengenalMu. Mengapa ia ada di neraka, Tuhan?" Ia menjawab, "Putri, ia ada di sini karena ia gagal utk mengampuni... Putri, ia yang tidak dapat mengampuni, Aku juga tidak akan mengampuninya."

Aku bertanya, "Tuhan, tetapi Engkau dapat mengampuni, dan Engkau penuh dengan belas kasihan." Dan Ia menjawab, "Ya, Putri, tetapi itu perlu untuk mengampuni, karena mereka tidak dapat mengampuni banyak orang dan itu sebabnya ada banyak orang di tempat ini, karena mereka gagal untuk mengampuni... Pergi dan beritahukan manusia bahwa ini saatnya untuk mengampuni, dan terutama umatKu, banyak dari umatKu yg tidak dapat mengampuni. Beritahukan mereka untuk membuang dari diri mereka dendam, kekecewaan, kebencian dari hati mereka, karena inilah waktunya untuk mengampuni! Jika kematian menjadi kejutan bagi orang yang telah gagal untuk mengampuni, maka orang itu akan pergi ke neraka, karena tidak ada seorang pun yang dapat membeli kehidupan." Ketika kami meninggalkan tempat itu, nenek buyutku telah ditelan oleh api dan ia menjerit, "Aaahhh," dan mulai menghujat nama Allah, ia akan mengutuki Dia; setiap orang di neraka menghujat melawan Allah.

Ketika kami meninggalkan tempat itu, aku dapat melihat neraka penuh dengan jiwa yang tersiksa. Banyak orang akan mengulurkan tangan mereka keluar, memohon Yesus untuk menolong mereka dan membawa mereka keluar dari sana. Tetapi Tuhan tidak bisa berbuat apa-apa untuk mereka dan mereka akan mulai menghujat Allah. Kemudian Yesus akan menangis dan berkata, “Ini menyakitkan Aku untuk mendengar mereka, itu menyakitkanKu melihat apa yang mereka lakukan, karena Aku tidak bisa lagi berbuat apapun bagi mereka. Apa yang akan Kuberitahukan padamu adalah bahwa Aku masih mempunyai kesempatan bagi dia yang masih di Bumi, yang belum mati, yang masih hidup; ia masih memiliki waktu untuk bertobat!”

Tuhan mengatakan kepadaku ada banyak orang terkenal di neraka, dan juga banyak orang yang tahu tentang Tuhan. Ia berkata, "Aku akan menunjukkan kepadamu bagian lain dari tungku." Kami datang ke suatu tempat di mana seorang wanita dikelilingi oleh api. Ia dalam siksaan yang besar dan akan menjerit, memohon kepada Tuhan untuk belas kasihan. Yesus menunjuk kepadanya dengan tanganNya dan berkata, "Putri, wanita yang engkau lihat di sana, yang dikelilingi oleh api, adalah Selena"  Ketika kami mulai semakin dekat, ia berteriak, "Tuhan, kasihanilah aku, maafkan aku Tuhan, bawa aku keluar dari tempat ini!" Tetapi Tuhan memandangnya dan berkata," Sudah terlambat, sudah terlalu terlambat. Engkau tidak dapat bertobat sekarang."

Ia melihatku dan berkata, "Tolong, aku mohon, pergi beritahu orang-orang tentang ini, tolong berbicara dan jangan diam, pergi dan beritahu mereka untuk tidak datang ke tempat ini, pergi dan beritahu mereka untuk tidak mendengarkan laguku, atau menyanyikan lagu-laguku." Jadi aku bertanya padanya, "Kenapa kau ingin aku pergi dan mengatakannya?" Dan ia menjawab, "Karena setiap kali orang bernyanyi dan mendengarkan lagu-laguku, aku bahkan lebih tersiksa, orang yang melakukan hal ini, yang bernyanyi dan mendengarkan lagu-laguku, sedang berjalan ke tempat ini. Tolong, pergi beritahukan mereka untuk tidak datang ke sini, pergi beritahukan mereka bahwa neraka itu nyata!" Ia akan menjerit dan setan-setan akan melemparkan tombak dari jauh ke dalam tubuhnya dan ia akan menangis, "Tolong aku, Tuhan, kasihanilah aku, Tuhan!" Tapi sayangnya, Tuhan berkata, "Ini adalah terlambat."

Aku melihat seluruh daerah itu, penuh dengan penyanyi dan seniman yang telah meninggal. Yang mereka lakukan adalah menyanyi dan menyanyi, mereka tidak akan berhenti bernyanyi. Tuhan menjelaskan, " Putri, orang yang ada di sini, harus terus melakukannya di sini, apa pun yang mereka lakukan di bumi, jika mereka tidak bertobat."
Ketika aku sedang mengamati daerah itu, aku melihat banyak setan yang menumpahkan turun beberapa jenis hujan. Aku benar-benar pikir itu hujan. Tapi aku melihat orang-orang di dalam api melarikan diri dari hujan dan berteriak, "Tidak, tolong aku, Tuhan! ...Tidak, ini tidak bisa," dan setan akan tertawa dan mengatakan kepada orang-orang itu, "Pujilah dan menyembahlah karena ini adalah kerajaanmu selama-lamanya!" Aku melihat api dan cacing orang-orang itu akan meningkat bertambah banyak! Tidak ada air di sana, itu adalah belerang yang akan menambahkan api dan meningkatkan penderitaan setiap orang. Aku bertanya kepada Yesus, "Apa yang terjadi...Tuhan, apa ini?" Tuhan menjawab, "Ini adalah upah dari siapapun yang tidak bertobat." (Mazmur 11:6)

Lalu Tuhan membawaku ke tempat dimana ada seorang yang sangat terkenal. Sebelumnya, aku biasanya hidup sebagai seorang gadis muda Kristen yang berpikiran ganda. Dulu aku berpikir bahwa setiap orang yang mati akan pergi ke Surga, bahwa mereka yang merayakan misa, juga akan masuk surga, tapi aku salah. Ketika Paus Yohanes Paulus II meninggal, teman-teman dan kerabat akan memberitahuku bahwa ia telah pergi ke surga. Semua berita di TV, pada Extra dan banyak tempat lainnya akan berkata, "Paus Yohanes Paulus II telah meninggal, semoga ia beristirahat dalam damai. Ia sekarang bersukacita dengan Tuhan dan malaikat di surga" dan aku percaya semua itu. Tapi aku hanya menipu diriku sendiri, karena aku melihat dia di neraka, yang tersiksa oleh api. Aku menatap wajahnya, itu adalah Yohanes Paulus II (John Paul II). Tuhan berkata padaku, "Lihat, Putri, pria yang engkau lihat itu di sana, adalah Paus Yohanes Paulus II. Ia ada di sini di tempat ini; ia sedang tersiksa karena ia tidak bertobat."

Tapi aku bertanya, "Tuhan, mengapa ia ada di sini? Ia biasa berkhotbah di gereja." Yesus menjawab, " Putri, tidak ada pezinah, tidak ada penyembah berhala, tidak ada orang yang serakah dan tidak ada pendusta yang akan mewarisi Kerajaan-Ku." (Efesus 5:5). Aku menjawab, "Ya, aku tahu itu benar, tapi aku ingin tahu mengapa ia ada di sini, karena ia biasa berkhotbah kepada banyak orang!" Dan Yesus menjawab, "Ya, Putri, ia mungkin telah mengatakan banyak hal, tetapi ia tidak pernah berbicara kebenaran seperti yang ada. Ia tidak pernah mengatakan kebenaran dan mereka tahu kebenaran dan meskipun ia tahu kebenaran, ia lebih menyukai uang daripada berkhotbah tentang keselamatan. Ia tidak akan menawarkan kenyataan; tidak akan mengatakan bahwa neraka itu nyata dan surga juga ada; Putri, sekarang dia ada di sini di tempat ini."

Ketika aku melihat pria ini, ia memiliki ular besar dengan jarum-jarum, melilit tenggorokannya, dan ia akan mencoba untuk melepasnya. Aku memohon dengan Yesus, "Tuhan, bantulah dia!" Pria itu akan berteriak, "Tolong aku, Tuhan, kasihanilah aku, bawa aku keluar dari tempat ini, maafkan aku, aku bertobat, Tuhan! Aku ingin kembali ke bumi, aku ingin kembali ke bumi untuk bertobat." Tuhan mengamati dia dan berkata kepadanya, "Engkau sangat tahu dgn baik. Engkau tahu benar bahwa tempat ini nyata... Sudah terlambat; tidak ada kesempatan lagi untukmu."

Tuhan berkata, "Dengar, Putri, Aku akan menunjukkan kehidupan orang ini." Yesus menunjukkan layar besar di mana aku bisa mengamati bagaimana orang ini menawarkan misa berkali-kali kepada orang banyak. Dan bagaimana orang-orang yang ada begitu khidmat menyembah berhala. Yesus berkata, "Dengar, Putri, ada banyak penyembah berhala di tempat ini. Penyembahan berhala tidak akan menyelamatkan, Putri. Aku satu-satunya yang menyelamatkan, dan di luar Aku, tidak ada yang menyelamatkan. Aku mengasihi pendosa, tetapi aku benci dosa, Putri. Pergi dan beritahukan manusia bahwa aku mengasihi mereka dan bahwa mereka perlu datang kepada-Ku."

Ketika Tuhan sedang berbicara, aku mulai melihat bagaimana orang ini menerima banyak sekali koin dan uang kertas; uang, semua yang dia akan simpan. Ia punya begitu banyak uang. Aku melihat gambar orang ini duduk di atas takhta, tetapi aku juga bisa melihat lebih dari itu. Memang benar bahwa orang-orang ini tidak menikah, aku dapat meyakinkanmu, aku tidak mengada-ada, Tuhan menunjukkan kepadaku, orang-orang itu tidur dengan biarawati; dengan banyak perempuan di sana!

Tuhan menunjukkan kepadaku orang-orang ini hidup dalam percabulan, dan Firman mengatakan bahwa pezinah tidak akan mewarisi Kerajaan-Nya. Saat aku sedang menonton semua ini, Tuhan berkata, "Lihat Putri, semua ini yang aku tunjukkan kpdmu adalah apa yang terjadi, apa yang ia jalani dan apa yang terus terjadi di antara banyak orang, di antara banyak imam dan paus yang ada." Kemudian ia berkata, "Putri, pergi dan beritahukan manusia bahwa sudah waktunya untuk berbalik kepadaKu."

Oohhh…. sungguh suatu kesaksian yang membuat pilu hati, kabar duka bagi umat Katolik di seluruh dunia. Dan merupakan suatu hal yang lazim bahwa, dimana pimpinan berada kesanalah umat awam pengikutnya akan menyusul kemudian. Percaya atau tidak, ini adalah suatu “kesaksian” !!!  

Iman Sotiria Kouvalis

Iman Sotiria: Tuhan, pilihkan agama buatku!


KANADA – Perkenalan Iman Sotiria Kouvalis dengan Islam dimulai dengan cara yang aneh. Suatu hari ia melihat perempuan Muslim di kampus dan merasa kasihan pada mereka. "Aku tidak mengenal mereka tapi ketika kami menyeberangi jalan di kafetaria, aku tersenyum pada mereka karena aku pikir mereka tertindas. Aku tidak pernah berbicara dengan mereka tapi aku hanya berasumsi bahwa mereka dipaksa memakai jilbab," katanya.


Saat itu, wanita yang tumbuh dan besar di Ontario, Kanada ini mengaku benar-benar berpikir bahwa semua orang di dunia adalah orang Kristen. Kejadian ini terjadi sekitar 10 tahun yang lalu, sebelum peristiwa 11 September terjadi.

Pada saat yang sama, Iman, begitu ia minta dipanggil sekarang, tengah mengalami kekosongan batin. Meskipun dibesarkan dalam keluarga Ortodoks Yunani dan menghadiri gereja setiap Minggu hampir tak pernah bolong, "Gereja tidak lagi memiliki arti dalam hidupku dan ada banyak pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh Gereja," katanya.

Suatu dikotomi mulai muncul, di mana kehidupan dan agama itu hanyut ke sisi berlawanan. "Aku tidak bisa melihat bagaimana membuat agama relevan dengan kehidupan sehari-hari. Dan itulah bagaimana aku mulai menjauh dari Gereja," katanya.

Di kampus, ia mulai berinteraksi dengan mahasiswa Muslim. "Mereka menghidupkan kembali rohaniku untuk menjadi dekat dengan Tuhan lagi," katanya. Ia mengaku sedikit cemburu; bagaimana mereka begitu setia dan damai dan aku tidak, meskipun aku akan ke surga dan mereka tidak?

Ia mulai masuk ke perdebatan agama dengan mereka. Salah satu misinya, mengenalkan Yesus. Ketika mereka menyatakan percaya pada Yesus, ia terkejut. "Mereka menghormati Yesus bukan sebagai Tuhan, tapi utusan Tuhan dan salah satu nabi mereka," katanya.

Diam-diam, ketika tidak ada yang melihat, ia menyelinap ke perpustakaan untuk membaca tentang Islam untuk meyakinkan mereka bahwa mereka salah. "Aku hanya menemukan beberapa buku benar-benar aneh dan tua. Saat itu adalah zaman pra-Google  sehingga tidak ada sumber informasi lain yang bisa dikorek," katanya.

Suatu hari, saat berjalan menyusuri salah satu aula universitas ia melihat beberapa pamflet di dinding tentang Islam. Sampai di rumah ia mulai membaca dan takjub. Satu pamflet bahkan berbicara tentang isyarat Muhammad dalam Alkitab. "Alkitab? Aku pikir ini bohong! Tapi aku memeriksa ayat dalam Alkitab, ternyata benar," katanya.

Ia makin bimbang. "Sampai di satu titik aku berdoa pada Tuhan untuk menunjukkan mana agama yang benar," katanya.

Ia mendatangi gereja  lagi, dan lebih sering ke sana, dua kali seminggu. "Aku mulai membaca Alkitab lagi, tapi kali ini dalam rangka untuk menemukan jawaban atas pertanyaanku," katanya.

Setelah berbulan-bulan ini, ia mengaku tidak tahan lagi dan memutuskan untuk pergi menemui pendeta. "Pertanyaanku tiga: Jika Yesus mati untuk dosa-dosa kita dan kita hanya perlu percaya ini untuk diselamatkan dan masuk surga, lalu bagaimana itu masuk akal? Itu berarti aku dapat melakukan dosa dan diselamatkan? Bagaimana bisa Tuhan 3 in 1? Apa pendapat Anda tentang Islam?"

"Untuk dua pertanyaan pertama, ia mencoba yang terbaik untuk menjelaskan, tapi sudah jelas bagiku bahwa ada banyak ambiguitas dalam jawabannya. Ketika kami sampai ke pertanyaan ketiga, matanya melotot keluar dan wajahnya memerah! Ia memintaku untuk menjauh dari orang-orang yang mempengaruhiku hingga bertanya demikian."

Ia meninggalkan pertemuan dengan kecewa. "Untuk pertama kalinya, hal ini menyebabkan celah pasti dalam imanku. Aku justru makin menemukan jawaban," katanya.

Setelah berbulan-bulan lebih intens membaca, studi kritis terhadap kedua agama dan berdoa pada Tuhan untuk ditunjukkan agamanya, hatinya makin condong pada Islam. Namun, ia masih ragu dan takut akan perubahan sikap orang-orang terdekatnya, terutama keluarganya. Ia takut menyakiti hati mereka.

Namun, ia dikuatkan setelah bertemu ayat 113-115 dalam surat Ali Imran. "Aku mengerti bahwa sebagai Muslim kita harus menghormati orang dari agama lain untuk beberapa dari mereka benar-benar tulus dan mereka percaya Allah. Pada akhirnya, bukan mereka atau aku yang akan menghakimi orang, hanya Tuhan yang bisa melakukan itu," katanya.

Iapun memutuskan bersyahadat. "Aku datang pada Islam melalui buku. Melalui studi kritis dan intens seperti mualaf lain.  Jika Anda berada dalam situasi ini, Anda berutang kepada diri sendiri untuk menemukan jawaban sekarang karena kita tidak tahu kapan kita akan mati.  Dan untuk diketahui bahwa Tuhan memberikan kita pikiran untuk berpikir kritis. It's OK untuk mengajukan pertanyaan dan it's OK untuk menemukan jawaban."  
(Sumber: Greeks Rethink  by REPUBLIKA.CO.ID)

OK sister ! *******