Takdir bani Israel, Yahudi, Yahudism (Wahyu 12)


Maka tampaklah suatu tanda besar dilangit: Seorang perempuan berselubung matahari, dengan bulan dibawah kakinya dan sebuah mahkota dari duabelas bintang di atas kepalanya/1/. Ia sedang mengandung dan dalam keluhan penderitaannya hendak melahirkan berteriak kesakitan/2/. Maka tampaklah suatu tanda yang lain di langit; dan lihatlah, seekor naga merah padam yang besar berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan diatas kepalanya ada tujuh mahkota/3/. Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi. Dan naga itu berdiri dihadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkannya/4/. Maka ia melahirkan seorang anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan tahtanya/5/. Perempuan itu lari ke padang gurun, dimana telah disediakan suatu tempat baginya oleh Allah, supaya ia dipelihara disitu seribu dua ratus enam puluh hari lamanya/6/. Kepada perempuan itu diberikan kedua sayap dari burung nasar yang besar, supaya ia terbang ke tempatnya di padang gurun, di mana ia dipelihara jauh dari tempat ular itu selama satu masa dan dua masa dan setengah masa/14/.

1.       Dalam Bibel ada satu ayat dimana: matahari, bulan, bintang sebagai gambaran sebuah suku bangsa, yaitu Kejadian 37:9, sebagai gambaran keluarga Yakub, bani Israel. Maka ayat Wahyu tersebut adalah sebuah perlambang terkait/ mengenai bani Israel, Yahudi.
2.       Perempuan tersebut dalam arti secara khusus adalah bunda Maria (Mikha 5:2-4). Secara umum adalah bani Israel, bangsa Yahudi
3.       Yang dilahirkan adalah Yesus yang akan memimpin dengan gada besi/ kekuatan YHWH. “Jangan kamu menyangka aku datang membawa damai, tapi pedang!” dll.
4.       Tiba-tiba dirampas sesaat setelah dilahirkan, menunjukkan betapa singkatnya waktu pelayanan kenabiannya. Terbukti hanya sekitar tiga tahun, karena dirampas, disingkirkan oleh si naga merah, yaitu Romawi dan Yahudi yang menutup diri/ kafir dengan ajaran Yesus.
5.       Begitu singkat pelayanannya, maka wajar bila ajarannya dalam mereformasi syariat Musa belum lengkap, sangat diperlukan banyak penyempurnaan.
6.       Wajar pula bila bani Israel, bangsa Yahudi, yang telah begitu banyak diberi keistimewaan oleh Tuhan, tetapi berkali-kali menyeleweng, memberontak, bila Yesus mengutuknya: “Celakalah, celakalah, celakalah... bagimu hai para ahli kitab dan orang-orang Farisi. Hai ular! Hai keturunan ular beludak! Bagaimana kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka... para nabi dan orang bijak kalian bunuh, kamu salibkan, kamu siksa, maka tercurahlah darah semua orang benar dari Habel sampai darah Zakharia! (lih: Matius 23:33-39). Lebih jauh, Yesus juga mengatakan bahwa bangsa Yahudi bukan lagi sebagai anak Abraham, tapi sebagai anak Iblis (lih: Yohanes 8:39-44).
7.       Dari semua poin 6, berarti sama saja telah dicabut keistimewaan atas ‘jalur keselamatan khusus’ untuk bangsa Yahudi melalui jalur Nabi Ishak, sebagai bagian dari Perjanjian Keselamatan Tuhannya Abraham.(lih: Kejadian 17:7-14).
8.       Karena hanya ada dua jalur keselamatan dari Perjanjian Keselamatan Tuhannya Abraham, berarti supaya bisa selamat, bangsa Yahudi harus bergabung ke dalam ‘jalur keselamatan internasional,’ jalur Nabi Ismael, mengikuti risalah Nabi Muhammad SAW.
9.       Penggabungan jalur keselamatan dari Nabi Ishak-bani Israel-Yahudi kepada jalur keselamatan Nabi Ismael-Nabi Muhammad SAW, ini juga berarti sebagai penggenapan Zefanya (3:9), sehingga semua manusia tidak lagi hidup dalam kutukan menara Babel (Kejadian 11:1-9), tetapi bisa bahu membahu beribadah, menyembah kepada Tuhan Yang Satu, dengan arah dan bahasa yang sama dari seluruh dunia, berkiblat ke Ka’bah di Makkah dan dengan bahasa Arab.
10.   Poin 7, juga ditegaskan dalam Matius 21:43, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari bangsa Yahudi, diberikan ke bangsa lain. Sumber keselamatan, Tuhan Israel tidak lagi di gunung Gerizim Samaria ataupun di gunung Moria Yerusalem (lih: Yohanes  4:20-22), telah ada di Makkah, Saudi Arabia.
11.   Poin 7, ditegaskan pula dengan Nubuat dari Yesus, bahwa “Bait suci akan dihancurkan!” (lih: Matius 24:2,15), dimana untuk memahaminya seperti tertulis dalam Matius 24:15, supaya mengacu pada Nubuat Daniel.
12.   Dari Nubuat Daniel/ Sabat Daniel (7 abad): Yesus seorang Mesias, disingkirkan. Bait suci dihancurkan (70 M) oleh Romawi Titus (D-9:26). Otomatis ritual kurban Yudaism menjadi terhapus, Romawi menguasai Yerusalem selama 7 abad (D-9:27, band.11:31).
13.   Periode 3.5 abad pertama (D-12:11), 1290 hari/ dari awal dihancurkannya bait suci/ hapusnya ritual kurban Yudaism. Romawi Hadrian (117-138) membangun suatu kejijikan di bait suci, yaitu kuil Yupiter (135 M), dan dilestarikan penggantinya, Antoninus Pius (138-161), sebagai anti Kristus (D-9:27). Romawi Konstantin hancurkan kuil Yupiter (325 M) dan membangun gereja St. Sophia/ Holy Wisdom disebelah utara kuil Yupiter.
14.   Periode 3.5 abad kedua (D-7:19-26, 12:12), mengenai Romawi dan berbagai peperangan inter/ eksternal Romawi. Melahirkan Kekristenan Paulus, Trinitarian dengan berbagai tradisi buatannya (D-7:25), perang melawan Persia yang dibantu Yahudi (614 M), hampir seluruh gereja di Yerusalem dihancurkan. Kemudian Romawi mengalahkan Persia (627 M).  
15.   Akhir periode (D:12:12), sesudah 1335 hari/ 3.5 abad dari pertengahan Sabat Daniel, maka berakhir dengan: “Diberkatilah orang yang menanti-nanti dan mencapainya” yaitu sampai pada abad ke-7 M. Berkat ini datang seiring dengan kedatangan Khalifah Umar bin Khattab yang membebaskan Yerusalem dari Romawi (638 M), dan mulai saat inilah datang Yerusalem baru, kerajaan Allah, Islam telah sampai di Yerusalem (D-7:14, 22, 27).   
16.   Maka perempuan itu, bangsa Yahudi, yang telah lari ke padang gurun selama 1260 hari (3.5 abad), pulang kembali ke Yerusalem. Ini karena Khalifah Umar memberi kebebaskan penuh bagi siapapun untuk memasuki Yerusalem, bahkan Khalifah Umar saat itu menempatkan lebih dari 70 keluarga Yahudi dari Galilea, Tiberias, untuk tinggal di kota Yerusalem.
17.   Maka beginilah firman Tuhan YHWH: Tanggalkan perhiasan kebesaranmu dan lepaskan mahkotamu! Tiada yang tetap, semua mesti berubah. Yang rendah harus ditinggikan dan yang tinggi harus direndahkan. (Yehezkiel: 26).
18.   Puing, puing, puing! Itu sudah terjadi masa lalu, telah berakhir di abad ke-7.
19.   Dia yang adalah hakim telah datang, dan YHWH telah memberikannya. 

Bijaksanalah, semua itu sudah ditakdirkan :)


Islam dalam Nubuat Daniel


(Ini sambungan tulisan ini)

Islam dalam Nubuat Daniel ini terkait dengan sampainya agama Islam melalui Khalifah Umar bin Khattab di Yerusalem, Palestina. Dalam hal ini, Islam sungguh menempati posisi yang sangat istimewa.

Sangat istimewanya agama Islam dalam Nubuat Daniel ini karena Islam datang sebagai hal yang begitu dinantikan, didambakan, sebagai solusi persoalan sangat besar yang dihadapi bangsa Yahudi dan Yudaisme-nya, bait suci, Yesus dan ajarannya, etc., yang karena semua hal tersebut menjadi pengharapan besar agar bisa menjadi bagian dari orang-orang yang seperti tersebut dalam ayat ini:
“Diberkatilah orang yang menanti-nanti dan mencapai seribu tiga ratus tiga puluh lima hari.” (Daniel 12:12).

Nubuat Daniel ini ada dalam bingkai kitab Daniel 9:27, yaitu hal-hal yang akan terjadi selama tujuh abad, dari abad pertama sampai abad ketujuh.
“Raja itu akan membuat perjanjian itu menjadi berat bagi banyak orang selama satu kali tujuh masa. Pada pertengahan tujuh masa itu ia akan menghentikan korban sembelihan dan korban santapan; dan di atas sayap kekejian akan datang yang membinasakan, sampai pemusnahan yang telah ditetapkan menimpa yang membinasakan itu.” (Daniel 9:27).

Tujuh masa (abad) ini dibagi dalam dua periode yaitu, periode 3,5 abad pertama (Daniel 12:11), dan periode 3,5 abad kedua (Daniel: 7:19-25; 12-12). Pada kedua periode tersebut terjadi berbagai hal penting, juga di pertengahan kedua periode (Daniel 9:27, 11:31), dan hal yang sangat dinantikan di akhir periode (Daniel 12:12).

Perinciannya sebagai berikut:
1.       Periode 3,5 abad pertama (Daniel 12:11): Seorang mesias akan disingkirkan meskipun tidak ada kesalahan, yaitu pada 62 (atau 69) x 7 masa sejak bait kedua difungsikan (Daniel 9:26). Hal ini telah terjadi, dimana Yesus telah disingkirkan sehingga ia hanya bisa mengemban tugas kenabian sekitar 3.5 masa/ tahun.

Kemudian seorang raja akan menghancurkan bait suci (Daniel 9:26). Telah terjadi, yaitu oleh tentara kaisar Romawi (Titus) pada tahun 70 M. Kekaisaran Romawi pun telah meneguhkan perjanjian/ menguasai Yerusalem selama 7 abad, tepat seperti disebut dalam Daniel (9:27). Hancurnya bait suci oleh kaisar Romawi ini sebenarnya secara otomatis telah menghentikan tradisi kurban dalam Yudaisme (jadi bukan karena kematian orang yang dianggap sebagai Yesus).

2.      Pada pertengahan periode tujuh abad: akan dibangun sesuatu yang menjijikkan diatas lokasi bait tersebut (Daniel 9:27; bandingkan Daniel 11:31). Ini adalah kuil Yupiter yang dibangun oleh Kaisar Romawi, Hadrian, tahun 135 M. Dibangunnya kuil Yupiter ini benar-benar telah secara total menghentikan adanya korban sembelihan dan korban santapan dalam Yudaisme.

Diatas sayap kekejian (kuil Yupiter ini) akan datang yang membinasakan (Daniel 9:27), juga: “dari waktu kurban terus-menerus dihapuskan dan sesuatu yang menjijikkan (kuil Yupiter) itu ditetapkan, ada 1290 hari.” (Daniel 12:11, 1290 hari/ 3.5th/ 3.5 abad). Hal ini telah dipenuhi dimana pada tahun 325 M, kaisar Romawi berikutnya (Konstantin I) menghancurkan kuil Yupiter. Kaisar Konstantin menggantinya dengan membangun beberapa gereja, satu gereja, yaitu St. Maria/ Holy Wisdom/ Praetorium dibangun disebelah utara dekat reruntuhan kuil Yupiter.

3.      Periode 3,5 abad kedua (Daniel 7:19-26; 12:12): masih merupakan bagian dari “sayap kekejian yang membentang”, mengenai Romawi dan berbagai peperangan inter/ eksternal Romawi dan pengaruhnya di Yerusalem. Adanya larangan sunat dan masuk kota Yerusalem bagi Yahudi, dibangunnya suatu kejijikkan lainnya di bait suci (yaitu Praetorium), adanya pengajaran, ucapan  yang menentang Tuhan, mengubah waktu dan hukum terkait dalam perkembangan Kekristenan Romawi, Sabat diubah menjadi hari Minggu, adanya Trinitarian dengan berbagai doktrin dan tradisinya, etc.

Tahun 543 M, dibangun gereja terbesar melebihi Holy Spulture, yaitu Nea Church di Jewish Quarter saat ini. Namun gereja ini dan juga gereja Holy Wisdom, dihancurkan rata dengan tanah oleh Persia dan Yahudi di tahun 614 M. Sekitar 10 tahun kemudian, Kaisar Heraklius Romawi Bizantium kembali mengalahkan Persia, yaitu di tahun 627 M. (Kekalahan dan kemudian kemenangan Romawi atas Persia ini tepat seperti yang dikabarkan tujuh tahun sebelumnya dalam Al-Qur’an, Ar-Ruum/ 30:1-4).

4.      Akhir periode sesudah 1.335 hari (3.5 abad) dari periode 3.5 abad kedua (Daniel 12:12): yang disambut dengan: “Diberkatilah orang yang menanti-nanti dan mencapai 1.335 hari” (Daniel 12:12), yaitu sampai pada abad ke-7 M. Berkat ini datang seiring dengan kedatangan Khalifah Umar bin Khattab yang membebaskan Yerusalem dari Kristen Bizantium (638 M), dan mulai saat inilah datang Yerusalem baru, kerajaan Allah, Islam telah sampai di Yerusalem (Daniel 7:14, 22, 27). Beliau memberi kebebaskan bagi siapapun untuk memasuki Yerusalem, bahkan Khalifah Umar bin Khattab menempatkan lebih dari 70 keluarga Yahudi dari Tiberias untuk tinggal di kota Yerusalem (band. Wahyu: 12:6, 14).

Itulah Nubuat Daniel atas sampainya Islam di Yerusalem melalui Khalifah Umar bin Khattab, yang membawa berkah bagi bani Israel dan semua orang. Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu mewakili Islam atau Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sebagai “Ia yang adalah hakim datang, yang berhak atasnya, dan kepadanya akan Kuberikan itu. (Yehezkiel 21:27).

Nubuat Daniel inilah yang oleh Yesus untuk dipahami dan bagaimana menyikapinya, saat ia mengatakan kepada murid-muridnya di Bukit Zaitun (Matius 24:2,15).


Dari Nubuat Daniel ini semakin mengokohkan Nubuat dari Yesus sendiri, yang dikatakan kepada bani Israel Samaritan, bahwa akan datang waktunya bagi bani Israel harus tidak lagi menyembah Tuhan yang ada di gunung Gerizim Samaria ataupun di Moria Yerusalem; akan datang waktunya harus tidak lagi menyembah Tuhan tribal Israel, tapi harus menyembah Tuhan Internasional yang datang dari Arab (lihat Yohanes 4:21). 

Keselamatan dari Tuhannya Abraham untuk bani Israel yang awalnya datang melalui jalur khusus Ishak-Israel-Yahudi telah berakhir (lihat Yohanes 4:22; Matius 21:43).

Mene, mene, tekel Uparsin! Engkau telah dihitung, ditimbang dan ternyata kurang, maka harus menggabungkan diri untuk keselamatanmu melalui jalur internasional Ismael, mengikuti risalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Penggabungan jalur keselamatan dari Nabi Ishak-bani Israel-Yahudi kepada jalur keselamatan Nabi Ismael-Nabi Muhammad SAW, ini juga berarti sebagai penggenapan Zefanya (3:9), sehingga semua manusia tidak lagi hidup dalam kutukan menara Babel (Kejadian 11:1-9), tetapi bisa bahu membahu beribadah, menyembah kepada Tuhan Yang Satu, dengan arah dan bahasa yang sama dari seluruh dunia, berkiblat ke Ka’bah di Makkah dan dengan bahasa Arab.

Maka tepat sekali bila tergabungnya jalur keselamatan dari Nabi Ishak-bani Israel-Yahudi ini harus dikokohkan dengan pembangunan Masjid Al-Aqsa oleh Khalifah Umar bin Khattab (638 M), juga pembangunan Kubah Shakhrah (Dome of the Rock) oleh Khalifah Abdul Malik (691 M), di Al-Haram Asy-Syarif yang semua itu juga sebagai bentuk pemenuhan Nubuat dari Yesus dan para Nabi lainnya, sebagai keberkahan bagi bani Israel dan semua orang, sehingga bisa beribadah didalamnya berkiblat ke arah Ka’bah di Masjidil Haram di Makkah Al-Mukarramah.

Pembangunan Masjid Al-Aqsa ini juga sebagai penggenapan dari apa yang disampaikan Tuhannya Abraham melalui Nabi Zulkifli/ Yehezkiel, dimana Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu mewakili Islam atau Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sebagai: Ia yang adalah hakim datang, yang berhak atasnya, dan kepadanya akan Kuberikan itu.” (Yehezkiel 21:27).


Pembangunan Masjid Al-Aqsa telah mengokohkan pembangunan masjid yang kedua oleh Nabi Adam (40 tahun setelah Adam membangun Masjidil Haram, Makkah), yang kemudian oleh Nabi Ibrahim, Nabi Yakub, Nabi Daud dan Nabi Sulaiman. Jadi, dalam hal ini Masjid Al-Aqsa adalah Bait Suci ke-5 bila dihitung sejak dibangun oleh Nabi Adam. Dan beribadah di Masjid Al-Aqsa bernilai 500 kali lebih besar daripada di masjid umum lainnya.

Masjid Al-Aqsa dan Kubah Shakhrah sebenarnya juga bisa dipandang sebagai simbol dari Nabi Elia yang selalu ditunggu kedatangannya oleh setiap keluarga Yahudi saat perayaan Seder Passover. Hal ini karena bagaimanapun maksud dari keyakinan akan datangnya Nabi Elia adalah untuk mengingatkan supaya berserah diri pada Allah atau menjadi Muslim.

Jadi, untuk Yahudi tidak perlu lagi menghabiskan umur sia-sia dengan menunggu-nunggu kedatangan Nabi Elia, karena ia telah datang dan selalu ada untuk mengingatkan supaya mendekatkan diri pada Allah, bergumul dengan Allah, ber-israel, melakukan pergumulan batin, sehingga Ismael (Allah mendengarnya), memberi hidayah, sehingga tidak hanya sampai shema/ syahadat tauhid, asyhadu allaa ilaaha illallaah, tapi juga sampai pada syahadat risalah, wa asyhadu anna muhammadar rasuulullaah.

Adapun bagi Kristen, maka buanglah ajaran omong kosong, “periode tujuh tahun kesusahan besar”, adanya ajaran “jemputan Yesus” pre-tribulation, mid-tribulation, atau post-tribulation.

Daniel 9;27 sama sekali bukan untuk diterapkan kepada periode tujuh tahun kesusahan besar dimasa depan. Sebaliknya, masa nubuatan ini sudah dipenuhi di masa lampau, dua ribuan tahun yang lalu, dari abad pertama sampai abad ke-7. Oleh karena itu, baik yang beragama Yahudi maupun Kristen seharusnya bahkan telah beralih menjadi pemeluk agama Islam sejak abad ketujuh!


Islam Taslam
Wassalam!


Nabi Musa, Taurat & PB adalah Syariah Islam


(Ini adalah tulisan terakhir dari rangkaian tulisan Kenapa Nama Yakub menjadi Israel. Mohon dibaca secara berurutan dari yang pertama, kedua, dan ketiga)

Sebenarnya sejak zaman Nabi Musa, beliau telah menyatakan bahwa kaumnya (yang saat itu masih lebih dikenal sebagai bani Israel), adalah kaum yang tegar tengkuk, suka memberontak. “Ambilah kitab Taurat ini dan kamu masukkan kedalam Tabut perjanjian YHWH Tuhanmu supaya menjadi saksi disitu terhadap kamu! Sebab aku mengetahui pemberontakan dan tegar tengkukmu! Lihatlah pada saat ini, sementara aku masih bersamamu, kamu telah memberontak melawan YHWH. Dan terlebih lagi sesudah aku mati!” (Ulangan 31:27).

Nah, benar... apalagi setelah beliau wafat!

Yang ada adalah berbagai cerita seperti disebutkan dalam Bibel, yaitu antara ketaatan, kesesatan, kepatuhan, penyimpangan, pemberontakan bani Israel kepada Tuhannya, kepada ajaran Taurat Musa, kepada risalah para nabi sesudahnya, bahkan para nabi juga banyak yang dibunuh. 

Tabut telah hilang, Taurat Musa maupun kitab para nabi sesudahnya “ada diantara pena dusta para penulisnya” seperti disinggung dalam Yeremia 8:8.

Maka sangat benar bila YHWH menyatakan bahwa Israel telah gagal menetapi perjanjian yang dibuat dengan para leluhurnya. YHWH melalui nabi Yeremia telah menyatakan bahwa pada suatu masa kedepan akan membentuk suatu perjanjian baru untuk bani Israel, suatu perjanjian yang “bukan seperti”, atau cukup berbeda dengan ajaran-aturan-tatacara (syariah) nabi Musa. (Yeremia 31:31-33).

(31) “Lihatlah hari-hari itu akan tiba,” firman YHWH, “bahwa Aku akan mengikat suatu perjanjian baru dengan keluarga Israel dan dengan keluarga Yehuda.” 
(32) “Bukan seperti perjanjian yang telah Aku ikat dengan leluhur mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir, yang terhadap perjanjian-Ku ini, mereka telah melanggarnya, walaupun Aku telah menjadi  suami bagi mereka,” firman YHWH.


Membaca Taurat (wiki)
Kemudian disebutkan bahwa: (33) “Aku akan meletakkan taurat-Ku dalam batin mereka, dan Aku akan menuliskannya di dalam hati mereka, dan Aku akan menjadi Tuhan mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku.”

Jadi, Taurat (sebagai kitab suci) itu pun tidak lagi sebagai gulungan Sefer Torah yang untuk membaca dan menyimpannya kembali penuh ritual yang sangat merepotkan. Tetapi sebagai kitab yang mudah dibaca dan disimpan, bahkan bisa disimpan dalam batin, ditulis dalam hati, yang berarti bisa dibaca tanpa teks atau dapat/ bahkan mudah dihafalkan. Ini semua satu-satunya di dunia hanya bisa terpenuhi sebagai kitab suci Al-Qur’an.

Demikian pula Taurat (sebagai syariah), sebagai perjanjian baru seperti disebut dalam ayat 31-32 diatas, tentu menjadi lebih mudah diamalkan karena lebih ringan daripada syariah yang diajarkan melalui nabi Musa. Hal ini bahkan telah terindikasi sejak zaman Samuel dan Yesaya kemudian sampai ke zaman Mikha, dimana YHWH telah menolak kurban bakaran. Yang diinginkan YHWH hanyalah dengarkan suara-Nya, turuti perintah-Nya. 

Kurban-kurban bakaran telah dipandang sebagai kesia-siaan, bahkan sebagai kekejian, yang disukai adalah kemurahan, pengenalan akan Tuhan. (1 Samuel 15:22; Yesaya 1:11-15; Yeremia 7:21-26; 11:4; Hosea 6:6; Mikha 6:6-8). [maka hanya buang waktu saja dari rabi di  ais.com menggunakan Yehezkiel 37:26-28 untuk menanti datangnya mesias ++]. 

Oleh karena itu sangat jelas bahwa perjanjian baru yang akan dibuat bukan yang menambah berat seperti dalam Yudaism Halakhah Mitzvah 613 dengan semua ragi Farisi kewajiban Talmud-nya.

Bukan pula disalah artikan dengan membuat kitab bernama kitab PB  dan  sebagai perjanjian baru dalam Ibrani 8:8-13 dengan semua ajaran pendirinya yang harus diikuti (Paulus, I Kor.11:1), yang menghilangkan sama sekali syariah nabi Musa. 
  
Tapi perjanjian baru yang tanpa kehilangan jejak dari syariah nabi Musa, yaitu, masih tetap harus bersunat sebagai kewajiban bagi siapapun yang mengaku sebagai penyembah Tuhannya Abraham; tetap masih ada kurban (aqiqah dan idul adha) sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, untuk berbagi pada sesama dll., yang bisa dilaksanakan disetiap komunitas, bukan lagi  sebagai kurban bakaran yang sia-sia pada satu tempat khusus; masih ada hukum halal haram dll., sebuah perjanjian baru yang lebih ringan dan sekaligus sebagai kesempurnaan way of life syariah Islam. 

Setelah adanya perjanjian baru tersebut, maka: “...masing-masing mereka tidak akan lagi mengajar sesamanya, seorang terhadap saudaranya, dengan mengatakan: Kenallah akan YHWH karena mereka telah mengenal Aku, dari yang terkecil sampai yang terbesar diantara mereka,” firman YHWH, karena Aku akan mengampunkan kesalahan kepada mereka dan tidak akan mengingat dosa-dosa mereka lagi.” (Yeremia 31:34).

Hal ini berarti semua orang besar kecil, tua muda, dapat mengenal, memanggil, berdoa, beribadah, menyebut nama Tuhannya dengan benar dan jelas: Allah Subhanahu wa Ta’ala, Ar-Rahman, Ar-Rahim, dll dari 99 Asmaul Husna (angka 99 bukan batasan jumlah Nama-Nya).



Bukan lagi memanggil nama Tuhan yang tanpa nama, yaitu The Name/ Hashem, atau menjadi Yudaism-Hashemites. Atau memanggil Tuhan sebagai Tuhan bernama Tuhan Bapa. Ataupun memanggil nama Tuhan dari 4 huruf  YHWH yang tak bisa lagi disebut dengan benar (semua dari berbagai kemungkinan vokalisasi dengan menambahan huruf vokal yang ada, tidak satupun bisa dipastikan dan diyakini kebenarannya. Bahkan 4 huruf tersebut pun masih diperdebatkan kebenarannya, maupun apa benar itu sebagai nama Tuhan). 

Hilangnya pengucapan yang benar dari YHWH (yang diklaim ada sebanyak 6.823 dalam PL, dan sebagai nama Tuhan), yang bahkan telah mau menjadi Baal diantara berbagai Baal, kemudian setelah itu berganti menjadi suami/ Ishi (Yer: 31;32; Hosea 2:16, ), ini sungguh bukti nyata bahwa YHWH telah menceraikan bani Israel.

Maka telah digenapi apa yang dinubuatkan oleh nabi Yesus yang dikatakan kepada bani Israel Samaritan, bahwa akan datang waktunya bagi bani Israel harus tidak lagi menyembah Tuhan yang ada di gunung Gerizim Samaria ataupun di Moria Yerusalem; akan datang waktunya harus tidak lagi menyembah Tuhan tribal Israel, tapi harus menyembah Tuhan Internasional yang datang dari Arab (lih: Yoh 4:21).  

Keselamatan dari Tuhannya Abraham untuk bani Israel yang awalnya datang melalui jalur khusus Ishak-Israel-Yahudi telah berakhir (lih: Yoh 4:22; Mat 21:43). Mene, mene, tekel: Engkau telah dihitung, ditimbang dan ternyata kurang, maka harus menggabungkan diri untuk keselamatanmu melalui jalur internasional Ismael-nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. 

Dan menjadi jelas pula kenapa nabi Yakub sendiri sebagai bapaknya bangsa Israel, dalam Kejadian 49:10, juga telah mewasiatkan bahwa setelah Shiloh, yaitu Nabi Muhammad datang, maka kekuasaan dan hukum menjadi miliknya, maka bani Israel bahkan semua bangsa harus taat padanya. 

Penggabungan jalur keselamatan dari nabi Ishak-bani Israel-Yahudi kepada jalur keselamatan nabi Ismael-nabi Muhammad saw., ini juga berarti sebagai penggenapan Zefanya (3:9), sehingga semua manusia tidak lagi hidup dalam kutukan menara Babel (Kejadian 11:1-9), tetapi bisa bahu membahu beribadah, menyembah kepada Tuhan Yang Satu, dengan arah dan bahasa yang sama dari seluruh dunia, berkiblat ke Kabah di Makkah dan dengan bahasa Arab.

Maka berdasarkan 3 tulisan sebelumnya dan tulisan di atas, terjawab sudah kenapa nama Yakub harus menjadi Israel dan memang benar sebagai suatu isyarat mengenai keturunannya (bani Israel), dalam hubungan dengan bani Ismael, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. 

Secara singkat bisa dikatakan: Yakub, sekarang engkau adalah Israel, maknanya: Anak-anakmu pada akhirnya harus mengikuti anak Ismael, mengikuti Risalah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.  

Semoga bani Israel bisa ber-isra-el, melakukan pergumulan batin, sehingga isma-el, Allah mendengarnya, memberi hidayah, sehingga tidak hanya sampai shema/ syahadat tauhid, asyhadu allaa ilaaha illallaah, tapi juga sampai pada syahadat risalah, wa asyhadu anna muhammadar rasuulullaah.

Jacob! Now, You're Israel... Your Sons... Should Follow Son of Ismael, Prophet Muhammad PBUH.

Ismael menjadi Nabi saat usia 17 tahun


(Ini adalah tulisan ketiga dari rangkaian tulisan Kenapa Nama Yakub menjadi Israel. Mohon dibaca dari yang pertama, kemudian yang kedua)

Saat Abraham berusia 100 tahun, Sarah, istrinya, alhamdulillah melahirkan Ishak (Kejadian 21:5). Singkat cerita, tiga tahun kemudian, Ishak disapih, diadakan perayaan besar.

Pada saat itulah Ismael (17), kakaknya, bisa dikatakan menjadi Nabi.  

Ya, ia memperoleh ‘bocoran’ ayat Taurat yang baru akan diterima oleh Musa enam abad kemudian. Wow!


Begini jalan ceritanya

Dalam Kejadian 21:9-10, diceritakan bahwa Sarah melihat Ismael sedang mengolok-olok Ishak, adiknya. Kemudian Sarah mengatakan: “Usirlah wanita pelayan itu dan anaknya karena anak wanita pelayan itu tidak akan menjadi ahli waris bersama anakku, bersama Ishak.”

Hm.. sebenarnya apa yang dianggap sebagai olok-olok dan perkataan Sarah menanggapi ‘olok-olok’ Ismael adalah karena Ismael mengatakan untuk menanggapi apa yang dikatakan orang-orang pada saat itu. 

Tanggapan Ismael atas perkataan orang-orang, yang ternyata apa yang dikatakan oleh Ismael dalam 6-abad kemudian akan menjadi salah satu ayat dari Taurat Nabi Musa.   

#Orang-orang pada saat itu mengatakan: “Seorang anak untuk Abraham telah lahir, seorang anak untuk Abraham telah lahir. Ia akan mewarisi dunia, dan mendapat dua bagian dari warisannya!”  

#Kemudian sweet-seventeen Ismael, tetap dengan senyum manisnya mengatakan: “Jangan salah, jangan bodoh. Saya anak sulung, dan saya akan memperoleh dua bagian!” 


Nah, itulah kejadian dibalik lahirnya perkataan Sarah dalam ayat Kejadian 21:10.

Dan ternyata.. yang benar adalah perkataan Ismael

Benar seperti yang termuat dalam Taurat Musa, Ulangan 21:17: ”Tetapi ia harus mengakui anak yang sulung, anak dari istri yang tidak dicintai itu, dengan memberikan kepadanya dua bagian dari segala apa yang didapati sebagai miliknya, karena dialah permulaan kekuatannya, baginyalah hak kesulungan itu.”  

Ayat tersebut tidaklah membedakan anak sulung itu berasal dari istri pertama atau kedua, dicintai atau tidak, tuan atau pelayan, merdeka atau budak, bani Israel (keturunan Yakub) atau Goyim (bangsa lain); yang sangat jelas bila dibaca dari ayat 21:10, dimana yang bisa menjadi  istri (dan kemudian aturan hak anak sulung dalam ayat 21:17) bisa saja dari budak/ tawanan perang, dan juga bisa dari bangsa manapun karena peperangan bisa terjadi dengan berbagai bangsa. 

Bandingkan juga dengan kisah Yakub yang menjadi cikal bakal sebutan bani Israel, dimana dua dari empat istrinya adalah mantan budak/ pelayannya. Juga dengan kisah Yusuf (orang yang paling mulia diantara 12 anak Yakub), istrinya juga berasal dari Mesir. Kisah Yakub dan Yusuf ini dan Musa sendiri yang istrinya adalah dari Midian/ Arab menguatkan kebenaran perkataan Ismael, atau setidaknya menunjukkan bahwa status dan kebangsaan istri/ kawin campur tidak menjadi masalah sebelum dan setelah adanya Taurat Musa. 


Jadi benar sekali bila Ismael bisa disebut telah menjadi nabi saat baru berusia 17 tahun.

Ia telah memperoleh ‘bocoran’ Taurat nabi Musa ‘alaihissalam  



Catatan:
1. Usia Ishak 3 tahun saat disapih, diadopsi dari 2Makabe 7:27.
2. Adalah sangat janggal ++ bila Hagar dan Ismael saat dipisahkan dari Sarah, Ismael yang berusia 17 tahun digendong oleh Hagar (Kej. 21:14-15).
3. Sangat janggal ++ pula bila Ishak yang baru bisa berjalan disuruh naik gunung sambil memanggul gulungan besar kayu bakar seberat kekuatan dua orang pemuda (Kej. 22:5-6).
4. Dalam pandangan Islam, Hagar dan Ismael dipisahkan dengan Sarah saat Ismael masih bayi. Diantar oleh Abraham sampai Makkah, dan setelahnya tetap terhubung melalui berbagai keutamaan yang dianugrahkan oleh Allah kepada nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan nabi Ismail ‘alaihissalam. Dan bukan Ishak, tetapi Ismael yang di ‘kurbankan.
5. Keluarga Ismael dan Ishak hidup rukun damai, terbukti mereka bersama mengebumikan Abraham (Kejadian 25:9), bahkan keluarga Ishak tinggal di kawasan mata air Lahai-Roi (Kejadian 25:11), nama yang diberikan oleh Hagar saat ditemui oleh Tuhan (Kejadian 16:13-14). Sepertinya Abraham dan Sarah tinggal terpisah, Abraham di Bersheba (Kejadian 22:19) sedangkan Sarah di Kiryat Arba Hebron (23:2).


Tulisan berikutnya: Nabi Musa, Taurat & PB adalah Syariah Islam

Alkitab: Khalifah Umar adalah Hakim & Mesias!


Sebagaimana diceritakan dalam Matius 21 dari ayat 4, saat itu nubuat dari para nabi mengenai Yesus menjadi seorang Raja Yahudi telah digenapi. Ia disambut dengan meriah:
"Lihat, Rajamu datang kepadamu, ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai... Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah dia yang datang dalam nama Tuhan... Inilah nabi Yesus dari Nazaret di Galilea." (lih: 5,9,10). Setelah itu, Yesus beberapa kali mengajar di bait suci. 

Tapi sangat menyedihkan, yang menerima ajarannya, yang bisa meng-hosana dia yang datang atas nama Tuhannya, hanyalah orang-orang dari golongan masyarakat bawah. Para pembesar kaumnya, orang-orang yang sangat berpengaruh, para imam Yahudi menolaknya, menentangnya dengan berbagai dalih dan alasan, meskipun mereka sebenarnya menyadari banyak tanda bahwa Yesus adalah Mesias yang dinantikan.

"Mengapakah bangsa ini berpaling, berpaling terus-menerus? Mereka berpegang pada tipu, mereka menolak untuk kembali.

Aku telah memperhatikan dan mendengarkan: mereka tidak berkata dengan jujur! Tidak ada yang menyesal karena kejahatannya dengan mengatakan: Apakah yang telah kulakukan ini! Sambil berlari semua mereka berpaling, seperti kuda yang menceburkan diri ke dalam pertempuran.

Bahkan burung ranggung di udara mengetahui musimnya, burung tekukur, burung layang-layang dan burung bangau berpegang pada waktu kembalinya, tetapi umat-Ku tidak mengetahui hukum TUHAN. 

Bagaimanakah kamu berani berkata: Kami bijaksana, dan kami mempunyai Taurat TUHAN? Sesungguhnya, pena palsu penyurat sudah membuatnya menjadi bohong. 
Orang-orang bijaksana akan menjadi malu, akan terkejut dan tertangkap. Sesungguhnya, mereka telah menolak firman TUHAN, maka kebijaksanaan apakah yang masih ada pada mereka?" (Yeremia: 8:5-9).

"Masakan Aku tidak menghukum mereka karena semuanya ini?, demikianlah firman TUHAN. Masakan Aku tidak membalas dendam-Ku kepada bangsa yang seperti ini?" (Yeremia 9:9).

Maka, Yesus yang datang atas nama Tuhannya, mengatakan: 
"Celakalah, celakalah, celakalah, celakalah... bagimu hai para ahli kitab dan orang-orang Farisi... Hai ular! Hai keturunan ular beludak! Bagaimana kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka... para nabi dan orang bijak kalian bunuh, kamu salibkan, kamu siksa, maka tercurahlah darah semua orang benar dari Habel sampai darah Zakharia! Oh, Yerusalem, Yerusalem, yang membunuh para nabi yang diutus kepadanya. Betapa seringnya aku rindu untuk mengumpulkan anak-anakmu..." (lih: Matius 23:13-37). 

Ditempat yang lain, Yesus juga sudah mengatakan bahwa bangsa Yahudi bukan lagi sebagai anak Abraham, tapi sebagai anak Iblis, tidak hidup dalam kebenaran, perkataannya penuh dusta, maunya menang sendiri. (lih: Yohanes 8:39-44).

Antara kerinduan, kegemasan, kegeraman atas kelakuan dan kekafiran kaumnya... maka... berdasar ilham dari Tuhannya, 

Mene-mene-tekel... kalian sudah tidak layak lagi, sudah tidak ada pengampunan! Bait suci akan dihancurkan!

"Sesungguhnya tidak satu batupun di sini akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain, semuanya akan diruntuhkan!" (Matius 24:2). 

"Pembinasa keji itu akan menggantikannya dengan kuil Yupiter!" (lih: Matius 24:15). 

Maka benar sekali, Tuhannya Yesus mengirimkan pasukan Vespasian mengepung Yerusalem (68 M), namun ditarik kembali. Ini karena kaisar Romawi, Nero, bunuh diri setelah terjadi kekacauan besar, kemudian Vespasianus menggantikannya. Pada waktu pasukan Romawi mundur, orang Yahudi mengejarnya, tentara Romawi banyak yang terbunuh dan Yahudi banyak mendapat berbagai harta rampasan. 

Kemudian di tahun 70 M, tentara kaisar Romawi Titus Flavius Vespasianus (69-79 M), kembali mengepung Yerusalem. Dalam perang kali, Yahudi mengalami kekalahan hebat, banyak sekali yang tewas, dan akhirnya menjadikan bait suci terbakar hancur lebur. 
Puing, puing, puing!

"Dan hai engkau, raja Israel, orang fasik yang durhaka, yang saatmu sudah tiba untuk penghakiman terakhir. 

Beginilah firman Tuhan ALLAH: Jauhkanlah serbanmu dan buangkanlah mahkotamu! Tiada yang tetap seperti keadaannya sekarang. Yang rendah harus ditinggikan, yang tinggi harus direndahkan. 

Puing, puing, puing akan Kujadikan dia! Inipun tidak akan tetap. Sampai ia yang adalah hakim datang, yang berhak atasnya, dan kepadanya akan Kuberikan itu." (Yehezkiel 21:25-27).

Selanjutnya kota Yerusalem dibiarkan sunyi sepi, jadi puing reruntuhan selama 40 tahun, dijadikan basis legion X Fretensis. 

Pemberontakan Simon Bar Kosiba (132-135 M), yang mengklaim sebagai mesias (mesias palsu; Matius 24:4-5,11) terhadap kaisar Romawi yang baru, Publius Aelius Traianus Hadrianus (117-138 M) tiada berarti. Bahkan mulai saat inilah bangsa Yahudi semakin mengalami kesusahan. Ini diawali dengan larangan pada Yahudi untuk bersunat, seperti diakui sendiri oleh Kaisar Hadrian yang menurutnya sunat bahkan dianggap seperti mengibiri diri: "At the time, the Jews started a war because they were forbidden to mutilate their genitals" (Historia Augusta, Hadrian 14.2). 

Adapun Sekte Yahudi Nasrani yang muslim pada risalah Yesus telah meninggalkan Yerusalem ke Perea, Pella, dataran tinggi di Yordania, 60 mil dari Yerusalem sejak awal perang, mengikuti arahan Yesus pada Matius (24: 16-25) dan Lukas (21:20-6); meskipun sekte ini pun akhirnya terkucilkan, bahkan hilang seiring dengan diadopsinya kekristenan Paulian oleh kekaisaran Romawi. 

Setelah Kaisar Hadrian mengunjungi Yerusalem (129 M), ia membangun Aelia Capitolina. Sisa orang Yahudi yang tidak tewas, yang bersunat tapi kafir pada risalah Yesus, diusir dan diancam hukuman mati bila memasuki Aelia Capitolina. Dan tergenapi pula kutukan Yesus lainnya, "Suatu kejijikan menggantikannya, anti Kristus menguasainya." Kaisar Hadrian mendirikan bangunan kuil Yupiter. 

Mungkin kuil Yupiter ini pula yang dimaksudkan oleh Yesus: "dalam tiga hari aku akan mendirikannya kembali" (lih: Yoh 2:19), karena kaumnya pun saat itu pada dasarnya telah menjadikan bait suci sebagai tempat yang menjijikkan, sebagai sarang penyamun (lih: Matius 21:3), sehingga tidak salah bila Yesus berkata seperti itu. 

Kaisar Hadrian juga mencetak koin bergambar babi untuk menghina yang mengharamkan babi, dan memasang berbagai patung telanjang orang tidak bersunat sebagai tanda larangan masuk kota Aelia Capitolina bagi yang bersunat, juga sebagai larangan bersunat. Maka hanya para idolater dan yang sesat tak bersunat lainnya yang hidup nyaman dalam naungan Kaisar Hadrian di Aelia Capitolina. Selanjutnya kota ini menjadi kotanya para evangelis Kristen tak bersunat, apalagi setelah Romawi menjadi Kristen sejak era Kaisar Konstantin. 

Kaisar Konstantin meruntuhkan kuil Yupiter, dan kemudian bersama ibunya, St. Helena, mulai tahun 325 M, membangun berbagai gereja di Yerusalem. Satu gereja, yaitu St. Maria/ Holy Wisdom/ Praetorium dibangun disebelah utara dekat reruntuhan kuil Yupiter. Tahun 543 M, dibangun gereja terbesar melebihi Holy Spulture, yaitu Nea Church di Jewish Quarter saat ini. Namun gereja ini dan juga gereja Holy Wisdom, dihancurkan rata dengan tanah oleh Persia dan Yahudi di tahun 614 M. Sekitar 10 tahun kemudian, Kaisar Heraklius Romawi Bizantium kembali mengalahkan Persia, yaitu di tahun 627 M. (Kekalahan dan kemudian kemenangan Romawi dari Persia ini, tepat seperti dikabarkan tujuh tahun sebelumnya dalam Al-Quran, Ar-Ruum/ 30:1-4).

Ada suatu waktu dimana di tahun 363 M, Kaisar Julian II (dianggap sebagai pagan oleh kekristenan) mengizinkan Yahudi membangun kuilnya. Maka menurut catatan uskup Cyril dan Eusebius, ribuan Yahudi mendatangi lokasi, mengambil berbagai runtuhan dinding kuil dan pondasinya ketempat pribadi masing-masing; saat inilah Yahudi menghancurkan kuilnya sendiri. Setelah itu mereka menggali pondasi baru. Tetapi ketika akan memasang pondasi yang baru, tiba-tiba terjadi gempa bumi setempat, kematian Julian dan penentangan dari para rabbi, menjadikan proyek ini dihentikan. 

Beberapa penulis lain, seperti penulis sejarah gereja Sozomen, juga Ammianus mengatakan adanya fenomena mistis berupa semburan api tiada henti dari dalam bumi, adanya badai, angin puting beliung, menjadikan mereka seperti diserang dari bumi dan langit. Menjadikan para para pekerja banyak yang tewas, banyak yang luka bakar, patah bahkan putus tangan dan kakinya, ini semua menjadikan proyek gagal total. Fenomena tersebut akhirnya menimbulkan trauma dan ketakutan yang luar biasa pada mereka. Tuhan telah menolak pembangunan kuil ini, tetaplah sebagai puing reruntuhan.

Puing, puing, puing, itu terjadi lagi, yang hanya bisa berhenti sampai: "ia yang adalah hakim datang, yang berhak atasnya, dan kepadanya akan Kuberikan itu." (Yehezkiel 21:27).

Dalam perkembangan selanjutnya, Yerusalem menjadi kota seribu gereja, kota terlarang bagi Yahudi dari abad 4 sampai 7M. Yahudi hanya diizinkan masuk Yerusalem setahun sekali saat Paskah. 

Barulah setelah Khalifah Umar bin Khattab membebaskan Yerusalem (638 M) dari Kristen Bizantium, maka siapapun bebas masuk dan tinggal di kota Yerusalem. Khalifah Umar bahkan menempatkan 70 keluarga Yahudi Tiberias untuk tinggal di kota Yerusalem. 

Maka: "perempuan yang lari ke padang gurun, selama 1.260 hari" di mana telah disediakan suatu tempat baginya oleh Allah, bisa bebas pulang kembali. (lih: Wahyu 12:6, 14). 

Maka: "Diberkatilah orang yang menanti-nanti dan mencapai seribu tiga ratus tiga puluh lima hari." (Daniel 12:12).

Khalifah Umar bin Khattab adalah: "ia yang adalah hakim datang, yang berhak atasnya, dan kepadanya akan Kuberikan itu." (Yehezkiel 21:27).

Khalifah Umar telah berperan sebagai Mesias bagi bangsa Yahudi, sama seperti Mesias Raja Koresh Agung. Bahkan lebih besar karena selain pada masanya terbukti telah memberikan keberkahan dunia, juga yang lebih penting telah memberi jalan bagi keselamatan akhirat melalui agama Islam.

Khalifah Umar telah menjadi Hakim, menjadi orang yang dipilih Tuhan, yang kepada dirinya Tuhan telah berkenan. Berkenan untuk menyelesaikan masalah perbedaan antara Yudaism dan Kekristenan dengan membawa semuanya kepada Islam.

Maka ini pula kenapa Khalifah Umar bisa membangun Masjid Al-Aqsa sebagai kelanjutan bait suci yang dibuat oleh Nabi Sulaiman dengan tepat. Meskipun sampai dua kali ditunjuki tempat untuk membangun ditempat yang salah. Tapi pada yang ketiga, Uskup Sophronus menunjukkan tempat yang oleh Khalifah Umar dibenarkan sebagai tempat yang tepat untuk mendirikan masjid Al-Aqsa.

Pembangunan Masjid Al-Aqsa ini juga sebagai penggenapan dari apa yang disampaikan Tuhannya Abraham melalui Nabi Zulkifli/ Yehezkiel, dimana Khalifah Umar bin Khattab mewakili Islam atau Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, sebagai "ia yang adalah hakim datang, yang berhak atasnya, dan kepadanya akan Kuberikan itu." (Yehezkiel 21:27). 

Pembangunan Masjid Al-Aqsa telah mengokohkan pembangunan masjid yang kedua oleh Nabi Adam (40 thn setelah membangun Masjidil Haram, Makkah), kemudian oleh Nabi Ibrahim, Nabi Yakub, Nabi Daud bersama Nabi Sulaiman. Jadi, dalam hal ini Masjid Al-Aqsa adalah Bait Suci ke-5 dihitung dari bangunan Nabi Adam. Dan beribadah di Masjid Al-Aqsa bernilai 500 kali lebih besar daripada di masjid umum lainnya.

Masjid Al-Aqsa dan Kubah Shakhrah sebenarnya juga bisa dipandang sebagai simbol dari Nabi Elia yang selalu ditunggu kedatangannya oleh setiap keluarga Yahudi saat perayaan Seder Passover. Hal ini karena bagaimanapun maksud dari keyakinan akan datangnya Nabi Elia adalah untuk mengingatkan supaya berserah diri pada Allah atau menjadi Muslim. 

Jadi tak perlu lagi menunggu Nabi Elia, karena ia selalu ada untuk mengingatkan supaya mendekat diri pada Allah, bergumul dengan Allah, ber-israel, melakukan pergumulan batin, sehingga ismael, Allah mendengarnya, memberi hidayah, sehingga tidak hanya sampai shema/ syahadat tauhid, asyhadu allaa ilaaha illallaah, tapi juga sampai pada syahadat risalah, wa asyhadu anna muhammadar rasuulullaah.

Bersambung... Islam dalam Nubuat Daniel

Ismael menurut Bibel dan Tradisi para Rabbi


(Ini adalah tulisan kedua dari rangkaian tulisan Kenapa Nama Yakub menjadi Israel. Mohon dibaca dari yang pertama)

Nama Ismael dalam Bibel PL sepintas memang terlihat kurang menonjol. Hal ini bisa dimaklumi karena banyaknya tokoh yang diceritakan terkait dengan garis besar ‘perjalanan’ dari apa yang diklaim sebagai satu-satunya “childrens of covenant” sebagai satu-satunya “chosen people.” 

Adapun dalam Bibel PB, yang terlihat adalah begitu besarnya usaha dari pendiri Kristen dalam mengkaitkan narasi dalam Kejadian 16 dan 21, yaitu hubungan unik dari istri Abraham (Sarah dan Hagar), untuk membangun doktrin “grace no law” yang ia bangun seiring pertentangan ajarannya dengan ajaran “grace & law” kelompok Yakobus.

“Grace no Law,” sebuah doktrin “keselamatan” (masuk surga) hanya karena anugerah. Bukan masuk surga karena anugerah dan berbuat baik/ beribadah berdasarkan hukum-hukum Allah. Bahkan dalam doktrin “grace no law” ini, Paulus tidak memandang adanya kesatuan antara “grace dan law.”  Bila tidak “grace no law” dianggap pasti “law” saja. Pihak yang berseberangan dengannya dalam pandangan-salahnya ini dianggap hanya mengandalkan “law” saja, yaitu harus mengumpulkan pahala sebanyak mungkin melalui perbuatan baik/ beribadah menuruti hukum-hukum Allah supaya selamat, tanpa mempercayai adanya “grace” sedikitpun. (*Dalam konteks kekristenan, kata “grace” berarti bahwa seseorang bisa mengimani (percayai) doktrin soteriologi salib plus mau menuhankan manusia Yesus bagi Trinitarian; adapun “law” adalah hukum Taurat. Karena itu “grace no law” juga disebut sebagai “faith only,” masuk surga hanya karena iman, yaitu “iman” dengan pengertian seperti tersebut). 

Dalam membangun doktrin ini (Galatia 4), Paulus mengkiaskan Hagar dan Sarah (Kejadian 16 dan 21), untuk kemudian dikontraskan sedemikian rupa dalam gema besar perbedaan, antara budak versus orang merdeka, pelayan versus tuan, manusia daging versus manusia roh dan bahwa keturunan Hagar mestilah sebagai pelayan sedangkan keturunan Sarah adalah majikan... dst, dengan pesan utama kepada para pengikutnya untuk menghalusinasi diri sendiri sebagai anak terjanji, anak Allah, pasti masuk surga tanpa perlu lagi mematuhi hukum-hukum Allah. Grace no Law.

Dengan interpretasi alegori tipologi/ kias dan kontras yang menggema tersebut, tentu akan meniadakan tempat bagi nama baik dan kemuliaan Hagar dan Ismael dalam Bibel. Kemuliaan Hagar dan Ismael menjadi terpendam begitu dalam! [1]


Btw, don’t worry! 

Bagaimanapun juga...  intan yang yang terpendam bahkan jadi buruan, sangat berharga.

Dan bila diteliti lebih dalam, maka sungguh: 
Hagar adalah Wanita sangat Mulia & Ismael adalah ‘Berlian!



Adanya tokoh Hagar dalam Bibel, diawali dengan kisah perjalanan Abraham bersama Sarah ke Mesir karena terjadi bencana kelaparan di daerah tempat tinggalnya (Kejadian 12). Mereka menemui raja Mesir, Pharaoh dimana sebelumnya Abraham bersepakat dengan Sarah untuk mengaku bahwa mereka bukan sebagai pasangan suami istri, tetapi sebagai kakak dan adik. 

Akibat “kebohongan” Abraham dan Sarah inilah, maka terjadi kesalahan sikap raja Mesir terhadap Sarah (di istana para harem). Menurut tradisi diceritakan bahwa saat Sarah kemudian berterus terang bahwa ia adalah istri Abraham, saat itu pula muncul ‘keajaiban’ adanya intervensi Allah melalui malaikat-Nya, sehingga raja Mesir, Pharaoh, tidak berbuat lebih jauh. Ia menyadari betapa hebat Tuhannya Abraham. 

Pharaoh jadi merasa bersalah dan menebus kesalahan dengan memberikan beragam hadiah yang sangat banyak. Dan putrinya, yaitu Hagar jadi beriman pada Tuhannya Abraham, sehingga diikutkan kepada keluarga Abraham, menetap di Kanaan. Raja Mesir mengatakan: “Adalah lebih baik bagi putriku untuk melayani Sarah, daripada menjadi nyonya di istana Mesir.” 

Dalam Bibel juga disebutkan bahwa Sarah sempat menjadi istri/ harem Pharaoh (Kejadian 12:19), dan Abraham mendapat beragam hadiah, dari berbagai jenis ternak bahkan budak-budak dan hamba-hamba perempuan (Kejadian 12:16). Juga dengan Abimelekh (Kejadian 20:3).  

Sampai di Kanaan, keluarga Abraham menetap terpisah dengan keluarga Lot. Hidup berkelimpahan, banyak sekali yang bekerja untuknya, termasuk Eliezer dari Damsyik (lihat Kejadian 14:14, 15:2). Namun seiring berjalan waktu selama 10 tahun sejak tinggal di Kanaan, istrinya, Sarah tak kunjung mempunyai anak, sehingga Sarah menikahkan Hagar dengan Abraham (Kejadian 16:3).   

Tak lama setelah menjadi istri Abraham, Hagar mengandung, dan sayangnya kemudian terjadi perselisihan, keretakan hubungan diantara Sarah dan Hagar. Muncul kecemburuan, jadi merasa inferior, dan adanya berbagai pikiran negatif lainnya dari Sarah yang berujung pada kemarahan, penganiayaan verbal (mungkin juga secara fisik) kepada Hagar, yang sampai membuat Hagar terpaksa lari dari rumah Abraham ke arah Shur.  

Saat dalam pelarian inilah terjadi hal yang sangat istimewa karena secara khusus Hagar ditemui oleh para malaikat Allah. Bukan hanya satu malaikat, tetapi  4 atau 5 malaikat yang menemuinya di dekat mata air tepi padang gurun ke arah Shur. 

Melalui para malaikat inilah, seperti disebutkan dalam Kejadian 16:11-12, bahwa ia memperoleh nama Ismael (Allah mendengarnya), yang dalam konteks ini berarti Allah mengabulkan doanya, menghiburnya, melepaskan derita yang dialaminya, memberkatinya.

Kemudian diberitahukan juga bahwa Ismael akan tumbuh menjadi seorang manusia yang mencintai kebebasan, kemerdekaan, benci pada penindasan. Dan mengingat kemuliaan asal dari nama Ismael, serta arti nama Ismael itu sendiri (Allah mendengarnya), maka ia akan selalu ingat pada Allah, dan Allah akan selalu mendengarnya, menyertainya, membimbingnya, baik melalui Abraham, Hagar atau bahkan melalui para malaikat Allah.

Hagar menamakan mata air di tepi gurun tersebut sebagai El-Roi (Allah Mahamelihat), dan bahwa ditempat itu ia telah melihat Allah (malaikat-Nya atau ‘punggung’ Allah? seperti kisah Musa dalam Keluaran 33:23), dan bahwa Allah peduli terhadap orang yang mau merendahkan diri atas penghinaan yang dialami, bahwa Allah mengawasi untuk melindungi hamba-hamba yang disayangi. 

Dengan datangnya para malaikat secara khusus kepada Hagar ini menunjukkan bahwa spiritualitas Hagar sangat tinggi. Sebuah kemuliaan yang jarang sekali dimiliki orang. 
Selanjutnya, para malaikat yang diutus Allah juga menasehati Hagar supaya kembali dan bersabar atas penganiayaan yang terjadi pada dirinya. Singkat cerita, beberapa bulan kemudian lahirlah Ismael. Saat itu Abraham berusia 86 tahun (Kejadian 16:16). 


Ismael & Perjanjian Keselamatan

Saat berusia 13 tahun, Ismael disunat bersama Abraham (99th) dan juga para pekerja/ orang-orang yang tinggal bersamanya, segera setelah turun suatu Perjanjian Keselamatan dari Tuhannya Abraham. Sunat/ khitan ini sebagai suatu kewajiban yang mengikat dari perjanjian ini. 

Pada saat ini pula, Allah melalui malaikat kepada Abraham, menyatakan memberkati Ismael, bahwa Ismael akan menurunkan 12 raja, menjadi bangsa yang besar (Kejadian 17:20). Demikian juga Allah menjanjikan kelahiran Ishak melalui Sarah pada tahun berikutnya. 

Pada saat itu, nama Abraham juga baru disebutkan dari yang sebelumnya hanya Abram (imigran). Demikian juga Sarah sebagai nama baru dari yang sebelumnya adalah Sarai, dimana ini lebih terkait ke ‘bonus’ dari ‘Perjanjian Keselamatan.’ 

‘AVRAM telah menjadi ‘AVRAHAM; yaitu menjadi ‘AV HAMON GOYIM

Perubahan nama Abram menjadi Abraham ini sebagai ‘proklamasi’ dari Allah bahwa ia akan menjadi Bapak dari banyak bangsa (Kejadian 17: 4-6). Ini berarti pula bahwa Abraham tidak boleh diklaim sebagai satu-satunya bapak dari suatu bangsa tertentu, atau suatu bangsa tertentu mengklaim sebagai satu-satunya keturunannya, sebagai satu-satunya anak-anak  perjanjian/ “childrens of covenant.”

Perjajian Keselamatan, yaitu bahwa setiap orang bisa memperoleh keselamatan bila beriman kepada Tuhannya Abraham. Sebagai tanda bahwa seseorang itu benar-benar beriman kepada Tuhannya Abraham, maka ia harus berkhitan. Bagi orang yang tidak berkhitan, meskipun sepanjang hidupnya mengklaim sebagai penyembah Tuhannya Abraham, menganggap dirinya sebagai seorang yang beriman, ia tetap tidak diakui oleh Tuhannya Abraham, tetap dianggap sebagai orang kafir (Kejadian 17: 7-14). 

Adapun untuk memasuki ikatan Perjanjian Keselamatan ini bisa melalui jalur Ismael maupun Ishak, keduanya dan keturunannya adalah sama-sama sebagai “childrens of covenant”, sama-sama telah menurunkan para nabi, sama-sama ada “the-chosen people” didalamnya. Tetapi sesudah berakhirnya periode turunnya para nabi, maka harus memilih mana yang paling sesuai dengan kehendak Tuhannya Abraham.

Pada saat dibuat Perjanjian Keselamatan ini, ada suatu bonus untuk keturunan Abraham melalui jalur Ishak, dimana ditambahkan janji mendapatkan tanah Kanaan-dengan syarat & ketentuan yang berlaku, seperti dalam Yosua 23:15-16; 1Raja 9:6-9; II Tawarikh 7:19-22; Yehezkiel 33:23-29; Yeremia 34: 12-22, dll.

Dan bonus ini sudah dipenuhi dimulai dari saat Yosua membaginya pada 12 suku bani Israel, dimana puncak kepenuhannya ada pada zaman raja Saul-Daud-Solomon-dan mestinya juga pada masa Yesus, namun Yesus telah ditolak sebagai nabi maupun mesias nasional oleh bani Israel. Oleh sebab itu, dan juga  berbagai banyak sebab sebelumnya seperti disebut dalam Bibel PL, maka Tuhannya Abraham telah mencabut hak istimewa bonus ini. Bahkan YHWH sendiri telah ‘menceraikan Israel. Sudah tidak akan ada lagi mesias yang hanya bersifat lokal-nasional bagi bani Israel. Yang akan turun adalah Mesias Internasional, Yesus second coming. Akan turun untuk menyelamatkan dunia melawan Dajjal/ Anti Kristus dan Gog-Magog dll. 
  

[1] Kias dan kontras ini kemudian diinterpretasikan lebih jauh mulai dari Tertullian, Origen, Ambrosius, Augustin dll, yang bahkan akhirnya menjadi pengajaran pokok gereja untuk beragam kepentingan dengan akibat yang telah menjadi catatan kelam sejarah yang bahkan terus berlanjut hingga kini. cek di: lectio

Tulisan berikutnya: Ismael menjadi Nabi saat usia 17 tahun