Islam dalam Nubuat Daniel


(Ini sambungan tulisan ini)

Islam dalam Nubuat Daniel ini terkait dengan sampainya agama Islam melalui Khalifah Umar bin Khattab di Yerusalem, Palestina. Dalam hal ini, Islam sungguh menempati posisi yang sangat istimewa.

Sangat istimewanya agama Islam dalam Nubuat Daniel ini karena Islam datang sebagai hal yang begitu dinantikan, didambakan, sebagai solusi persoalan sangat besar yang dihadapi bangsa Yahudi dan Yudaisme-nya, bait suci, Yesus dan ajarannya, etc., yang karena semua hal tersebut menjadi pengharapan besar agar bisa menjadi bagian dari orang-orang yang seperti tersebut dalam ayat ini:
“Diberkatilah orang yang menanti-nanti dan mencapai seribu tiga ratus tiga puluh lima hari.” (Daniel 12:12).

Nubuat Daniel ini ada dalam bingkai kitab Daniel 9:27, yaitu hal-hal yang akan terjadi selama tujuh abad, dari abad pertama sampai abad ketujuh.
“Raja itu akan membuat perjanjian itu menjadi berat bagi banyak orang selama satu kali tujuh masa. Pada pertengahan tujuh masa itu ia akan menghentikan korban sembelihan dan korban santapan; dan di atas sayap kekejian akan datang yang membinasakan, sampai pemusnahan yang telah ditetapkan menimpa yang membinasakan itu.” (Daniel 9:27).

Tujuh masa (abad) ini dibagi dalam dua periode yaitu, periode 3,5 abad pertama (Daniel 12:11), dan periode 3,5 abad kedua (Daniel: 7:19-25; 12-12). Pada kedua periode tersebut terjadi berbagai hal penting, juga di pertengahan kedua periode (Daniel 9:27, 11:31), dan hal yang sangat dinantikan di akhir periode (Daniel 12:12).

Perinciannya sebagai berikut:
1.       Periode 3,5 abad pertama (Daniel 12:11): Seorang mesias akan disingkirkan meskipun tidak ada kesalahan, yaitu pada 62 (atau 69) x 7 masa sejak bait kedua difungsikan (Daniel 9:26). Hal ini telah terjadi, dimana Yesus telah disingkirkan sehingga ia hanya bisa mengemban tugas kenabian sekitar 3.5 masa/ tahun.

Kemudian seorang raja akan menghancurkan bait suci (Daniel 9:26). Telah terjadi, yaitu oleh tentara kaisar Romawi (Titus) pada tahun 70 M. Kekaisaran Romawi pun telah meneguhkan perjanjian/ menguasai Yerusalem selama 7 abad, tepat seperti disebut dalam Daniel (9:27). Hancurnya bait suci oleh kaisar Romawi ini sebenarnya secara otomatis telah menghentikan tradisi kurban dalam Yudaisme (jadi bukan karena kematian orang yang dianggap sebagai Yesus).

2.      Pada pertengahan periode tujuh abad: akan dibangun sesuatu yang menjijikkan diatas lokasi bait tersebut (Daniel 9:27; bandingkan Daniel 11:31). Ini adalah kuil Yupiter yang dibangun oleh Kaisar Romawi, Hadrian, tahun 135 M. Dibangunnya kuil Yupiter ini benar-benar telah secara total menghentikan adanya korban sembelihan dan korban santapan dalam Yudaisme.

Diatas sayap kekejian (kuil Yupiter ini) akan datang yang membinasakan (Daniel 9:27), juga: “dari waktu kurban terus-menerus dihapuskan dan sesuatu yang menjijikkan (kuil Yupiter) itu ditetapkan, ada 1290 hari.” (Daniel 12:11, 1290 hari/ 3.5th/ 3.5 abad). Hal ini telah dipenuhi dimana pada tahun 325 M, kaisar Romawi berikutnya (Konstantin I) menghancurkan kuil Yupiter. Kaisar Konstantin menggantinya dengan membangun beberapa gereja, satu gereja, yaitu St. Maria/ Holy Wisdom/ Praetorium dibangun disebelah utara dekat reruntuhan kuil Yupiter.

3.      Periode 3,5 abad kedua (Daniel 7:19-26; 12:12): masih merupakan bagian dari “sayap kekejian yang membentang”, mengenai Romawi dan berbagai peperangan inter/ eksternal Romawi dan pengaruhnya di Yerusalem. Adanya larangan sunat dan masuk kota Yerusalem bagi Yahudi, dibangunnya suatu kejijikkan lainnya di bait suci (yaitu Praetorium), adanya pengajaran, ucapan  yang menentang Tuhan, mengubah waktu dan hukum terkait dalam perkembangan Kekristenan Romawi, Sabat diubah menjadi hari Minggu, adanya Trinitarian dengan berbagai doktrin dan tradisinya, etc.

Tahun 543 M, dibangun gereja terbesar melebihi Holy Spulture, yaitu Nea Church di Jewish Quarter saat ini. Namun gereja ini dan juga gereja Holy Wisdom, dihancurkan rata dengan tanah oleh Persia dan Yahudi di tahun 614 M. Sekitar 10 tahun kemudian, Kaisar Heraklius Romawi Bizantium kembali mengalahkan Persia, yaitu di tahun 627 M. (Kekalahan dan kemudian kemenangan Romawi atas Persia ini tepat seperti yang dikabarkan tujuh tahun sebelumnya dalam Al-Qur’an, Ar-Ruum/ 30:1-4).

4.      Akhir periode sesudah 1.335 hari (3.5 abad) dari periode 3.5 abad kedua (Daniel 12:12): yang disambut dengan: “Diberkatilah orang yang menanti-nanti dan mencapai 1.335 hari” (Daniel 12:12), yaitu sampai pada abad ke-7 M. Berkat ini datang seiring dengan kedatangan Khalifah Umar bin Khattab yang membebaskan Yerusalem dari Kristen Bizantium (638 M), dan mulai saat inilah datang Yerusalem baru, kerajaan Allah, Islam telah sampai di Yerusalem (Daniel 7:14, 22, 27). Beliau memberi kebebaskan bagi siapapun untuk memasuki Yerusalem, bahkan Khalifah Umar bin Khattab menempatkan lebih dari 70 keluarga Yahudi dari Tiberias untuk tinggal di kota Yerusalem (band. Wahyu: 12:6, 14).

Itulah Nubuat Daniel atas sampainya Islam di Yerusalem melalui Khalifah Umar bin Khattab, yang membawa berkah bagi bani Israel dan semua orang. Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu mewakili Islam atau Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sebagai “Ia yang adalah hakim datang, yang berhak atasnya, dan kepadanya akan Kuberikan itu. (Yehezkiel 21:27).

Nubuat Daniel inilah yang oleh Yesus untuk dipahami dan bagaimana menyikapinya, saat ia mengatakan kepada murid-muridnya di Bukit Zaitun (Matius 24:2,15).


Dari Nubuat Daniel ini semakin mengokohkan Nubuat dari Yesus sendiri, yang dikatakan kepada bani Israel Samaritan, bahwa akan datang waktunya bagi bani Israel harus tidak lagi menyembah Tuhan yang ada di gunung Gerizim Samaria ataupun di Moria Yerusalem; akan datang waktunya harus tidak lagi menyembah Tuhan tribal Israel, tapi harus menyembah Tuhan Internasional yang datang dari Arab (lihat Yohanes 4:21). 

Keselamatan dari Tuhannya Abraham untuk bani Israel yang awalnya datang melalui jalur khusus Ishak-Israel-Yahudi telah berakhir (lihat Yohanes 4:22; Matius 21:43).

