Kenapa Gandhi Membenci Kristen?


Kenapa Mahatma Gandhi Membenci Kristen? 
Secara singkat karena menurut beliau, orang Kristen itu munafik. 

I love your Christ but I hate your Christians because your Christians are unlike your Christ. 

Sebagai orang yang pernah membaca kehidupan Kristus dalam berbagai tulisan dari beberapa penulis Kristen terkenal dan juga sebagaimana disajikan dalam Alkitab, Gandhi mengagumi Khotbah di Bukit, yang mempengaruhi falsafah hidupnya. Beliau menganggap Yesus sebagai guru kemanusiaan. Melahirkan filosofi non-kekerasan Gandhi, Satyagraha.

Mahatma Gandhi
Filosofi Satyagraha berdasar tiga prinsip, yaitu: Kebenaran-Sat/ Satya, Nonviolence-Ahimsa dan penderitaan diri sendiri-Tapasya. (Khususnya Tapasya, didasarkan pada pandangan yang beranggapan bahwa Yesus dengan sukarela disalib, dibunuh, sengaja mati demi dunia; artikel yang membahas hal ini bisa di baca di sini). 

Beliau menjalani kehidupan seperti itu, dan berharap pula untuk melihat orang-orang Kristen menjalani kehidupan sampai pada standar ini. Ketika Gandhi tinggal dalam lingkungan orang Kristen di Inggris, Afrika Selatan dan India, maka beliau berharap akan melihat kualitas seperti cinta tanpa syarat, pengampunan, kerelaan berkorban, kelemahlembutan, etc. (sebagai kualitas Kristus). Gandhi jelas mengharapkan orang Kristen menjadi seperti Kristus, apalagi secara bahasa kata 'Kristen' berarti pengikut Kristus. 

Namun apa yang didapatnya justru berbanding terbalik. Dan quo terminus penolakannya tumbuh dari pengalaman beliau di Afrika Selatan. Ketika Gandhi ingin mengeksplorasi menjadi seorang Kristen, saat beliau menghadiri kebaktian di suatu gereja.   

Ketika beliau sampai di pintu gereja, penatua gereja berkata: "Anda pikir Anda di mana, kafir ... Tidak ada ruang untuk kafir di gereja ini. Keluar dari sini atau aku akan menyuruh asisten saya melemparkan Anda menuruni tangga".  


Mohandas Gandhi, pengacara muda
di Afrika Selatan, awal 1900-an
Jadi, dasar dari kebencian Gandhi kepada orang-orang Kristen, karena menurutnya mereka tidak seperti Kristus. Kristus yang dikenal oleh Gandhi. Menurutnya, Kristen, khususnya Kristen Barat, adalah sebagai pengkhianatan terhadap segala sesuatu yang Kristus berdiri diatasnya. 

Oleh karena itu ketika misionaris Kristen E. Stanley Jones bertanya: "Bapak Gandhi, meskipun Anda sering mengutip kata-kata Kristus, mengapa Anda tampak begitu tegas menolak menjadi pengikutnya (Kristen)?"

Maka Gandhi menjawab: "Oh, saya tidak menolak Kristus Anda. Saya suka Kristus Anda. Itu hanya karena begitu banyak dari Anda orang-orang Kristen tetapi sangat berbeda dari Kristus Anda".  

Lantas, benarkah penilaian Gandhi terhadap Yesus Kristus tersebut?  

Tidak! Itu hanyalah Yesusnya Gandhi. Yesus yang dibuatnya sendiri, Yesus yang dipetik sembarangan dari halaman Kitab Suci, semacam Jeffersonian Yesus, mengambil dan dipilih dari catatan hidupnya. Dia jelas tidak mengacu pada Yesus yang benar dan lengkap, yang terungkap dari halaman pertama sampai terakhir dari Alkitab. 

Gandhi tidak mengacu pada Yesus yang mengatakan: Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang orang seisi rumahnya. (Matius 10:34-36; lihat pula Lukas 12:51-53).

Yesus sebagai orang baik, Yesus sebagai guru, Yesus yang moralis, mungkin, tetapi tidak pernah Gandhi mengacu pada Yesus yang berkata: Akan tetapi semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah mereka ke mari dan bunuhlah mereka di depan mataku. (Lukas 19:27). Bukan mengacu pada Yesus yang akan datang dengan berlidah pedang penghakiman, atau Yesus yang memerintahkan genosida tanpa batas dalam Perjanjian Lama (sebagai konsekuensi adanya keyakinan Trinitarian yang menganggap Yesus sebagai Tuhan!).

Gandhi hanya mengarang Yesus yang dibuatnya sendiri dan menyatakan kasih sayangnya hanya untuk karakter fiksi. Dia tidak pernah menyukai hal yang nyata.  

Gandhi memiliki kesalahpahaman mendasar untuk dirinya dan seluruh umat manusia. Gandhi tidak diragukan menyukai cara bahwa Yesus terkait dengan kaum tertindas dan kekurangan. Yesus yang dia suka pasti Yesus yang akan mencintai dan menerima dia sama seperti dia dan bukan Yesus yang menyatakan bahwa bahkan orang sebaik dia adalah musuh Tuhan.  

Yesus mengucapkan kata-kata baik dan melakukan perbuatan yang besar, ia menghibur dan menyembuhkan dan memberikan harapan dan masa depan. Tapi tidak untuk semua orang. Yesus juga memiliki kata-kata kasar dalam cacatan Alkitab, untuk para elit agama, mereka yang menyatakan bahwa mereka adalah suci, bahwa mereka memahami sifat Allah, bahwa mereka telah mencapai semacam pencerahan. Pada mereka yang membantah ajarannya, bahkan berusaha membunuhnya. Yesus tidak memiliki cinta untuk orang-orang seperti itu, bahkan ia menganggapnya sebagai orang degil, keturunan ular beludak, sebagai anak-anak iblis. 

Orang-orang seperti itu tidak mencintai Yesus. Mereka mungkin mencintai Kristus yang dibuat oleh Gandhi, tetapi mereka membenci yang asli. Yesus ini, Yesus dari Alkitab, akan menegur Gandhi seperti ketika ia menegur para pemimpin Yahudi pada zamannya, orang-orang yang memimpin orang-orang berjalan di belakang mereka di jalan menuju neraka. Seperti mereka, ia yakin pada kebaikan sendiri, pada kelayakan sendiri. 

Ups.. sebelum lupa (dan Anda para pembaca bertambah panas di kepala), harap diketahui bahwa itu bukan pendapat saya sendiri atas Gandhi dan Yesus, tetapi merupakan kata-kata yang semakna dari Tim Challies, seorang pendeta di Grace Fellowship Church, di Toronto, Ontario, dan co-founder dari Cruciform Press.  

Dan lantas, bagaimana bila Gandhi mengetahui ajaran Kristen yang utuh seperti ini?  Apakah beliau, bahkan akan membenci 'agama' Kristen!?
Bagaimana pula bila pengetahuan beliau tentang kekristenan sudah seperti Bart D. Ehrman?
 
Dan setelah Thomas Merton menerapkan ide Gandhi, dimana Gandhi menyarankan: "Kalian orang Kristen, khususnya misionaris, harus mulai hidup lebih seperti Kristus. Seharusnya Anda menyebar lebih banyak Injil kasih dan Anda harus mempelajari agama non-Kristen untuk memiliki pemahaman yang lebih simpatik dari agama mereka".  

Kemudian pada saat ini, dimana para misionaris melakukan kristenisasi dengan mengenalkan Yesusnya Gandhi, dengan ajaran 'kasih' (yang utopia), yang seringkali di kontraskan dengan ajaran Islam dengan tujuan untuk mendiskreditkan bahwa Islam sebagai agama yang keras, bukan agama damai (tentunya dengan menukil ayat Qur'an diluar konteks), maka bukankah ini sebuah bentuk kemunafikan lainnya??

^_^ Isha Merdeka

Tidak ada komentar: