Miskonsepsi Trinitas Dalam Al-Qur'an... Benarkah?


Pendahuluan 
Di antara keunggulan Islam adalah apabila berada pada posisi dicerca, dihina, dan dimarginalkan maka yang terjadi justru sebaliknya. Semakin Islam disudutkan maka semakin terlihat kebenaran ajaran dan kesesuaiannya dengan fitrah manusia. Agama ini memiliki kemampuan berinteraksi dengan manusia dari berbagai kalangan menurut kadar akalnya masing-masing. Mungkin inilah rahasia mengapa Islam selalu berhasil menundukkan peradaban yang memusuhinya. Terbukti di sejumlah negara seperti Amerika, Inggris, Belanda, dan negara Barat lainnya yang mengalami kondisi kekosongan spiritual, mulai menunjukkan geliat sebagian penduduknya menuju Islam. Munculnya kartun berisi penghinaan terhadap nabi di surat kabar Jylland Posten atau beredarnya film Fitna yang menghujat Islam hanya merupakan percikan kecil di antara kekhawatiran akan menguatnya syariat Islam di belahan dunia Barat.

Barat juga telah memunculkan sejumlah karya tulis yang menunjukkan kecemasan yang sama. Di antaranya adalah karya Robert Morey bertitle "Islamic Invasion: Confronting the World's Fastest Growing Religion". Dari judulnya saja telah nampak sebuah wajah "ketakutan" (juga pengakuan cepatnya perkembangan Islam, red). Hatta (meskipun) buku tersebut dikemas dengan "bergaya" sebagai karya tulis ilmiah, namun senyatanya isinya tidak seilmiah kemasannya. Motif kebencian dan Islamophobia sedemikian menyeruak dan nampak berpengaruh terhadap obyektifitas kajian, tentu saja jika Barat masih mau berfikir tentang subyektif, obyektif, atau pun netralitas. Tidak mengherankan jika sejumlah kalangan muslim meminta buku tersebut dibredel dari peredaran. Namun menurut hemat penulis tindakan demikian kurang bijaksana. Justru buku tersebut merupakan sebuah simbol, asset, dan bukti monumental "kebencian" Barat yang katanya humanis. Fungsinya sebagai salah satu pijakan untuk melihat salah satu struktur dan pola pikir Barat dalam melihat Islam. Pada giliran selanjutnya membalikkan keadaan dan akan semakin nampak keunggulan konsep Islam di antara yang lain.

Dalam salah satu tulisannya, Morey mempermasalahkan posisi Maryam dalam Al-Qur'an Surat Al-Maidah ayat 73-75 dan 116. Al-Qur'an, dalam pandangan Morey, mengandung kesalahan konsep dalam mengungkapkan doktrin trinitas Kristen. Muhammad, tulis Morey, secara keliru menganggap bahwa umat Nasrani menyembah 3 (tiga) tuhan yaitu: Bapa, Ibu (Maryam), dan Anak (Isa).[1] Guna memperkuat argumentasinya, Morey juga mengutip pendapat Richard Bell dan Encyclopaedia Britanica yang menegaskan bahwa Al-Qur'an memiliki kesalahan konsep tentang trinitas dan Muhammad sebagai penulis Al-Qur'an kurang memahami hal tersebut.[2] Morey menambahkan bahwa umat Kristiani tidak pernah mengimani tiga Tuhan dan Maria bukan merupakan salah satu oknum dalam ketuhanan Trinitas sebagaimana konsep dalam Al-Qur'an. Morey sendiri nampaknya telah menjadi sedemikian yakin dengan argumentasinya yang didukung oleh sejumlah 'kebingungan' penulis dari kalangan Islam tentang tafsir ayat tersebut.

Lantas, benarkah Al-Qur'an telah salah ketika menyebutkan bahwa Maryam pernah disembah sebagai tuhan?

Fakta Yang Dilupakan
Ayat Al-Qur'an yang dipermasalahkan oleh Robert Morey adalah Surat Al-Maidah ayat 73 sampai 75 sebagai berikut :

73. Sungguh, telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa azab yang pedih.

74. Mengapa mereka tidak bertobat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

75. Al-Masih putera Maryam hanyalah seorang Rasul. Sebelumnya pun sudah berlalu beberapa rasul, dan ibunya seorang yang berpegang teguh pada kebenaran. Keduanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) kepada mereka (ahli Kitab), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka dipalingkan (oleh keinginan mereka).

Juga ayat dalam Al-Qur'an Surat Al-Maidah ayat 116 sebagai berikut:

116. Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam! Adakah kamu yang mengatakan kepada orang-orang, jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?". (Isa) menjawab, "Maha Suci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakan tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu. Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib."

Permasalahan pertama yang akan penulis bahas terkait dengan konsep penyembahan terhadap Maryam dalam dunia Kristen. Robert Morey secara tegas telah menolak posisi Maryam sebagai salah satu Tuhan dan salah satu oknum ketuhanan trinitas. Nampak bahwa Morey telah mempersulit dirinya sendiri pada tahap awal dengan menempatkan relasi antara penuhanan Maryam dengan keanggotaannya sebagai salah satu oknum trinitas.

Senada dengan Morey, Geoffrey Parrinder menyatakan bahwa ayat Al-Qur'an Surat Al-Maidah ayat 116 adalah sulit dipahami dalam kekristenan. Menurut Parrinder pada abad V, Nestorius, seorang bangsawan Konstantinopel, telah memprotes penggunaan gelar "ibu Tuhan" (theotokos, god-bearer) yang berkembang dan diterapkan kepada Maryam. Nestorius menyatakan, seharusnya digunakan kata 'ibu manusia' Yesus (anthropotokos); ibu Kristus (cristo-tokos). Nestorius juga tidak bersedia mengakui penggunaan frase seperti itu yang berarti bahwa "Tuhan telah dilahirkan" dan "Tuhan telah mengalami penderitaan" sebagaimana banyak digunakan pada hari ini. Nestorius mengajarkan bahwa Yesus adalah organ bejana dan kuil bagi anak Tuhan. Karena pemahaman inilah maka gereja Nestorian akhirnya terpisah.[3]

Bambang Noorsena, tokoh Kristen Orthodoks Syria, nampaknya juga memberikan pengakuan bahwa bentuk pseudotrinity yang terdiri dari Allah, Isa, dan Maryam adalah sebuah realitas yang pernah terjadi. Namun Noorsena membatasi bahwa reaksi Al-Qur'an yang kerap kali kritis terhadap sejumlah keyakinan Kristen, tidak semua didasarkan atas kekristenan yang orthodoks. Penilaian Islam tentang Kristen, menurut Noorsena, tidak ditujukan pada kekristenan yang lurus dan benar, namun lebih ditujukan kepada praktik-praktik sekte-sekte Kristen yang sesat dan menyimpang (heterodoks).[4] Hakikatnya, Noorsena mengakui bahwa praktik penuhanan terhadap pribadi Maryam bukanlah sebuah omong kosong, namun merupakan fakta historis.

Sebagai sebuah realitas historis, sisa-sisa penyembahan terhadap Maryam masih dapat ditemukan hingga hari ini. Di sejumlah wilayah Eropa, termasuk Polandia, bahkan Inggris Raya dan Perancis Selatan, menurut survey yang dilakukan oleh Ean Begg pada tahun 1985, masih ditemukan patung bunda Maria yang berwarna hitam yang dikenal dengan sebutan black virgin atau Black Madonna.[5] Patung tersebut sengaja dibuat untuk dipuja atau disembah sebagai tuhan. Bahkan patung-patung tersebut selalu diasosiasikan dengan sejumlah situs pemujaan kaum pagan dari masa yang jauh lebih kuno.[6] Ditengarai bahwa penyembahan terhadap pribadi Maria merupakan hasil proses adopsi dan perkembangan dari pemujaan terhadap sejumlah dewi

Dalam kebudayaan paganisme dikenal Bacchus (Dionysius) yaitu dewa matahari Yunani yang lahir dari kandungan seorang perawan bernama Demeter yang mengandung dari benih Dewa Jupiter tanpa hubungan badan. Bacchus lahir pada tanggal 25 Desember dan terbunuh untuk menebus dosa manusia. Dikisahkan pula bahwa Bacchus kemudian bangkit kembali dari kematiannya.[7]

Bangsa Mesir juga mengenal Osiris, dewa matahari yang lahir pada 25 Desember dari kandungan seorang perawan yang disebut ’Perawan Dunia’. Osiris memiliki 12 orang murid. Salah satu muridnya yang bernama Typhone berkhianat hingga menyebabkan kematian Osiris. Setelah bersemayam selama tiga hari dalam kuburnya, Osiris bangkit kembali dari kematiannya. Ia diyakini sebagai inkarnasi Tuhan dan merupakan salah satu dari oknum trinitas 3 Dewa di Mesir.[8]

Demikian juga dalam cerita mithologi yang lain tersebutlah Mithra yang lahir pada tanggal 25 Desember. Memiliki pemujaan yang dilakukan setiap hari Minggu. Mithra adalah seorang juru selamat yang menebus dosa manusia. Dia tidak disalib namun mengurbankan lembu suci yang darahnya mensucikan dan menebus dosa manusia. Lembu itu tidak lain adalah inkarnasi dari sang Mithra sendiri. Perayaan Mithra biasanya ditandai dengan keberadaan pohon terang.

Penyembahan terhadap sosok ibu Tuhan umumnya terjadi dalam kepercayaan pagan yang disebutkan di atas. Masing-masing wilayah penyembah paganisme memiliki Tuhan Ibu dan Anak. Di Jerman, Hertha disembah sebagai ibu suci dengan anak dipangkuannya. Di Scandinavia, Disa disembah sebagai tuhan ibu dengan anak dipangkuannya juga. Sedangkan di Romawi purba, Venus atau Fortuna juga dipuja sebagai tuhan Ibu bersama Jupiter anaknya.[9]

Ralph Edward Woodrow dalam buku Babylon Mysteri Religion mengutip buku Frazer, The Golden Bought Volume 1 Halaman 356 menjelaskan fakta bahwa penyembahan terhadap Tuhan Ibu dan Tuhan Anak telah menyebar dan merasuk kepada masyarakat kerajaan Romawi dan sekitarnya. Hal tersebut diungkapkan oleh Woodrow sebagai berikut:

"The Worship of Great Mother … very popular under the Roman Empire, unscriptions prove that the two (the mother and the child) receive divine honors, … not only in Italy and especially at Rome, but also in the provinces, particularly in Arican, Spain, Portugal, France, Germany, and Bulgaria".[10]

Akibatnya bisa dipastikan, penyembahan Tuhan Ibu dalam Kristen tidak dapat dihindari setelah para penyembah berhala dari Romawi, Yunani, Babilonia, dan Mesir memeluk ajaran Kristen. Dalam agama barunya tersebut para mantan penyembah berhala tidak mendapatkan penyaluran yang sesuai dengan semangat penyembahan Tuhan Ibu. Padahal mereka belum dapat sepenuhnya meninggalkan ajaran paganisme. Woodrow menulis bahwa kompromi pun terjadi, pihak gereja mencarikan padanan terhadap figure ibu yang disembah oleh kaum mantan kaum pagan dalam khazanah kekristenan. Tuhan Ibu yang dimaksud tidak lain adalah Maria, Ibu Yesus.

"One of the best example of such a carry over from paganism may be seen in the way the worship o the great mother continued – only in a slightly different form and with a new name. You see many pagans had been drawn to Christianity, but so strong was their adoration for the mother goddess, they did not want to forsake her. Compromising church leaders saw that if they could find some similarity in Christianity with the worship of the mother goddess, they could greatly increase their numbers … but who could replace the great mother of paganism ? Mary, of course was the most logical person for them to choose … little by little, the worship that had been associated with the pagan mother was transferred to Marry".[11]

Maka tidak mengherankan pasca munculnya kritik Nestorius yang menolak istilah "bunda Tuhan", gereja justru mengukuhkan posisi Maria sebagai Theotokos atau Ibu Tuhan dalam Konsili Efesus tahun 431 M. Salah satu butir yang dihasilkan dalam konsili tersebut adalah sebagai berikut: "Menurut pengertian bahwa kesatuan ini tidak mencampur adukkan, kami mengaku bahwa anak dara kudus adalah theotokos (bunda Allah), karena Allah Firman menjelma menjadi manusia dan sejak pembuahan-Nya menyatukan pada diri-Nya bait yang diambil daripadanya (Maria)".[12]

Berdasarkan informasi Ibnu Patrick, seorang sejarawan dan padri Kristen, menjelang Konsili Nicea 325 M dari jumlah peserta keseluruhan 2.048 orang terdapat sebagian peserta dari mahzab Mariamites dan Remitim yang berpendapat bahwa Yesus dan Ibunya adalah 2 (dua) Tuhan selain Bapa.[13] Selain itu terdapat aliran Ebionit yang secara jelas juga memuja Maria sebagai Tuhan Ibu. Penganut aliran Ebionit dikenal sebagai aliran yang para penganutnya menggunakan bulu domba sebagai pakaian. Bulu domba tersebut dikenakan agar mereka dapat hidup dalam kesederhanaan. Dalam hal ini tradisi mereka mengenakan kulit domba sebagai pakaian mirip dengan tradisi kaum sufi generasi awal dalam Islam yang menutamakan kezuhudan. Gambaran tentang cara berpakain kaum Ebionit ini dapat kita lihat kemiripannya dengan kisah Perjanjian Baru dalam Ibrani 11: 37.

Tentang apakah penyembahan terhadap Maria adalah bentuk kekristenan heterodoks yang menyimpang maka biar waktu yang akan menentukan. Sebab sejumlah pertarungan keyakinan yang mendasar dalam dunia Kristen bahkan belum selesai hingga hari ini. Sebut saja pertarungan antara kaum Trinitarian dan Unitarian. Satu pihak mengakui trinitas dengan sejumlah argumentasinya dan dipihak lain menolaknya dan menganggap bahwa Yesus hanya seorang nabi dan bukan Tuhan. Sedangkan bagi seorang penganut Kristen, terkait masalah penyembahan dan Ketuhanan Maria tentu akan lebih menguntungkan jika hal ini terhapus saja dari ingatan sejarah. Masalah trinitas yang diakui mayoritas dunia Kristen hari ini juga bukan tanpa cacat sejarah. Konsili Nicea pada 325 Masehi, menurut informasi Ibnu Patrick, dihadiri oleh 2.048 orang peserta yang terdiri diri para uskup. 318 (tiga ratus delapan belas) orang diketahui sebagai pendukung konsep ketuhanan Yesus. Sedangkan 700 (tujuh ratus) orang uskup merupakan pendukung Arius yang menolak hakikat ketuhanan Yesus, dan sisanya memiliki sejumlah kepercayaan yang berbeda termasuk yang mempercayai Ketuhanan Maria. Namun, anehnya berkat prakarsa Kaisar Konstantin, hanya pendapat 318 orang (pendukung ketuhanan Yesus) tersebut yang kemudian dimenangkan. Jelas kaisar Konstantin telah memerankan agenda politik pribadinya dengan sukses.

Lantas dimana letak kesalahan atau miskonsepsi Al-Qur'an tentang 
trinitas Kristen?

Al-Qur'an jelas dalam ayat tersebut tidak membahas tentang trinitas. Hal tersebut hanya merupakan bagian dari upaya Robert Morey dalam menyudutkan Islam. Namun jawaban atas pertanyaan "apakah Al-Qur'an telah salah?" jawabannya adalah "Tidak !". Justru kehebatan Al-Qur'an adalah mampu memberikan isyarat bagi pengungkapan kebenaran sejarah, dimana dunia pun telah berusaha secara maksimal untuk melupakannya.

Penutup
Tuduhan Robert Morey bahwa Al-Qur'an memiliki kesalahan konsepsi tentang trinitas terbukti tidak benar. Konsep Trinitas dalam dunia Kristen sendiri mengalami perkembangan dari masa ke masa termasuk bersentuhan dengan sejumlah peradaban dan kepercayaan lainnya. Kebenaran lain yang terungkap justru terletak pada ketidakbenaran pemahaman Morey terhadap sejarah agamanya sendiri. Sehingga bukunya "Islamic Invasion" sering diwarnai dengan pemahaman yang tidak berdasar. Sebuah pemikiran yang hanya lahir didasarkan pada kebencian fanatis yang menutup semua bentuk akal waras. [by: Susiyanto].
[1] Robert Morey. Islamic Invasion : Confronting the World's Fastest Growing Religion. (Christian Scholar Press, Las Vegas, 1992). Hal 185
[2] Robert Morey. Ibid. Hal. 186
[3] Geoffrey Parrinder. Yesus dalam Quran. (Terj. oleh Ali Masrur, ett. all). (Bintang Cemerlang, Yogyakarta, 2002). Hal. 88
[4] Bambang Noorsena. Menuju Dialog Teologis Kristen-Islam. Cetakan IX. (Penerbit Andi, Yogyakarta, 2001). Hal. 6-7
[5] Burton L. Mack. The Lost Gospel: The Book of Q and Christian Origins. (Element Books, Shaftesbury, 1994). Hal. 51 dalam Lynn Picknet and Clive Prince. The Templar Revelation: Secret Guardians of The True Identity of Christ. Edisi Indonesia: The Templar Revelation : Para Pelindung Sejati Identitas Kristus. (Bantam Press, 1997). Terjemah oleh FX Dono Suhadi. Cetakan II. (Serambi, Jakarta, 2006). Hal. 121
[6] Lynn Picknett dan Clive Prince. Ibid. Hal. 33
[7] Rationalist Encyclopedia. Artikel tentang Attis dalam Dr. Hamid Qadri. Kristen dan Agama Berhala. (Modus Vol. 1 No. 9 Th. II/2004). Hal. 46
[8] Rationalist Encyclopedia. Artikel tentang Attis dalam Dr. Hamid Qadri. Ibid. Hal. 46
[9] Tim Redaksi. Tuhan Ibu dan Ibu Tuhan. (Modus Vol. 1 No. 5/Th. II/ 2004). Hal. 25
[10] Tim Redaksi. Ibid. Hal. 26
[11] Tim Redaksi. Ibid. Hal. 28
[12] Tony Lane. The Lion Concise Book of Christian Thought. (Lion Publishing, England, 1984). Edisi Indonesia: Runtut Pijar Pemikiran Kristiani. Terjemah oleh Conny Corputy. (BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1990). Hal. 47
[13] Prof. Sjech Abuzahrah. Muhadlarat fi an Nasrabiyah. Edisi Indonesia: Tindjauan Tentang Agama Masehi. (AB. Sitti Sjamsijah, Surakarta, 1969). Hal. 140. Juga DR. Rauf Syalabi. Ya ahl al Kitab Ta'alaw ila kalimat sawa'. Edisi Indonesia: Distorsi Sejarah dan Ajaran Yesus. (Pustaka Alkautsar, Jakarta, 2001). Hal. 127.
 

4 komentar:

MS/Maritha mengatakan...

I have removed the wrong thing when U told me that it was wrong about the pict of child that a man stamped on to and that killed the child. U are spreading a lot of false things Urself and that makes U, not being better than I. So take Ur time to see what U really write to missleading both Urself and others. Maritha.

Isha Merdeka mengatakan...

Thank U Maritha, have removed “bni share slander”. I hope everyone who has share it (from BNI, Atlas Shrugs, etc.), get wise as you are.

Actually, I also visited some of the commentators on BNI can I reach and commenting like as I said unto you. To Derek Adams, Vinny, and cowboyrabbi- Rabbi D.R. Jerkins, who says in BNI (03/13/2012;12:53am):
Shalom,
I have a midnight service in 10 minutes.
That photo.
Mere words can never suffice.
Thank you for sharing the truth, no matter how painful.
I have changed the topic for my sermon tonight.

Hopefully he would rectify the previous sermons inspired from it, of course if he's wise as you.

Also to Wot the (BNI visitor), which has an open mind, quite critical of such pictures, (where the admin BNI troubled to cover lies about the picture) have to know what the actual image.

And I have posted about their slander against Islam and Indonesia here: http://ishamerdeka.blogspot.com/2012/03/seorang-muslim-indonesia-menginjak.html

I wish you and your friends to read and comment on it.

Please tell me, what you think a mistake of any article that I posting specifically, so we can “heal the world”. Any comments not moderation, except on a post which has more than six days. Thank4U

Anonim mengatakan...

Salam,

Saya hanya orang kristen biasa yang tertarik membaca artikel2 mengenai kekristenan. Saya membaca artikel bapak dan merasa saya perlu berkomentar.

Menurut saya, artikel bapak bagus namun agak kurang relevan. Trinitas memang pernah dipahami sebagai Bapa, Ibu dan Anak, tapi oleh siapa dan pada zaman kapan? Hal ini perlu dipahami dahulu. Teologi (pemahaman terhadap agama) harus sesuai dengan kitab sumbernya, dan konsep Bapa-Ibu-Anak sama sekali tidak sesuai dengan alkitab. Bahwa konsep ini pernah populer di kalangan katolik tidaklah mengherankan, berhubung selama berabad-abad gereja katolik memberikan fokus yg jauh lebih besar pada tradisi romawi gereja dan kekuasaan imperial daripada isi alkitab. Namun, bagi orang kristen sejati yg percaya pada prinsip "sola scriptura", maka Trinitas adalah Bapa, Anak (Firman), Roh Kudus, dan inilah yang merupakan "Mainstream" bagi segenap umat kristen, termasuk pak Noorsena. Kenyataannya, semenjak Martin Luther dan Gutenberg mencetak dan mengedarkan alkitab tahun 1450-an (sebagai protes terhadap kesewenangan gereja katolik), sudah bukan keputusan konsili Nicea tahun 325 lagi yang mendikte arus kepercayaan kekristenan modern, namun pemahaman setiap orang percaya yang membaca kitab2 injil.

Nah, terhadap pemahaman Trinitas yang murni ini: Bapa, Putra (Firman), dan Roh Kudus, bagaimana pendapat al-Qur'an dan para ulama? Menurut saya ini lebih relevan. Terima kasih telah membaca komentar saya, semoga saya bisa mendapatkan penjelasan, terima kasih..

Isha Merdeka mengatakan...

Sebenarnya dalam artikel di atas pun sudah di jelaskan oleh siapa dan kapan bahwa Trinitas sebagai Bapa, Ibu dan Anak, menjadi suatu paham, sebagai fakta historis yang ada dalam kekristenan. Sayangnya banyak orang Kristen yang kurang memahami sejarahnya atau bahkan ada yang berusaha menutupi fakta sejarah ini dan selanjutnya diarahkan untuk menuduh bahwa telah terjadi miskonsepsi tentang Trinitas dalam Al-Qur'an. Dan Al-Qur'an sendiri sebenarnya tidak membicarakan konsepnya, tetapi lebih ke "pribadi-pribadi" dari Trinitas.

Dan Bunda Maria sebagai person dari Trinitas yaitu sebagai Tuhan Ibu, selain keberadaannya telah dikemukakan dalam artikel di atas, sebenarnya Paus Benediktus XVI pada tanggal 23 Mei saat berbicara dari jendela apartemen kepausan yang menghadap Lapangan St. Peter, pun masih meninggikan Maria dengan sifat-sifat ilahi. Ia mengatakan bahwa "tidak ada Pentakosta tanpa Maria" dan mengklaim bahwa "dia [Maria] ada di semua tempat di setiap waktu" ("No Church without Pentecost, no Pentecost without Mary," EWTN News, 23 Mei 2010).

Adapun pandangan Al-Qur'an terhadap Trinitas yang "murni" maka sangat jelas bahwa Al-Qur'an menolak person Yesus sebagai Tuhan. Hal ini ada dalam surah Al-Ma'idah (5: 72), yang artinya: Sungguh, telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam." Padahal Al-Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu." Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu. Person Roh Kudus pun di tolak secara tersirat dalam kata 'mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah' dalam ayat tersebut.

Terima kasih.