Mene, mene, tekel Uparsin! Engkau telah dihitung, ditimbang dan ternyata kurang, maka harus menggabungkan diri untuk keselamatanmu melalui jalur internasional Ismael, mengikuti risalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Penggabungan jalur keselamatan dari Nabi Ishak-bani Israel-Yahudi kepada jalur keselamatan Nabi Ismael-Nabi Muhammad SAW, ini juga berarti sebagai penggenapan Zefanya (3:9), sehingga semua manusia tidak lagi hidup dalam kutukan menara Babel (Kejadian 11:1-9), tetapi bisa bahu membahu beribadah, menyembah kepada Tuhan Yang Satu, dengan arah dan bahasa yang sama dari seluruh dunia, berkiblat ke Ka’bah di Makkah dan dengan bahasa Arab.

Maka tepat sekali bila tergabungnya jalur keselamatan dari Nabi Ishak-bani Israel-Yahudi ini harus dikokohkan dengan pembangunan Masjid Al-Aqsa oleh Khalifah Umar bin Khattab (638 M), juga pembangunan Kubah Shakhrah (Dome of the Rock) oleh Khalifah Abdul Malik (691 M), di Al-Haram Asy-Syarif yang semua itu juga sebagai bentuk pemenuhan Nubuat dari Yesus dan para Nabi lainnya, sebagai keberkahan bagi bani Israel dan semua orang, sehingga bisa beribadah didalamnya berkiblat ke arah Ka’bah di Masjidil Haram di Makkah Al-Mukarramah.

Pembangunan Masjid Al-Aqsa ini juga sebagai penggenapan dari apa yang disampaikan Tuhannya Abraham melalui Nabi Zulkifli/ Yehezkiel, dimana Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu mewakili Islam atau Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sebagai: Ia yang adalah hakim datang, yang berhak atasnya, dan kepadanya akan Kuberikan itu.” (Yehezkiel 21:27).


Pembangunan Masjid Al-Aqsa telah mengokohkan pembangunan masjid yang kedua oleh Nabi Adam (40 tahun setelah Adam membangun Masjidil Haram, Makkah), yang kemudian oleh Nabi Ibrahim, Nabi Yakub, Nabi Daud dan Nabi Sulaiman. Jadi, dalam hal ini Masjid Al-Aqsa adalah Bait Suci ke-5 bila dihitung sejak dibangun oleh Nabi Adam. Dan beribadah di Masjid Al-Aqsa bernilai 500 kali lebih besar daripada di masjid umum lainnya.

Masjid Al-Aqsa dan Kubah Shakhrah sebenarnya juga bisa dipandang sebagai simbol dari Nabi Elia yang selalu ditunggu kedatangannya oleh setiap keluarga Yahudi saat perayaan Seder Passover. Hal ini karena bagaimanapun maksud dari keyakinan akan datangnya Nabi Elia adalah untuk mengingatkan supaya berserah diri pada Allah atau menjadi Muslim.

Jadi, untuk Yahudi tidak perlu lagi menghabiskan umur sia-sia dengan menunggu-nunggu kedatangan Nabi Elia, karena ia telah datang dan selalu ada untuk mengingatkan supaya mendekatkan diri pada Allah, bergumul dengan Allah, ber-israel, melakukan pergumulan batin, sehingga Ismael (Allah mendengarnya), memberi hidayah, sehingga tidak hanya sampai shema/ syahadat tauhid, asyhadu allaa ilaaha illallaah, tapi juga sampai pada syahadat risalah, wa asyhadu anna muhammadar rasuulullaah.

Adapun bagi Kristen, maka buanglah ajaran omong kosong, “periode tujuh tahun kesusahan besar”, adanya ajaran “jemputan Yesus” pre-tribulation, mid-tribulation, atau post-tribulation.

Daniel 9;27 sama sekali bukan untuk diterapkan kepada periode tujuh tahun kesusahan besar dimasa depan. Sebaliknya, masa nubuatan ini sudah dipenuhi di masa lampau, dua ribuan tahun yang lalu, dari abad pertama sampai abad ke-7. Oleh karena itu, baik yang beragama Yahudi maupun Kristen seharusnya bahkan telah beralih menjadi pemeluk agama Islam sejak abad ketujuh!


Islam Taslam
Wassalam!


Tidak ada komentar: